Suka Berbagi Trik Publikasi Karya Ilmiah Tembus Internasional

PARA peneliti di Indonesia banyak menghasilkan penemuan-penemuan baru dalam berbagai bidang, seperti basic science, teknologi alternatif dan nature produk. Namun sayangnya hasil penelitian itu tidak banyak yang berhasil dipublikasikan ke peringkat internasional yang terindeks seperti SCOPUS atau WEB Science/ISI.

Padahal publikasi itu sangat penting bagi karir seorang peneliti apalagi jika dikaitkan dengan asal perguruan tinggi tempat kerja yang akan dapat mengangkat citra perguruan tinggi tersebut. Disamping itu tanpa diragukan lagi martabat bangsa Indonesia akan terangkat.

Kondisi ini yang membuat Prof Dr Ir Chairul Saleh MSc merasa prihatin. Hal itu yang menggerakkan hati Prof Chairul Saleh mendorong para peneliti untuk menulis hasil penelitiannya menjadi karya ilmiah yang dapat dipublikasikan di jurnal internasional yang terindeks Scopus atau ISI

"Untuk tembus publikasi terindeks Scopus saja susah, apalagi ISI. Tapi itulah tantangan. Jangan sampai orang Indonesia kalah dengan negara lain, " kata dosen Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia (UII) ini.

Menurutnya, fungsi pokok dosen dan juga guru besar selain pengajaran juga pada pengembangan keilmuan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Sedangkan profesor merupakan academic leader. Berdasarkan Permenristekdikti No. 20 Tahun 2017, kewajiban profesor dan dosen adalah melaksanakan tridharma perguruan tinggi, menghasilkan karya ilmiah dan mereproduksi pengetahuan.

"Tapi jika dibandingkan dengan negara tetangga, posisi Indonesia masih sangat kurang. Data tahun 2016, menunjukkan total karya ilmiah perguruan tinggi rangking 1 sampai 50 yang terindeks Scopus masih kalah dengan satu perguruan Tinggi Malaysia (UKM), " ujarnya pria yang baru saja merayakan ultah ke-60 pada 17 Mei kemarin.

Kurangnya para peneliti dapat terpublikasi pada jurnal Internasional bereputasi karena kemungkinan kurang tidak bisa menulis, penghargaan tidak besar atau banyak yang lemah dalam metodologi. Mengingat seleksi karya ilmiah yang dapat terpublikasi ke tingkat Internasional cukup ketat. "Bisa menulis saja tidak cukup,  tapi dibutuhkan tulisan yang baik dan metode yang tepat dan trik-trik tertentu khususnya terkait dengan novelty kajian, " ujarnya.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap dunia pendidikan dan mengangkat citra bangsa di kancah Internasional, Chairul akhirnya mendirikan Chase Research Academy. Dibantu Nur Rachman Dzakiyullah sebagai direktur eksekutif,  Assery sebagai konsultan manajemen dan Susie Fitri sebagai konsultan hukum, Chase akan mengajarkan, membimbing dan mendampingi peneliti untuk menghasilkan karya ilmiah yang dapat terpublikasi ke tingkat Internasional yang terindeks Scopus atau Web Science/ISI.

"Chase Research Academy ini merupakan lembaga sosial yang peduli pendidikan. Kami hanya ingin berbagi bagaimana trik-trik kepada peneliti agar karya ilmiah dapat terpublikasi terindeks minimal Scopus atau bahkan ISI. Kemudian didampingi dengan penuh kesabaran," ujarnya di Kantor Chase Jalan Wates KM 4 Gamping.

Untuk meningkatkan minat para peneliti menghasilkan karya yang dapat terpublikasi ke tingkat internasional, Chase bersama Nabu Reserach Academy (Malaysia) belum lama ini menyelenggarakan even International Conference on Technology, Engineering and Social Science (ICTESS 2017) di Solo. Dalam even itu, Chase menghadirkan dua orang Guru Besar sebagai Keynote Speaker yaitu Prof Dato Dr Kamaruzzaman Sopian dari Universitas Kebangsaan Malaysia dengan memaparkan paper 'The use Of nano fluids For Enhancing The Performance In Photovoltaic Thermal System'.  Dan yang kedua adalah Prof Ir Xavier Lurkin (Pakar Keuangan Masyarakat Ekonomi Eropa dari Ichec Belgia dan Burgundy School Of Bussiness di Dijon Perancis) dengan karya 'New Trends In Creation And Financing Of University Spinoffs In The US And In Europe',

"Even itu kami menggandeng Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang dan STIMIK “Sinar Nusantara” Surakarta. Tujuannya memberikan kesempatan pada para dosen maupun mahasiswa pasca sarjana yang beratensi meningkatkan mutu keilmuannya, sehingga expert di bidang masing-masing yang digelutinya, " paparnya. (Saifullah Nur Ichwan)

 

BERITA REKOMENDASI