Bersimbol Banteng Budeg, Banteng Raiders Prajurit yang Tak Takut Peluru

user
danar 15 Januari 2022, 06:10 WIB
untitled

ADA yang menarik dari pertemuan para Veteran Perang RI 'jebolan' Batalyon Banteng Raiders saat memperingati HUT LVRI Ke-65 di lapangan Andini Yonif Raider 400/Banteng Raiders, Rabu (12/1/2022).

Mereka yang bertemu antara lain sesepuh Banteng Raiders Brigjen TNI Purn Harry Cokro, Kol Purn H Bambang Priyoko SIP, Letkol Purn Sukiran dan beberapa lainnya.

Para pensiunan TNI AD tersebut mengenang betapa rekasa-nya (susah) menjadi prajurit pasukan Batalyon Infanteri Banteng Raiders. Namun demikian mereka juga bangga sebangga-bangganya menjadi bagian dari Banteng Raiders yang didirikan oleh Jenderal Anumerta Ahmad Yani.

"Kami ini adalah banteng-banteng pertempuran. Dulu dididik dengan doktrin sangat keras dan kuat. Bahkan simbol Banteng Raiders dulu adalah kepala Banteng tanpa telinga. Orang sering menyebut Banteng Budeg. Ini ada artinya, bahwa kami di setiap pertempuran tidak pernah mendengarkan desing peluru lawan. Kami budeg sehingga kami tidak pernah takut untuk maju. Doktrin kami adalah pertempuran jarak dekat. Doktrin Pak Yani tidak pernah ada kata-kata mundur dalam pertempuran. Makanya hanya kami yang berlatih dan dilatih dengan menggunakan peluru tajam," kenang Bambang Priyoko, yang sekarang menjabat sebagai Kepala Markas Cabang LVRI Kota Semarang.

Bambang juga mengenang ketika lulus Akmil berpangkat Letnan Dua, ditempatkan sebagai perwira muda di Banteng Raiders yang bermarkas di Srondol Semarang. Bambang merasakan betul saat itu hukumnya wajib mengikuti kegiatan tradisi prajurit Banteng Raiders.

"Saat itu saya belum ada artinya di hadapan prajurit Banteng Raiders, termasuk di mata Prada, karena saya belum ikut tradisi. Meski saya perwira calon pemimpin mereka, saya dipanggil gudhel atau anak kerbau. Tapi setelah lulus tradisi yang cukup berat naik Gunung Ungaran dan melintasi Hutan Medini, baru saya menjadi bagian Banteng Raiders dan memiliki ikatan kuat hingga kini," kenang Bambang.

Anak buah Bambang Priyoko yang hingga kini mendampinginya sebagai Wakil di Macab LVRI Kota Semarang adalah Letkol Purn Sakiran. Sakiran merupakan rekan satu angkatan masuk Bateng Raiders. Namun kala itu Sakiran dari Tamtama berpangkat Prajurit Dua. "Sama-sama satu strip. Saya strip kuning satu, dia strip merah satu di lengan. Tapi saya sangat salut pada dia karena sebagai anak buah kala itu memiliki disiplin dan jiwa korsa yang luar biasa. Setiap tugas yang diberikan padanya selalu beres dan berhasil. Hingga dari tamtama bisa mencapai perwira menengah berpangkat Letnan Kolonel," terang Bambang Priyoko.

Sukiran juga berkisah tentang keberhasilan pasukan Banteng Raiders yang diterjunkan di Timor Timur. Mampu menggempur musuh dan menguasai wilayah melalui serangan lintas udara.

Bambang mengaku bangga kala itu turut serta dalam pertempuran lintas udara terbesar dalam sejarah Indonesia. Meski dalam pertempuran sempat terkena ledakan ranjau yang membuat tangan kanannya harus diamputasi.

Bagi Bambang, tak ada kata penyesalan menjadi prajurit Banteng Raiders. Sampai saat ini kebanggaan itu masih melekat. Termasuk karena kenangan putra pertamanya lahir dari rumah G-9 yang ada di dalam Markas. Dan putranya tersebut kini menjabat sebagai Asisten Intel (Asintel) Kasdam IV Diponegoro.

Hal sama juga diungkapkan oleh Para mantan Banteng Raiders seperti Kuwadi, Herbudi, Agus Mulyadi, Suwanto, Bambang dan lainnya.

Tidak ada kata penyesalan menjadi prajurit yang ditempa siang malam dengan penuh tekanan disiplin. Yang ada adalah kebanggaan karena hal tersebut sebagai bekal pengabdian kepada bangsa dan negara.

Yang tersisa di tengah raga yang mulai uzur adalah semangat Banteng Raiders, yakni "Pantang Mundur". (Cha)

Credits

Bagikan