Finarsih, Atlet Bulutangkis Kampung yang Mendunia

user
danar 10 Juli 2020, 16:21 WIB
untitled

SIAPA yang tidak kenal dengan figur pebulutangkis ganda putri tingkat dunia asal dusun Jetis, Sumberagung, Moyudan Sleman? Dia adalah Christina Finarsih atau yang akrab dipanggil Finarsih. Perjuangan panjang sebelum menjadi pebulutangkis tingkat dunia yang mengharumkan tim Merah Putih Indonesia tidak datang begitu saja, tapi dilalui Finarsih dari nol.

Menurut Finarsih, sebelum menginjakkan kaki di pelatnas dan menjadi juara dunia ganda putri, dia mengawali main bulutangkis saat masih di SD di kampungnya di dusun Jetis, Sumberagung, Moyudan, Sleman. Setelah itu, untuk meningkatkan talenta bulutangkisnya agar benar-benar menjadi pemain yang potensial, Finarsih oleh orang tuanya dimasukkan ke sekolah bulutangkis Sinar Mataram (SM) Yogyakarta tahun 1983.

Hanya bertahan dua tahun (1985) di PB Sinar Mataram, Finarsih pun hijrah ke klub bulutangkis Ardath Jember (Jatim) . Hijrahnya Finarsih ke klub Ardath tentu saja berkaitan erat dengan peningkatan prestasinya, sesuai dengan keinginannya setelah memasuki ranah klub bulutangkis. Selanjutnya tahun 1987 dari klub Ardath , Finarsih betul-betul mewujudkan impiannya untuk menjadi pemain pelatnas. Selain menjadi pemain pelatnas, di Jakarta Finarsih bergabung di klub Jaya Raya Jakarta.

“Awal mulanya saya senang bulutangkis, karena di kampung saya banyak anak-anak yang senang olahraga bulutangkis, voli dan tenismeja. Dari tiga cabor itu, saya menyenangi bulutangkis. Waktu di SD saya pernah mewakili Sleman Barat dalam Porseni SD se Sleman. Saat masih sekolah di SD ada salah seorang guru yang menyuruh saya agar masuk klub bulutangkis. Keinginan guru saya itu, saya ikuti dan masuklah saya ke salah satu klub bulutangkis di Yogya,” ujar Finarsih yang memiliki seorang anak Gabrielle Acintya Cantika buah pernikahannya dengan suami tercinta Bernadus Eddy Suryantoro.

Finarsih yang lahir di Sleman tahun 1972 sejak berkiprah menggeluti cabor bulutangkis dan menjadi pemain pelatnas, sudah banyak menelurkan prestasi di tingkat internasional. Setelah menjadi pemain pelatnas tahun 1987, berikutnya dua tahun kemudian (1989) prestasi Finarsih di kejuaraan bulutangkis tingkat Internasional terus menggeliat, dia pun mampu menjadi juara dunia junior . Beberapa tahun kemudian, Finarsih semakin dipercaya PP PBSI untuk membela Indonesia di kancah bulutangkis internasional lainnya seperti SEA Game Manila (Filipina), SEA Games Singapura, SEA Games Thailand, Asian Games Hiroshima (Jepang), dua kali olimpiade Atlanta (1992 dan 1996). Kejuaraan dunia bulutangkis Swiss. Disusul kejuaraan bulutangkis Malaysia terbuka, Singapura, Thailand, Hong Kong, China (Tiongkok), Jepang, Korsel, Swiss, All England, Denmark, Jerman, Australia, Finlandia. Masuk tim Piala Uber Indonesia tahun 1992, 1994, 1996, 1998 dan menyumbang poin penentu juara uber cup di Jakarta tahun 1992 dan tahun 1996 di Hongkong. Juara Final Grandprix Malaysia, Indonesia open, Taiwan, Jerman, Belanda, Piala Dunia, runner-up Jepang Terbuka, Denmark, Malaysia, Kejuaraan dunia Swiss, menyumbang medali emas SEA Games Singapura, Thailand, Filipina, perunggu Asian Games dan lain-lain.

Beberapa tahun kemudian setelah tidak lagi menjadi pemain pelatnas, karena faktor usia apalagi sudah berkeluarga dan punya anak, Finarsih pun pulang kampung ke Sleman. Saat ini Finarsih punya kesibukkan sendiri dengan membina sebanyak 60 pemain bulutangkis usia anak hingga dewasa di klub miliknya Jaya Raya Satria Sleman, salah satu anggota klub Pengkab PBSI Sleman. Selain membina pemain bulutangkis usia anak, Finarsih bersama suaminya juga membuka usaha tokoh olahraga ‘Fina Sport’ di Kentungan, Jalan Kaliurang, Sleman.(Rar)

Kredit

Bagikan