Kisah Larry Reed, Sutradara dan Seniman Asal Amerika yang Jatuh Cinta Pada Wayang

APA jadinya saat seorang sutradara asal Amerika Serikat ini jatuh cinta pada wayang? Bukan hanya jatuh cinta, Larry Reed, yang juga seorang seniman ini kemudian mengembangkan apa yang kemudian disebut sebagai wayang senimatik.
 
Sutradara teater asal Amerika Serikat, Larry Reed, gandrung dengan wayang sejak mengunjungi Bali pada 1972. Setelah bertahun-tahun berlatih memainkan wayang Bali, pada 1990 ia mendirikan Shadowlight Production dan mengembangkan wayang kontemporer.
 
Kekaguman Larry Reed akan wayang membuatnya bukan saja menikmati seni tradisional Indonesia ini. Ia juga mengembangkan  dan menciptakan wayang sinematik. Kreasi yang oleh Reed disebut cinematic shadow theater (wayang sinematik) atau wayang listrik ini berbeda dengan wayang tradisional yang menggunakan satu sumber cahaya, dalang dan gamelan.
 
Wayang ala Reed mengintegrasikan teknik wayang dengan teater, tari, sulih suara, komposisi musik kontemporer, dan manajemen sumber cahaya kompleks yang memberikan efek montase hidup.
 
Wayang sinematik itu dipentaskan Reed di Gedung Layang-layang Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK), Kembaran Tamantirto, Kasihan
Bantul, Kamis (14/11) malam. Dalampentas yang mengusung cerita 'Dewi Sri' itu Reed berkolaborasi dengan 16 seniman lintas disiplin (tari, teater, musik,
rupa dan pewayangan).
 
Mengangkat mitos legenda Dewi Sri, pertunjukan unik selama sekitar 30 menit itu menghadirkan kombinasi indah siluet wayang suket, aktor, penari Jawa, dan rangkaian gambar yang diterangi oleh berbagai sumber cahaya untuk menciptakan efek sinematik langsung di layar besar. Aplaus panjang pun diberikan penonton yang melihat pentas dalam bayangan yang diproyeksikan.
 
"Dengan cinematic shadow theater saya tetap menggunakan medium wayang tradisi, namun mengeksplorasinya sehingga menjadi pertunjukan yang
adaptable, dapat dinikmati semua kebudayaan secara universal," kata Reed.
 
Untuk pentas kolaborasi ini, Reed menggelar residensi kreatif selama dua minggu bersama 16 seniman. Kegiatan ini diinisiasi PSBK bekerja sama dengan
Shadowlight Production dan didukung Deputi Riset, Edukasi dan Pengembangan Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Baparekraf) RI.
 
"Kami sangat bangga bahwa Larry Reed membagikan pengalaman dan pengetahuannya kepada seniman Indonesia masa depan, terutama tentang metode cinematic shadow dan bagaimana budaya Jawa begitu menginspirasinya dalam berkarya. Setelah 47 tahun Shadowlight Productions berdiri di California, kali ini Larry 'pulang' ke jantung inspirasinya dan menciptakan kolaborasi penting bagi nafas kebudayaan kita," kata Jeannie Park, Direktur Eksekutif PSBK.
 
Reed menambahkan, eksperimen pertamanya dulu melibatkan penari Jawa dan ansambel gamelan Bali. "Sejak itu saya telah menyelesaikan banyak proyek di seluruh dunia, dan saya tidak pernah menemukan bentuk tarian apa pun yang bekerja dengan sempurna dalam bayangan seperti tarian Jawa," tuturnya. (Bro)

BERITA REKOMENDASI