Susan Itsuko, Menghijaukan Indonesia dengan Hidroponik

BERCOCOK tanam dengan media air atau yang dikenal dengan nama hidroponik ternyata tidak sesulit dan semahal yang dibayangkan. Hal tersebut diungkapkan oleh Susana Itsuko (42), salah satu pegiat bisnis rumahan tanaman hidroponik di Yogyakarta.

Kepada KRJogja.com, perempuan yang akrab disapa Susan tersebut menceritakan pengalamannya selama menjalankan kegiatan tanam-menanam di air itu.

"Modal saya saat itu hanya botol-botol bekas," buka Susan saat ditemui di ladang berkebunnya di Jalan Monjali No 69, Mlati, Sleman pada Kamis (21/7/2016). Dari bertanam di botol bekas dan ternyata berhasil itu, ia kemudian semakin giat mencari tahu tentang hidroponik. 

Ia membeberkan bercocok tanam secara hidroponik hanya membutuhkan rockwool, paralon yang sudah dibolongi tengahnya/botol bekas, benih, nutrisi dan air. Rockwool merupakan batuan vulkanik yang dipanaskan sedemikian rupa hingga membentuk serat-serat. Dari bahan dan alat tersebut, Susan tidak perlu sulit untuk mencangkul tanah untuk penyemaian benih.

"Benihnya nanti letakkan di rockwool saja dan tunggu pecah," katanya sembari menunjukkan bentuk rockwool. Rockwool tersebut awalnya berbentuk balok panjang dan bisa dipotong kecil-kecil seukuran yang dibutuhkan. Ibu anak satu tersebut juga selalu menyisihkan uangnya untuk membeli fasilitas hidroponik yang lebih memadai seperti paralon.

"Setelah menabung, bisa beli satu sampai dua paralon dan terus saya lanjutkan," ucapnya. Ilmu bertanam secara hidroponik itu ia dapatkan dari seseorang yang ia sebut Ibu Inayah. Padahal saat mencoba bertanam daun mint, Susan melihat tanamannya mati. Ia menganggap daun mint yang mati itu merupakan bentuk ketidakpahaman dirinya tentang cara mengelola tanaman.

"Saya hanya mengobrol 5-10 menit dengan Ibu Inayah dan saya mendapatkan banyak sekali ilmu," tambah Susan. Kegiatan bertanam secara hidroponik sudah ia geluti selama 5 tahun terakhir. Saat ini, sudah memiliki hampir 2000 lubang paralon dan bisa ditanami bermacam-macam sayuran, seperti sawi samhong, cabai, timun baby, selada, kemangi dan kembang kol. Total jenis tanaman mencapai 20, baik yang sudah dipanen maupun belum.

Mengenai penggunaan pestisida untuk mengurangi hama, Susan menambahkan, ia tidak menggunakan pestisida dan tanaman hidroponik bukan tanaman yang tanpa hama. Hama tetap ada, namun musiman, tidak serta merta semuanya hadir dalam satu waktu. 

Ia memberikan gambaran tentang ulat yang kerap memakan sayuran miliknya. Sebagai orang yang hobi bercocok tanam, ia mampu melihat jika sayurannya sedang dimakan hama-hama. Ini terlihat dari gaya makan si hama, ada yang bolong-bolong, ada yang satu garis lurus. "Kalau sudah ada ulat satu saja di sayuran saya, langsung saya kejar," tuturnya.

Siapapun Bisa Bertanam Secara Hidroponik

Susan dengan tanaman daun mint hidroponik yang sangat subur.

Menggeluti usaha rumahan bercocok tanam dengan media air membuatnya sering mengadakan pelatihan di berbagai tempat. Menurutnya, siapapun bisa ikut bertanam hidroponik. "Asal ada rasa sayang dengan tanaman yang ditanam," tambahnya. 

Ia memberikan gambaran, jika penanam sudah tidak memiliki rasa sayang atau belum tahu tanaman ini nantinya akan dibawa kemana, maka sebaiknya dimantapkan dulu. Hal ini untuk menghindari penanaman yang sia-sia.

Selain rasa sayang tersebut, ia juga menekankan pada tingkat kerajinan penanam untuk selalu mengecek tingkat nutrisi yang diberikan. Menurutnya, nutrisi yang telah dilarutkan dalam air tersebut setiap hari tetap perlu diperhatikan.

"Meskipun takaran nutrisi dan airnya dari hari ke hari sama, perlu dicek ulang, bagaimana kira-kira pertumbuhannya, untuk menghindari pertumbuhan yang tidak maksimal," bebernya.

Susan juga mengajak ibu-ibu rumah tangga untuk ikut bertanam hidroponik. Ini sesuai dengan misinya, menghijaukan Indonesia dari dapur. Ia beranggapan, dengan bertanam secara hidroponik, tidak membutuhkan lahan luas.

"Andaikan ibu-ibu memiliki 20 lubang saja, 5 lubang bisa buat cabai, lubang lainnya bisa ditaruh benih-benih lain," ujar Susan. Dari situ, para ibu rumah tangga tidak perlu bingung membeli sayuran lagi karena di rumah sudah tersedia. Masa pertumbuhan benih tergolong cepat, kurang lebih 30 hari sudah bisa dipanen.

"Untuk pecah benihnya cuma dua hari," tambahnya. Baginya, tidak hanya ibu rumah tangga, namun anak-anak kos juga bisa. Jika malam-malam lapar, bisa tinggal mengambil sayuran yang sudah ditanam sebelumnya. "Keluarga saya suka bingung kalau mau masak. Semuanya ada, mulai dari bayam, sawi, selada," ujarnya sembari tertawa.

Bisa Menjadi Ladang Usaha

Susan dengan tanaman sawi yang dipanennya, ia kerap kesulitan memenuhi permintaan 

Bertanam sayuran hidroponik ternyata juga bisa menjadi ladang usaha. Hal tersebut diungkap juga dibeberkan Susan. Ia menceritakan bagaimana jika dirinya sedang mengadakan pelatihan-pelatihan kemudian dari 10 orang yang tertarik, bisa saja hanya 1 orang yang melanjutkan sampai benar menghasilkan.

Dalam bertanam sayuran hidroponik, ia tentu tidak bisa sendiri, harus ada orang lain yang ikut menanam. Pasalnya, ia tidak mampu jika harus memenuhi permintaan pasar yang cukup banyak.

"Misal ada permintaan sekian, setelah saya hitung, lubang paralon saya tidak cukup, karena tanaman saya banyak, saya bisa kontak rekan-rekan yang sedang menanam sayuran yang diminta," ujarnya. Baginya, komunikasi tersebut akan memudahkan pedagang sayuran hidroponik untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Sebagai contoh, sawi-sawi yang ia miliki ia jual Rp 2.500 per batang atau Rp 10.000 per tiga batang, jika sawi tersebut berukuran besar.

"Ini sudah ada pesanan dari Balikpapan dan Manado, nanti akan dikirim via pesawat," tambahnya. Cara mengirimnya tidak sembarangan. Ia akan menanyakan terlebih dahulu akan digunakan untuk apa tanaman tersebut. Jika untuk tidak langsung dimakan, maka akan dikirim dengan plastik yang dieratkan dan air dibawahnya agar mampu bertahan hidup paling tidak dua hari setelah dilepas dari rockwool. Tidak hanya itu, ia juga sering menghadiri pameran-pameran sayuran yang sering diadakan dinas terkait.

Ke depannya, ia dan kawan-kawan yang bergelut usaha hidroponik ingin terus mengadakan pelatihan kepada masyarakat untuk tetap meneruskan misi menghijaukan Indonesia dari dapur. (Ardhike Indah/Elitasari Apriyani)

BERITA REKOMENDASI