ANTOLOGI  ‘CELOTEH JEDINK’ : Prosa Lirik Bahasa Lugas Makna Jelas

Indra Tranggono, dalam pengantar antologi Prosa Lirik ‘Celoteh Jedink’ menyebutkan, memilih istilah celoteh tak mempunyai beban, terkait dengan ukuran-ukuran sastra yang rumit. Jedink, lebih memiliki kebebasan untuk mengekspresikan ide, perasaan dan berbagai kegelisahan kreatifnya. Bentuk dan estetika, tidak membikin Jedink pusing karena hal yang diutamakan adalah komunikasi sosial. Kemudian bahasa lebih mengutamakan makna yang sesungguhnya katimbang ungkapan makna kiasan, Bahasa dibiarkan merdeka. Lugas. “Soal pesan sosial, Jedink tak rumit, namun terus terang, jujur, apa adanya. Tujuannya jelas, pembaca bisa langsung mengerti maksud yang ada di dalam narasi-narasi karya Jedink,” tandas Indra.

 

Indra menjelaskan, tradisi berceloteh adalah kebiasaan komunal masyarakat kita. Celoteh mencerminkan kultur kerakyatan yang menjunjung tinggi kesetaraan. Celoteh, tentu sulit ditemukan dalam kultur kalangan menengah ke atas biasanya cenderung canggih di dalam berbahasa. Celoteh bersifat spontan yang tujuanya beragam dari mengeskpresikan perasaan, menyampaikan cerita tertentu, menyindir hingga mengejek. Bahkan dalam teater tradisi Jawa, celoteh lekat dengan ungkapan berbasis spontan, bisa lucu, getir, nylekit, dan mengharukan.

“Celoteh dalam tulisan-tulisan Jedink, bukan celoteh ala kadarnya, namun celoteh yang dipikirkan, disiapkan, ditata dan dikemas untuk mencapai efek komunikasi tertentu. Hal ini, berkaitan dengan gagasan sosial dan personal Jedink yang mampu merespons terhadap kenyataan. “Jedink, mengartikulasikan kegelisahan terkait tentangketimpangan sosial, persoalan cinta, kasih sayang, empati dan berbagai renungan,” tutur Indra.

Dikatakan Indra, membaca tulisan-tulisan Jedink, mencerminkan sosok yang humanis. Nilai-nilai kemanusiaan menjadi acuan perilaku di dalam interaksi sosial. Penghormatan lebih mengedepankan rasa welas asih, dan tidak memandang latar belakang suku, kelas sosial, strata ekonomi, aliran politik serta golongan. Manusia difahami secara universal. Di sini manusia dilepaskan dari sekat-sekat primodial dan beban-beban sejarahnya.

Pilihan Jedink, atas nilai kemanusiaan itu, menjadi istimewa ketika diletakkan dalam latar belakang kehidupan sosial. Jedink, bukan tipe manusia suka berbelit, main retorika dengan kata-kata yang gagah, namun orang lebih memilih realistis dalam bersikap prasaja dalam berpikir. Kenyataan menjadi titik pijakan tindakan. Apapun yang dinilai baik, benar, indah dan bermakna selalu ditempuhnya dengan rendah hati. Demikian juga, Jedink berceloteh melalui narasi-narasi yang dituangkan dalam bentuk prosa lirik. “Mengenai soal tema, gampang ditangkap. Bahasanya sederhana. Gaya ungkapnya bersahaja dan kandungan isi gampang dimengerti. Prosa lirik Jedink adalah prosa lirik yang lugas,” imbuh Indra.  (*)

 

 

BERITA REKOMENDASI