HUT Meritz, Saat Seniman Mengingat Kematiannya

BERAGAM cara ditempuh seseorang dalam merayakan hari ulang tahunnya. Ada gelaran pesta penuh suka cita untuk merayakan hari membahagiakan tersebut. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi Meritz Hindra. Seniman kenamaaan asal Yogyakarta itu justru merayakannya hari ulang tahunnya cukup dengan membaca puisi di Kompleks Makam Seniman Girisapto, Imogiri, Bantul.

Puisi berjudul “Pulang” karya Muhammad Boy Rifa’i, pendiri Kampung Edukasi Watu Lumbung. Selain itu Meritz juga menggali kuburnya sendiri jika sewaktu -waktu dipanggil pulang oleh Sang Pencipta. “Hari ini tekadku, Yaa Tuhan, disinilah tempat aku pulang,” ujar Meritz.

Sikapnya tersebut kemudian diikuti tangannya menggali tanah. Sebuah simbol mempersiapkan liang lahatnya yang bakal ditempatinya kelak jika dipanggil pulang. Aksi tidak lumrah Meritz dengan membaca puisi dan menggali kubur memang dikhususkan untuk mengingatkan dirinya pada kematian.

Ketika berbicara tentang kelahiran tidak bisa dipisahkan dari kematian. Kematian merupakan sebuah kepastian bagi yang hidup. Kematian, berawal dari kelahiran. Tanggal 22 April 2020 tepat Meritz menginjak usia 71 tahun. Momentum tersebut juga dimanfaatkan Meritz minta izin kepada Direktur Art Gallery Sapto Hudoyo, Yani Sapto Hudoyo.

Permintaannya satu jika kelak berpulang bisa dimakamkan di komplek makam Seniman Girisapto Imogiri. Keinginan kuat Meritz dimakamkan di Girisapto karena tempatnya luas dan sunyi. Selain itu, di kompleks tersebut dimakamkan seniman beken yang dianggapnya sebagai guru. Termasuk makam maestro lukis Sapto Hoedojo, Tedjo Mulyo, GM Sudarta dan Kusbini sang pencipta lagu nasional, Bagimu Negeri).

BERITA REKOMENDASI