Wiwien, Ciptakan Becak Listrik Karena Tak Tega

SOSOKNYA mulai dikenal saat tahun 2014 meluncurkan inovasi berupa becak listrik ramah lingkungan. Bukan hanya becak, meski hanya lulusan STM, pria yang memiliki nama lengkap Wiwien Mardi Rahajo ini juga jago membuat sepeda listrik.

Wiwien menceritakan, ide membuat becak listrik datang di tahun 2012 ketika dirinya sedang menjemput sang anak di sekolah. Sembari menunggu si anak keluar kelas, ia memerhatikan keadaan sekitar dan terpaku pada sesosok pria tua yang juga menunggu di becaknya.

Wiwien lantas bertanya kepada pria tua pengayuh becak tersebut perihal aktivitas sehari-hari. Dikatakan pria tua itu, ia hanya mencari nafkah lewat mengayuh becak yang sudah ia geluti selama 30 tahun. Dari pernyataan pria tua tersebut, Wiwien merasa terenyuh dan berpikir untuk membuat becak modifikasi yang tidak melanggar Undang-Undang Lalu Lintas namun juga mampu membantu kesulitan pengayuh becak.

Selama 1-2 bulan lamanya ia berkutat merangkai becak listrik, pada percobaan yang keenam, ia mampu menyempurnakan kendaraan itu. Dengan dibantu oleh tukang becak yang ia kenal, Wiwien banyak diberi masukan mengenai apa yang kurang dan harus ditambahkan ke becak listrik itu.

"Saat yang paling sulit itu saat harus menyesuaikan dinamo dan beban, karena becaknya sudah berat," kata Wiwien sembari tertawa mengingat masa-masa kegagalan. Bapak dua anak ini juga harus menyesuaikan rasio gear untuk menentukan percepatan yang dihasilkan dari kombinasi gear-gear yang terpasang. Hal ini perlu dilakukan agar saat pengemudi becak ingin mengayuh, kakinya tidak terbentur-bentur.

Untuk sekarang, dirinya sudah memiliki 'resep' yang pas jika ingin kembali merangkai becak. Dinamo yang dibutuhkan hanya 500 watt dan empat buah aki berkekuatan 48 volt yang mampu beroperasi selama 2 jam. Selebihnya tinggal menambah aksesoris penunjang, seperti lampu utama, lampu sign, klakson dan rem cakram.

"Di setiap transportasi listrik yang saya buat selalu memiliki penunjuk voltase, berguna untuk melihat indikator baterai layaknya indikator bensin di mobil," tambah pemilik Mobilijo (Mobil Listrik Jogjakarta).

Becak Ramah Lingkungan
Wacana pembuatan moda transportasi berbasis listrik memang menekankan pada aspek keramahan lingkungan. Maksudnya, tidak lagi menggunakan tenaga yang tidak tergantikan seperti bensin, namun menggantinya dengan memanfaatkan aliran listrik. Begitu pula dengan becak Wiwien Vegas, memang ramah lingkungan dan 'ramah' saat digunakan. Dengan kata lain, becak listrik meski menggunakan listrik sebagai daya utama namun tidak membebani biaya pengeluaran listrik rumah tangga.

"Dinamo 500 watt itu hanya membutuhkan listrik 100 watt saat pengisian daya," tukas Wiwien. Bagi rumah tangga yang menggunakan daya listrik 450 watt masih sanggup dan tidak perlu menambah daya untuk mengisi daya becak listrik ini.

Becak listrik Wiwien ini diharapkan mampu membantu pengayuh becak yang berusia sudah cukup tua. Biasanya, dengan becak kayuh, pengemudi becak tua hanya mampu 2-3 kali perjalanan, selebihnya istirahat, dengan becak listrik Wiwien ini bisa melakukan 7-8 kali perjalanan sehari karena dibantu oleh dinamo. Selain itu becak juga tetap di lengkapi dengan pedal kayuh. Sehingga pengayuh becak bisa menggunakannya saat

"Dalam sehari, pendapatan mereka juga bisa bertambah dengan inovasi ini," katanya sambil tertawa. Dengan bermodal dinamo 500 watt, Winawan Mardi Rahajo atau yang biasa dikenal Wiwien Vegas mampu merangkai satu unit becak listrik ramah lingkungan, tidak menyulitkan pengemudi dan tidak mengotori lingkungan. Dinamo 500 watt tersebut ia sulap menjadi komponen utama becak yang disinergikan dengan aki dan ditaruh di bawah jok pengayuh. Adanya dinamo ini mampu membuat kerja pengayuh becak menjadi lebih ringan.

Pengayuh tidak perlu lagi turun dari becak dan mendorongnya ketika jalan mulai menanjak, tinggal mengatur gas yang ada di tangan kanan layaknya mengendarai motor. Becak ini juga tidak mengeluarkan karbon monoksida karena tidak memanfaatkan bensin sebagai bahan bakar melainkan menggantinya dengan energi listrik yang telah tersimpan di dalam aki.

"Becak yang saya buat juga dilengkapi lampu, lampu sign, klakson dan rem cakram," ungkap Wiwien saat ditemui KRJogja.com di Perumahan Bumijo, tempat dimana dia menyalurkan hobi berinovasi dengan alat-alat elektronik.

Baginya, keselamatan berkendara juga perlu diperhatikan dengan menambahkan komponen-komponen yang belum ada sebelumnya di becak kayuh ataupun becak motor. Pengayuh becak tidak perlu lagi melambaikan tangan untuk meminta diberikan kesempatan berjalan saat banyak kendaraan lain melintas, tinggal menekan tombol lampu sign sesuai arah saja. Begitu pula saat malam hari tiba, becak lebih terlihat karena dilengkapi lampu utama.

Becak listrik Wiwien ini mampu menarik beban 250 kg, berjalan dengan kecepatan 20 km/jam dan berjarak tempuh 60 km. Artinya, becak listrik tidak melanggar batasan kecepatan yang telah ditetapkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 mengenai Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).  "Becak listrik hanya menggunakan dinamo dan aki saja, jalannya jadi tidak cepat, apalagi setelah ditambah beban," tambah pria asli Yogyakarta ini.

Ide Datang ketika Melihat Lingkungan Sekitar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bersama Walikota Yogyakarta Haryadi Suyuti yang mencoba sepeda listrik buatannya. (Foto : Dok Wiwien)

Selain becak listrik, Wiwien juga membuat sepeda listrik ala Harley Davidson. Ia memodifikasi bentuk sepeda dengan menambahkan ban besar di bagian belakang, merangkai kerangka seperti motor-motor besar dan tetap menggunakan dinamo serta aki sebagai penggerak. Uniknya, karena kendaraan seperti ini tidak banyak dijumpai di jalanan Kota Yogyakarta, ia kerap menjadi bahan tontonan masyarakat, tidak terkecuali Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti.

Wiwien menceritakan pengalamannya ketika walikota mencoba sepeda listrik miliknya pada Minggu (7/8/2016). Padahal, ia datang ke acara tersebut tidak sengaja, hanya sekedar jalan-jalan di pagi hari. "Minggu lalu ada acara Car Free Day di depan kantor Kedaulatan Rakyat, Jalan Margo Utomo. Saya biasa mengayuh sepeda ke daerah situ, ternyata walikota juga sedang di situ," ucapnya. Ia menambahkan mungkin walikota merasa kendaraan yang ia naiki unik, sehingga dirinya diberhentikan oleh salah satu staf walikota dengan dalih walikota ingin mencoba sepeda listrik miliknya.

Pernah juga, suatu hari ketika ia sedang mengayuh sepeda listriknya, seorang pengendara motor menyalip dan menghentikan motornya. Ternyata, pengendara itu ingin merekam sepeda listrik warna oranye yang sedang dinaiki Wiwien. Kedepannya, ia berharap semoga bisa terus berkarya bagi masyarakat yang membutuhkan. Dengan begitu, Wiwien merasa hobinya dapat bermanfaat dan kota Yogyakarta yang ia tinggali saat ini mampu menjadi proyek percontohan bagi daerah lain kaitannya dengan moda transportasi listrik. (Ardhike Indah)

BERITA REKOMENDASI