Pelaku UMKM Inovatif, Karung Goni 'Disulap' Jadi Barang Bernuansa Etnik

user
danar 09 Februari 2021, 06:10 WIB
untitled

PERAJIN kecil dituntut kreatif dan inovatif agar produk yang dihasilkan laku di pasaran. Apalagi pada masa pandemi Covid-19 seperti sekarang, perajin harus mampu berinovasi merubah sesuatu yang awalnya tidak berharga menjadi produk yang bernilai ekonomi tinggi.

Tri Nur Utami (40) warga Wetan Pasar, Pedukuhan Jogoyudan, Kalurahan/ Kapanewon Wates, Kulonprogo menciptakan terobosan baru merubah karung goni menjadi produk 'fashion' bernuansa etnik. Pangsa pasar tas, dompet dan sarung bantal berbahan baku karung goni yang unik kini sudah menembus mancanegara. Bahkan omzetnya mencapai Rp 10 juta perbulan.

Tri mengaku ide awal membuat pruduk Ghoniku berawal dari kecintaannya terhadap produk-produk fashion yang bernuansa etnik. Sulitnya mencari barang yang ia inginkan pada saat itu, mendorongnya untuk membuat produk sendiri. Beruntung produknya banyak diterima bahkan saat ini sudah menembus pasar mancanegara seperti Singapura dan Malaysia.

"Kesukaanku dengan barang-barang etnik, ide awal saya menciptakan produk fashion berbahan baku karung goni. Setelah tas dan dompet serta sarung bantal saya jual di pasaran ternyata animo pasar cukup positif dengan banyaknya pesanan," kata Tri Nur Utami kepada KRJogja.com saat bersama anggota Paguyuban Wartawan Kulonprogo (PWK) dan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) mengadakan press tour, di home industrinya baru-baru ini.

Tri mengungkapkan proses pembuatan produk fashion menggunakan bahan baku kain goni bekas tidak sembarangan. Sebelum diolah, karung goni bekas dicuci bersih agar tidak menimbulkan iritasi atau gatal bagi bagi kulit pemakainya. "Kalau konsumen menginginkan produk fashion dari karung goni baru, ya saya buatkan," ujarnya.

Tahap selanjutnya bahan karung goni dibuat pola sesuai yang keinginan atau pesanan. Agar produk Ghoniku lebih unik maka bisa dikombinasi dengan kain lain. Seperti kain batik atau tenun. "Dengan demikian motifnya beragam," ujarnya menambahkan harga produk Ghoniku relatif murah.

"Untuk jenis tas ukuran kecil hanya Rp 35.000 ribu sedangkan ukuran besar sekitar Rp 200 ribu. Tentang harga menyesuaikan tingkat kerumitan dan variasi bahan yang digunakan," katanya.

Jika sebelum pandemi Covid-19 tingkat penjualan produk Ghoniku cukup tinggi maka sekarang mengalami kelesuan. Sehingga pihaknya berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulonprogo ikut membantu memasarkan produk fashion Ghoniku.

"Selama pandemi Covid-19, daya beli masyarakat turun drastis. Kami berharap ada campur tangan pihak luar, misalnya Dinas Koperasi dan UKM peduli ikut memasarkan produk kami," harap Tri Nur Utami.(Rul)

Kredit

Bagikan