Dari Barang Bekas, Kelompok Pemuda Ini Bisa Biayai Sekolah Siswa Tak Mampu

user
danar 20 Januari 2021, 13:10 WIB
untitled

DORI SAPUTRA, pemuda asal Lampung bersama beberapa rekan mendirikan sebuah yayasan yang bernama Barkasmal Nusantara sejak tahun 2018 lalu. Menariknya, yayasan tersebut bergerak membantu anak-anak tidak beruntung untuk bisa meneruskan jenjang pendidikan hingga perguruan tinggi.

Kisah Dori bersama beberapa rekan sebenarnya dimulai sejak 2012 lalu, kala ia masih berkuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Berstatus mahasiswa kala itu, Dori berupaya mandiri dengan melakukan jual beli kertas bekas dari lingkungan sekitarnya.

“Jadi saya tahun 2012 itu jual beli kertas bekas, dapat dari teman-teman sekitar. Ternyata saya dapat banyak, kemudian berkomitmen 20 persen penjualan saya sumbangkan ke lembaga sosial,” ungkapnya ketika berbincang dengan KRjogja.com, Rabu (20/1/2021).

Tak disangka, kegiatan tersebut terus tumbuh hingga akhirnya Dori memutuskan membentuk lembaga sosial sendiri yang berfokus pada jual beli barang-barang bekas. Seluruh hasil penjualan barang-barang dikelola untuk mewujudkan mimpi anak-anak kurang beruntung yang kesulitan melanjutkan pendidikan.

“Dari 2012 itu sudah bergerak tapi lebih ke komunitas, sudah memberikan beasiswa pendidikan untuk teman-temam muda yang kurang beruntung tapi punya semangat belajar. Tahun 2018 kami resmikan Yayasan Barkasmal Nusantara, Barang Bekas Jadi Amal,” sambung dia.

Menjaga konsistensi, mengumpulkan uang Rp 70 juta lebih tiap tahun untuk biaya pendidikan, ternyata bukan perkara mudah. Namun, karena tekad kuat dan niat baik, yayasan yang berada di Condongcatur Depok Sleman bisa bertahan hingga hampir satu dekade.

“Memang tidak mudah, saat ini kami membina 28 anak dari jenjang SD hingga perguruan tinggi dengan pengeluaran mencapai Rp 70 juta pertahun. Kami juga punya program-program lain untuk anak-anak yang kami bina, yang harapannya bisa memaksimalkan talenta yang dimiliki,” imbuh Ale Ikhwan, bendahara Yayasan Barkasmal Nusantara.

Barkasmal menurut Ale tidak hanya memberikan beasiswa baik dalam bentuk uang tunai maupun kebutuhan sekolah untuk 28 anak tersebut. Mereka juga mendampingi perjalanan jenjang pendidikan mulai SD hingga perguruan tinggi.

“Kebetulan saat ini ada dua yang sudah kuliah. Kami tidak membuka slot beasiswa baru, karena kami ingin tuntaskan pendidikan tiap-tiap orang dahulu. Ini wujud tanggung jawab kami,” sambung dia.

Sebelumnya, 28 anak binaan Barkasmal didapatkan dari seleksi terbuka yang dilakukan bahkan beberapa dari jalanan. Seluruhnya merupakan anak yatim atau piatu serta kaum dhuafa yang memiliki semangat belajar.

“70 persen biaya mereka didapat dari penjualan barang-barang bekas, mulai kertas, kardus, koran yang sampai saat ini masih mencukupi. Sisanya dari donasi orang-orang yang peduli dengan hal yang kami lakukan. Kami berupaya, kalau anaknya masih mau terus belajar dan berkomitmen, maka kami terus biayai hingga tingkat manapun,” ungkapnya lagi.

Baik Dori, Ale maupun relawan di Yayasan Barkasmal Nusantara berharap apa yang mereka lakukan bisa terus lestari sampai nanti. Artinya, semakin banyak anak-anak kurang beruntung yang bisa terus bergerak maju meraih mimpi melalui pendidikan. (Fxh)

Kredit

Bagikan