Puluhan Tahun Seorang Nenek Jadi Penambang Pasir di Lereng Merapi

user
Ary B Prass 21 Desember 2021, 20:57 WIB
untitled

BELASAN ibu-ibu rumah tangga warga Lereng Gunung Merapi, rela jadi penambang pasir. Untuk mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga dengan menjadi penambang pasir atau pencari batu di alur sungai Gandul, hanya menggunakan alat yang sangat sederhana.

Status siaga Merapi dan hujan deras tak membuat ibu-ibu penambang pasir berhenti beraktifitas. Ancaman lahar dingin dan tebing longsor sewaktu-waktu bisa terjadi dan mengancam keselamatan mereka. Namun, mereka tidak ada pilihan lain maka mereka hanya mengandalkan tanda-tanda alam bila bencana itu akan datang.

Yayuk (65) seorang ibu rumah tangga warga Desa Jelok, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah sudah belasan tahun menjadi penambang pasir manual. Dengan menggunakan cangkul kecil dan skop serta saringan pasir, ia mengambil pasir dan batu dari bawah sungai yang cukup berbahaya. Panas terik matahari tidak menghalangi dalan mencari nafkah.

Setiap hari, Yayuk bersama belasan ibu-ibu lainnya mencari pasir dengan menuruni sungai dan membawanya ke atas dengan cara digendong. Dalam sehari mereka (ibu-ibu) mendapatkan hasil yang tidak menentu antara Rp 40.000 hingga Rp 50.000.

" Sudah 18 tahun saya mencari pasir, setiap hari penghasilan tidak menentu, kadang dapat kadang enggak dapat rejeki," kata Yayuk, ditemui disela-sela kesibukannya mencari pasir, Selasa (21/12/2021).

Yayuk mengaku nekat menambang pasir lantaran menjadi sumber pendapatan utama, jika tak mendapat penghasilan dari menambang pasir merasa susah.

" Kalau gak bambang gak dapat uang, dari dulu kerjanya seperti ini. Meski hujan kami tetap cari pasir, kalau banjir baru pulang,"

Yayuk berpesan kepada para kaum perempuan agar tetap mendapatkan penghasilan dan terus bersemangat berkarya dan paling penting terus diberi kesehatan di saat pandemi ini." ujarnya. (M-2)

Credits

Bagikan