Nandur Srawung ke-8 Usung Tema ‘Ecosystem : Pranatamangsa’

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Tahun ini merupakan penyelenggaraan acara seni Nandur Srawung yang kedua di tengah pandemi, dimana kita masih harus berada dalam segala keterbatasan. Memasuki Pembatasan Kegiatan Masyarakat level 3, Segala bentuk kegiatan luring sangat dibatasi sehingga dunia digital mengambil porsi yang semakin besar.

Sesuai dengan tema yang diusung ‘Ecosystem : Pranatamangsa’, Nandur Srawung kali ini mencoba menilik berbagai hubungan yang terjadi, baik antar sesama manusia maupun dengan lingkungannya. Tema ini merupakan pengembangan dari sejumlah pertanyaan-pertanyaan, bagaimana manusia beradaptasi dalam kondisi pandemi dan jagad digital.

Apakah manusia makin tercerabut dengan semesta nyatanya dan tersesat dalam jagad digital? Akah manusia memiliki cara beradaptasi yang berbeda dengan perubahan alamnya melalui dunia digital? Bagaimana kumpulan informasi yang terserak di jagad digital itu membantu manusia, sebagaimana dahulu Pranatamangsa digunakan untuk membaca semesta?

Tema Ecosystem Nandur Srawung mengacu pada teori Biophilia. Sebuah teori yang menyatakan bahwa Individu yang sehat mampu menemukan cara bersatu kembali dengan dunia.

Dengan cara bersikap produktif manusia dapat memenuhi kebutuhan manusiawi mereka. Istilah ini pertama kali digunakan oleh Erich Fromm untuk menggambarkan orientasi psikologis yang tertarik pada semua yang hidup dan vital.

Tahun ini, total 167 seniman (individu dan kelompok) menyuguhkan 72 karya dalam pameran Nandur Srawung. Selain para seniman dari berbagai kota di Indonesia, pameran ini diikuti pula oleh para seniman dari mancanegara: Austria, Swiss, Jepang, dan Jerman. Menariknya lagi, pameran ini diikuti peserta dengan jenjang usia yang sangat beragam, mulai dari 4 hingga 60 tahun.

Objek yang dipamerkan beragam: lukisan, patung, seni grafis, batik, seni kain, video, fotografi, desain, dan aktivitas seni lainnya. Beberapa komunitas memamerkan kerja kreatif mereka yang bersinggungan langsung dengan kemasyarakatan, seperti upaya membumikan literasi melalui kerja kolektif seni.

Karya para seniman Nandur Srawung didisplay di Galeri TBY mulai 10-19 September 2021 dari pukul 10.00 hingga 17.00 setiap harinya. Namun karena kondisi PPKM, pameran ini sementara baru bisa dikunjungi secara virtual melalui web nandursrawung.com.

Untuk tahun ini Nandur Srawung menambahkan kegiatan Srawung Moro: Temu Kurator Muda. Program ini membuka kesempatan kepada anak-anak muda yang tertarik dengan kegiatan kurasi seni rupa untuk bergabung dalam proses kurasi pameran Nandur Srawung ke-8 tahun 2021. Dari puluhan calon yang mendaftar, terseleksi 3 calon kurator muda yang memperoleh kesempatan untuk mengikuti lokakarya dan praktik kuratorial selama penyelenggaraan acara Nandur Srawung.

Salah satu kurator Nandur Srawung Bayu Widodo menjelaskan Salah satu konsep Nandur Srawung kali ini adalah Biophila ,upaya untuk bertahan hidup itu yang kita tawarkan ke para seniman. Selain pameran di Taman Budaya Yogyakarta tahun ini Nandur Srawung dilakukan di empat titik ruang publik Yogyakarta. “Sebuah usaha dukungan kita di tengah situasi PPKM kepada para seniman dan masyarakat,” jelasnya.

Selain pameran yang bisa diakses melalui web, ada program lain yang bisa diikuti oleh public secara daring. Beberapa di antaranya adalah penyelenggaraaan talkshow dan workshop bersama para seniman peserta Nandur Srawung.

Ada pula tiga webinar dengan tema menarik yang akan menghadirkan pakar di bidang masing-masing. Ketiga tema webinar tersebut adalah Seni, Ekosistem, dan Kesadaran Kosmologi, Ekstrinsik Buku dan Seni Rupa, dan Berbagi Peran dalam Produksi Seni dan Selebihnya. (*)

BERITA REKOMENDASI