Dari Memulung, Mahasiswa UGM Kreasikan Makanan Hits 'Chicken-Cheetos'

user
danar 01 Agustus 2019, 11:51 WIB
untitled

LATIFRIANSYAH USMAN ALI, mahasiswa angkatan 2014 Prodi Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian UGM membuat kreasi kuliner kekinian. Memadukan ayam goreng dengan bumbu makanan Cheetos, Latif mampu menghasilkan banyak pundi-pundi Rupiah untuk mengembangkan usaha sekaligus bersosial.

Latif menceritakan ide awal makanan yang kemudian disebut Cikitos ini muncul karena melihat trend masyarakat saat ini. Sensasi berbeda saat menyantap ayam goreng dengan baluran bumbu, menarik kaum milenial untuk menikmati makanan tersebut. Berangkat dari ketertarikan untuk mencoba membuat formula bumbu sendiri, dirinya memberanikan diri untuk memulai berkreasi.

“Mulai tahun 2018 lalu kami melihat trend menarik ayam goreng ini, jadi kami coba memadukan menu dan tercipta Cikitos. Ada dua varian rasa yaitu original dengan cita rasa Cheetos dan Cheetos flamin hot dari level 1-5 bagi pecinta pedas,” ungkap pemuda yang menggagas kedai bernama Kiwae tersebut.

Latif sendiri memulai usaha kuliner sejak tahun 2014 dengan cara berjualan dari satu acara ke acara lain. Berbagai olahan dengan berbagai menu hits seperti sate taichan dijajal yang ternyata menuai tanggapan positif masyarakat. Meski terkadang menemui banyak kendala, tapi hal tersebut ternyata bisa dia lalui.

“Modal saya Rp 500 ribu, itu saya dapatkan dari memulung. Ngumpulin sampah plastik, atau barang apapun yang laku dijual. Saya lakukan sampai bisa dapat uang lalu mulai usaha. Saat itu bikin makanan apapun karena masih coba-coba,” imbuhnya.

Dari modal awal Rp 500 ribu itu, Latif mampu mengembangkan diri hingga memiliki usaha dengan omset bulanan mencapai Rp 80 juta. Kini, ia pun bersiap meresmikan kedai Kiwae berjejaring yang bahkan sudah memiliki antrean untuk ikut bekerjasama.

“Kami berusaha aktif membuat kegiatan positif di kedai seperti kajian, sedekah ilmu juga. Kiwae memiliki visi untuk menjadi perusahaan rumah makan dan catering dengan pelayanan nomor 1 di dunia dan berbasis sosial. Tujuan kami berwirausaha bukan sekedar untuk memperkaya diri namun untuk memberikan kebermanfaatnya yang luas,” sambung warga Pogung Dalangan, Sleman ini.

Dari produk karyanya tersebut, Latif mampu menjadi juara 2 Kompetisi Mahasiswa Indonesia yang diselenggarakan Kementrian Ristekdikti tingkat Nasional dan menjadi mahasiswa pertama yang bisa masuk 10 besar Foodstartup Indonesia 2018. (Fxh)

Kredit

Bagikan