Andi Arsana, Dosen Favorit UGM yang Berasal dari Desa Buta Pendidikan

SLEMAN, KRJOGJA.com – Pendidikan Indonesia yang semakin maju tidak lepas dari campur tangan para pengawal pendidikan, yaitu guru, dosen, tentor, dan lain-lain. Bagi para mahasiswa, peranan seorang dosen sangat besar. Selain jadi penyampai ilmu, dosen juga dapat menjadi sumber inspirasi dan pemberi motivasi.

Adalah I Made Andi Arsana atau yang akrab disapa Pak Andi, pemenang dosen favorit UGM dalam Gadjah Mada Award 2016 ini ternyata sewaktu kecil sempat tidak mengenal pendidikan. Ia lahir dan besar di desa Tegaljadi, Tabanan, Bali yang waktu itu belum begitu melek pendidikan.

“Pendidikan tinggi bukan sesuatu yang umum. Sewaktu saya SD yang kuliah hanya 1,” ungkap beliau saat berbincang dengan KRJogja.com di rumahnya yang asri di daerah Wedomartani, Sleman.

 “Ayah saya tidak lulus SD, ibu saya lulus SD katanya. Walau saya tidak pernah lihat ijazahnya,” sambung beliau terkekeh. Walau begitu, mereka tidak merasa buruk karena itu adalah hal biasa di banjar (Desa dalam bahasa Bali).

Niatan pertama untuk sekolah tinggi justru muncul secara tak terduga dan tanpa disadari. Momen paling berkesan itu datang sewaktu SMP dalam tugas bahasa Indonesia membuat surat.

“Ada contoh orang menulis surat ke UGM. Saya tanya ke guru, UGM itu apa. Disitulah saya pertama kali mendengar istilah universitas," ujar dosen Teknik Geodesi yang fokus pada batas kemaritiman.

Lompatan pertamanya untuk meraih pendidikan tinggi terjadi pada tahun 1996. Orangtua yang dulunya menjadi petani dan penambang padas, mencoba mencari peruntungan di kota Denpasar. Untuk itulah Andi kecil ikut pindah kesana dan masuk di SMAN 3 Denpasar setelah sebelumnya menjadi Ketua OSIS di SMP.

“Di Denpasar saya merasa pendidikan itu sesuatu yang penting dan bisa dicapai entah lahir di desa, kaya atau miskin. Untungnya nilai saya termasuk baik dan dipercaya menjadi ketua OSIS,” terang beliau yang juga berprofesi sebagai penulis yang menghasilkan 6 buku pribadi, dan puluhan jurnal serta artikel. Salah satu bukunya yang terkenal adalah Anak Dusun Keliling Dunia.

Melalui masa SMA di Denpasar, pria 1 anak ini mengaku belajar banyak tentang semangat dan perjuangan. “Kami tinggal di Sanur, di sebuah gubug dalam jalur hijau. Tidak boleh ada bangunan permanen tapi diijinkan untuk berjualan bahan bangunan. Maka kami tidak punya listrik. Tapi ayah saya mengakali dengan aki atau lampu minyak,” kenangnya.

Sesekali Andi juga belajar di rumah teman, untuk mengakses komputer dan listrik. “Hubungan kami saling menguntungkan. Dia butuh diajari, saya butuh fasilitas” tambah beliau yang mengaku mulai muncul passion untuk berbagi dan mengobrol dengan orang lain sejak kecil.

Selanjutnya >> Andi Arsana, Dosen Favorit UGM yang Sempat Punya IP 1.2

(Lucia Yuriko)

BERITA REKOMENDASI