Kisah Pejuang Soemardi, Amankan Presiden RIS Hingga Ledakkan Jembatan Kali Bedog

user
ivan 15 Agustus 2021, 07:32 WIB
untitled

SETIAP menjelang peringatan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 76 tahun silam, ingatan R Soemardi (95) selalu melayang pada peristiwa 72 tahun lalu saat merebut kemerdekaan dari Belanda dalam Serangan Oemoem 1 Maret 1949 di Yogyakarta. Kala itu Soemardi bergabung dalam Satuan Polisi Tentara (PT) yang sekarang dikenal sebagai Polisi Militer.

Perjuangannya diawali organisasi kepemudaan yang berjuang untuk kemerdekaan di era penjajahan Jepang. Baru setelah Proklamasi Kemerdekaan dan Belanda mulai menguasai kembali Indonesia, Soemardi bergabung dalam BKR dan pada pembentukan Tentara Republik Indonesia masuk dalam kesatuan Polisi Tentara.

Pria kelahiran Kampung Jlagran Yogyakarta, 17 Mei 1926 (di data administrasi 1929) ini dibesarkan dalam Benteng. Awal keterlibatannya ikut memanggul senjata karena tertarik dengan penampilan saudara sepupunya bernama Sumaryadi tinggal di Desa Mejing Gamping, Sleman.

"Saat itu saya yang masih usia belasan melihatnya gagah. Berpakaian tentara dengan peci dan baret serta membawa senjata. Akhirnya saya bisa bergabung BKR dan masuk satuan Polisi Tentara di Kompi 26. Di Yogya saat itu ada Denpom dan Kompi 26 Polisi Tentara. Kompi ini terlibat dalam operasi-operasi pendukung pertempuran termasuk Serangan Oemoem 1 Maret 1949. Saat itu Serangan Oemoem berhasil menurunkan moril pasukan Belanda. Pertempuran ada di mana-mana untuk merebut Yogyakarta. Banyak korban di kita karena persenjataan tidak berimbang," kisah Soemardi di rumahnya Jalan Tamtama Raya No 166 Jangli Tembalang Semarang, Sabtu (14/08/2021).

Pengakuan Soemardi, saat itu dia ditugaskan bertempur di Sektor Barat Yogyakarta. Bahkan pertempuran melebar karena tekanan tentara Belanda menurutnya sangat luar biasa. Dalam ingatannya, Soemardi pernah mendapatkan tugas meledakkan dinamit dalam operasi penghancuran jembatan Kali Bedog Kecamatan Gamping, Sleman.

"Jembatan itu harus kami hancurkan untuk menyekat supaya pasukan Belanda tidak bisa menyeberang untuk memburu pejuang. Ledakannya besar sekali sampai kami merasa ketakutan kalau tiba-tiba Belanda muncul mencari dan mendekati sumber bunyi ledakan. Kami bersama teman-teman seperjuangan saat itu juga berhasil memutus jalur Wates. Dinamit kami pasang di tengah jalan, begitu ada truk penuh tentara Belanda langsung kami ledakkan dan truk terlihat dari kejauan hancur berkeping-keping. Seketika konvoi kocar-kacir, namun kami tak berani mendekati truk dan merampas senjata, mengingat khawatir datang bala bantuan," kisahnya.

Sembilan bulan kemudian, tepatnya 17 Desember 1949, Prajurit Soemardi ditugaskan mengamankan pelantikan Ir Soekarno sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat di Sitihinggil Kraton Yogyakarta.

Kompi 26 Polisi Tentara yang dipimpin Letnan Neklani kala itu menurut Soemardi termasuk pasukan andalan yang kerap menjalankan misi tempur. Maka untuk mengamankan jalannya pelantikan Presiden RIS dimaksudkan agar siap memghadapi segala kemungkinan gangguan maupun misi penggagalan.

Dalam bertempur, kala itu Soemardi yang berpangkat prajurit (sekarang tamtama) dibekali senjata pistol mitraliur. Suatu senjata otomatis yang bisa memuntahkan peluru beruntun meski kalibernya sama dengan pistol semi otomatic FN.

Dengan Pistol Mitraliur saat itu menurut Soemardi sudah cukup meninggikan morilnya bertempur, hanya saja ketika berhadapan dengan tembakan bren dan tembakan pesawat cocor merah semua pasukan pasti akan cari perlindungan.

Sayang diusianya ke-95 tahun pendengarannya sudah terganggu karena sejak menjadi Polisi Militer dia ditugaskan sebagai Bintara Perhubungan yang menangani pesan berifat umum maupun rahasia dengan telegraph maupun morse. Suara mesin morse yang melengking tinggi telah mempengaruhi membran telinganya sehingga sulit mendengar suara pelan.

Tapi yang mengagumkan adalah ingatan dan kondisi penglihatannya yang masih tajam. Secara fisik kondisi Soemardi juga sehat. Tanya resepnya, menurut Soemardi karena rajin membaca Al Quran dan koran setiap hari.

"Tiap pagi sehabis salat Subuh saya sempatnya membaca Al Quran, menjelang siang setelah sarapan saya lanjutkan membaca Koran. Al Quran membuat hati damai, nyaman dan tentram sehingga Insya Allah akan menjadikan jiwa sehat. sementara Koran mampu menjaga dan menghindari pikun atau lupa," kata R Soemardi yang pensiun tahun 1977 dinas terakhir di Pomdam VII (sekarang IV) Diponegoro. (Cha)

Kredit

Bagikan