Jadi Entrepreneur Modal Laptop, Internet dan Teman ala Yansen Kamto

YANSEN Kamto ingin meyakinkan anak muda, menjadi enterpreneur tidak selalu dengan membangun pabrik atau menjadi kontraktor jalan tol. Cukup bermodal laptop, internet dan teman.

Siang, Jumat 15 Juli 2016 saya berbincang santai dengannya di Kantor EDS Universitas Gadjah Mada (UGM) tentang Gerakan 1000 Startup Digital yang digagasnya. Laki-laki ini mudah dikenali dari kepalanya yang plontos dan kebiasaannya menggunakan celana pendek. Kepada KRjogja.com ia menyampaikan harapan untuk anak-anak muda di Indonesia.

Laki-laki berpembawaan humoris ini memberikan gambaran, bagaimana fenomena kesukesan aplikasi ojek online Go-Jek dan e-commerce asal Indonesia seperti Traveloka dan Tokopedia mendorong anak-anak muda untuk memulai bikin startup, sebutan untuk perusahaan rintisan bidang digital.

“Selanjutnya adalah kalau sudah tertarik muncul pertanyaan, bagaimana caranya agar seperti mereka-mereka? Mulainya dari mana, perlu modal atau tidak, bagaimana caranya mencari partner ? Begitu banyak pertanyaan dari anak-anak muda,” kata pria kelahiran Pontianak 3 Agustus 1981.

Dari pemikiran itulah Gerakan 1000 Startup Digital  yang ingin menciptakan 1.000 perusahaan rintisan digital hingga 2020 digagasnya. Gerakan yang diluncurkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika pada 17 Juni 2016 ini melalui tahapan sistematis di 10 kota di Indonesia yang sudah memiliki infrastruktur serta pondasi digital yang kuat.

“1000 perusahaan digital hingga tahun 2020 seharusnya bukan sesuatu yang sulit. Hitung-hitungannya adalah dalam 5 tahun setiap kota menghasilkan 200 perusahaan atau setahun 20 startup,” ujar Yansen Kamto. Ia percaya kota semacam Yogyakarta tidak mungkin hanya 20 startup setiap tahun. Selain Yogyakarta kota lain yaitu Medan, Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Malang, Pontianak, Bali dan Makassar.

Dalam berbagai kesempatan Yansen selalu mengatakan bahwa Indonesia memiliki potensi yang sangat besar. Baginya membicarakan potensi sudah cukup. Sudah saatnya melakukan sesuatu dengan potensi tersebut. “Kalau hanya ngomong potensi saja, Indonesia hanya akan menjadi pasar. Indonesia harus menjadi pemain. Mimpi besarnya adalah mendorong lebih banyak anak muda untuk menciptakan solusi dengan menggunakan teknologi digital. Tidak ada waktu yang tepat kecuali sekarang,” tegas CEO Kibar ini tegas.

Yansen mengatakan di Indonesia ada sekitar 93,4 juta pengguna internet dan 70-an juta pengguna perangkat telepon pintar. Kondisi tersebut sangat mendukung pengembangan e-commerce dan bisnis aplikasi teknologi digital di Indonesia. Saat ini teknologi informasi sudah melekat di anak muda Indonesia. “Sekarang penetrasi internat semakin cepat, koneksi semakin murah, kalau tidak sekarang sayang sekali. Ini kesempatan mengubah bangsa ini dari konsumen menjadi produsen,” ujar Yansen. Ditambahkannya, sayang kalau potensi tersebut hanya dimanfaatkan untuk sekadar selfi-selfian. Ada hal besar yang bisa dilakukan, membangun Indonesia.

Cukup Bermodal Laptop, Internet dan Teman

Yansen menegaskan dengan iklim dunia digital yang sangat mendukung saat ini, anak muda bisa menjadi entrepreneur dengan modal hanya punya laptop, internet dan teman. Menjadi pengusaha tidak selalu identik dengan modal besar dengan membangun pabrik atau menjadi kontraktor jalan tol.

“Tidak punya laptop, bisa menggunakan smartphone, tidak punya internet bisa ke warung internet, atau ke laboratorium komputer di kampus, bisa juga nebeng ke teman. Dengan kata lain modal utama seseorang mau terjun di startup adalah mindset atau cara berpikir,” ujarnya tegas.

Menurut Yansen Kamto, anak muda harus melihat masalah menjadi peluang. Teknologi digital bisa menjadi bagian penyelesaian masalah. Jangan khawatir ketika tidak bisa punya kemampuan coding. Cari jalan keluarnya dengan mengajak teman. Begitu juga ketika tidak bisa mendesain, cari teman yang bisa melakukannya. Kuncinya pada kolaborasi.

Startup tidak melulu soal teknis kemampuan coding namun bagaimana memadukan berbagai keahlian untuk menyelesaikan persoalan. Maka biasanya dalam sebuah tim startup ada banyak orang dengan kemampuan mulai dari teknologi, ekonomi, desain dan lainnya.

“Misalnya di Jogja saya buat wadah mempertemukan anak-anak yang bisa desain dari ISI Yogyakarta atau komunitas komik dengan anak-anak muda lain yang bisa coding. Maka kalau sudah ada laptop, internet yang dibutuhkan kemudian adalah teman,” ujar Yansen Kamto.

Yansen ingin Gerakan 1000 Startup Digital bukan sekadar bagaimana membuat sebuah perusahaan rintisan. Namun juga perusahaan yang menyelesaikan persoalan di Indonesia. Munculnya Go-Jek memberikan solusi bagi penumpang maupun tukang ojek sendiri. Begitu juga e-commerce, memberikan solusi pemasaran bagi ratusan ribu UKM di Indonesia.

“Di Pontianak, ada anak muda yang membuat aplikasi seperti Go-jek, bedanya dia fokus mengangkut sampah. Dia membuat aplikasi yang membuat orang bisa memanggilnya untuk mengambil sampah di perumahan. Ide itu berawal dari persoalan tidak setiap hari sampah di perumahan diambil,” ujarnya. Yansen membayangkan Gerakan 1000 Startup Digital akan melahirkan banyak anak muda di Indonesia membuat aplikasi yang memberi nilai positif dengan menyelesaikan persoalan yang ada di sekelilingnya.

Anak Muda Indonesia Bisa Bersaing

Menurut Yansen, di era digital sekarang ini persaingan dalam dunia startup digital flat atau sama. Artinya anak-anak muda di Indonesia memiliki peluang sama seperti anak-anak muda di luar negeri dalam menciptakan startup. Jika aplikasi tidak dibuat oleh anak-anak muda Indonesia maka dengan peluang yang sama aplikasi dari luar negeri yang akan masuk. “Tujuan 1000 Startup Digital tidak muluk-muluk. Yaitu menciptakan lapangan kerja lebih banyak dan menjadikan Indonesia lebih baik,” ujarnya.

“Di markas facebook saya bertemu dengan seorang anak muda dari Yogyakarta yang menjadi software engginer. Dia bisa berarti anak muda Indonesia yang lain juga bisa dong,” katanya. Ia berharap anak muda Indonesia lain yang sedang mencari pengalaman di luar negeri suatu saat akan pulang kembali ke Indonesia untuk berkontribusi dengan kemampuan yang mereka miliki.

Menurut Yansen, dari segi talenta, anak-anak muda Indonesia sama baiknya dengan orang lain. Cuma kembali ke mindset atau cara berpikirnya. “Saya boleh bilang, kita lebih hebat dari bule-bule itu. Silicon Valley itu sudah mulai sejak tahun 60-an. Wajar kalau mereka lebih dulu di depan, tapi kita bisa mengejar,” tegas Yansen Kamto.

Gerakan 1000 Startup Digital tidak ingin hanya menjadi sebuah gerakan seremonial. Langkah sistematis sudah disiapkan. Pertama ignition¸ yaitu seminar untuk  menanamkan pola pikir entrepreneurship, yang menargetkan 4.000 peserta setiap tahunnya. Tahap berikutnya adalah workshop untuk mendapatkan pembekalan keahlian yang mereka butuhkan dalam membuat startup digital.

Berbekal ilmu tersebut 1.000 peserta akan melanjutkan ke tahap hackathon untuk menghasilkan prototipe produk dari ide solusi aplikasi. Setelah itu 500 peserta akan memasuki tahap bootcamp yang merupakan sesi mentoring mendalam untuk menyiapkan peluncuran produk. Terakhir 200 peserta akan terpilih akan diinkubasi selama kurang lebih 3 bulan di sekitar kota pertahun, sehingga dalam 5 tahun akan tercipta 1.000 startup digital.

Kendapa paling besar anak muda Indonesia adalah takut gagal, merasa tidak mampu, merasa harus punya modal uang. Cara berpikir itu yang harus diubah. Sesimpel ada orang yang bisa nulis tapi tidak punya laptop. Sebaliknya ada orang punya laptop nggak bisa nulis, solusinya adalah kolaborasi. "Gerakan 1000 Startup Digital tidak memberikan ikan atau kail tapi mengajari orang untuk bikin kail," katanya.

Yansen Kamto, lahir di Pontianak 3 Agustus 1981. Pernah bekerja di agensi iklan multinasional Leo Burnett selama 3 tahun. Yansen dikenal sebagai pendiri KIBAR Kreasi Indonesia yang merupakan perusahaan inkubasi startup digital di Indonesia. Kibar juga merupakan satu-satunya perusahaan konsultan IT yg tergabung dalam Google Developer Groups (GDG) di Indonesia yang saat ini memiliki kantor di daerah Menteng, Jakarta Pusat. (Agung Purwandono)

 

BERITA REKOMENDASI