Alimatul Qibtiyah, Cerita Tentang Perjuangan Perempuan untuk Keseteraan

ALIMATUL Qibitiyah duduk di balik meja kerjanya, lengkap dengan gelang manik, dan kalung panjang yang selalu menyertai outfit-nya. Dia baru selesai dengan seminarnya di Sekolah Gender 2019, beberapa menit setelah pukul 16.30 WIB.

Aku duduk di kursi pertama dekat pintu, di ruang Wakil Dekan II Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga (UIN SuKa). Fakultas yang sama saat dirinya menempuh S1 jurusan Penerangan dan Penyiaran Agama Islam (PPAI), dan lulus pada 1995.

Perempuan kelahiran September 1971 itu masih harus menyelesaikan beberapa laporan administrasi, dan urusan lainnya meski telah lewat dari jam kerja. 

Sebelum mulai berbincang, Alim sempat memperlihatkan buku sakunya yang berisi jadwal kegiatan, dan hampir semua kotaknya penuh dengan tulisan. Dia perempuan super sibuk!

Aku penasaran bagaimana dia bertahan dengan tugas-tugasnya, dan seringkali stand by di kantor mulai pukul enam pagi.

Just do the best for your self. Saya melaksanakan tugas-tugas yang diberikan, mencoba untuk membantu walaupun kadang itu bukan tupoksi kita. Yang penting kita selesai bersama, katanya menggambarkan dirinya sendiri.

Kami berbincang tentang penerimaannya sebagai komisioner di Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), per 1 Januari 2020 mendatang. Ada 15 orang terpilih, dan Alim menjadi satu-satunya perwakilan dari Yogyakarta.

Sebelumnya, Alim pernah duduk sebagai direktur Pusat Studi Wanita (PSW) UIN SuKa pada  2014-2015. Tahun 2015-2020, ibu tiga putra ini dipercaya sebagai Ketua Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pimpinan 'Aisyiyah.

Di saat yang sama, dia juga anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Dia turut menggagas gerakan perempuan damai dan perempuan anti ekstrimisme. Alimatul adalah salah satu koordinator Agen Saya Perempuan Anti Korupsi (SPAK).

Tulisannya bertebaran di mana-mana, mayoritas mengulas tentang perempuan, gender, dan gerakan feminis. Beberapa yang berangkat dari pengalamannya adalah Pedagogi Kesetaraan dalam Keluarga, Intervensi Malaikat dalam Hubungan Seksual, dan yang terbaru; The Secret to A Happy Marriage; Flexible Roles.

 

One Step Closer with Alimatul Qibtiyah

Itu adalah deretan prestasi yang bagus, pengantar yang mengesankan sebelum kami berbincang tentang masa lalunya ketika berkenalan dengan ‘gender’.

“Itu sekitar tahun 1995, ya. Saya dulu aktif di organisasi, kemudian muncul isu-isu gender. Itu kan sesuatu yang baru, kok menarik, tentang hak-hak perempuan,” ungkapnya.

Alimatul dibesarkan oleh paman dan bibinya yang sama-sama aktif bekerja, namun tetap saling membantu dalam kehidupannya. Baginya, itu cara mendidik yang sangat menginspirasi. Bagaimana  seseorang melihat relasi antara laki-laki dan perempuan itu saling melengkapi meski keduanya sibuk.

Dia aktif mengikuti pelatihan gender di tahun 1997. Bahkan mulai membawa isu gender ke dalam tesisnya di S2 Psikologi Sosial UGM, dan selesai pada tahun 2000. Tepat 10 tahun setelah kelulusan S1-nya, Alim menyelesaikan studi S2 untuk kedua kalinya, di Womens Studies di University of Nothern Iowa, Amerika Serikat.

Ada satu kisah yang meski bukan menjadi alasan utamanya fokus ke dunia perempuan, namun cukup berkaitan. Kejadiannya sekitar tahun 2003 atau 2004. Alim belum lama memulai studi S2 nya di Amerika, dan kakak perempuannya amat senang dengan berita bagus itu.

Di saat yang sama, keluarga kakaknya terhimpit masalah ekonomi yang cukup serius. Dia memutuskan menjadi TKW, entah ke Brunei Darussalam, atau ke Arab.

“Dia mengalami ketidakadilan gender karena ketika ada persoalan ekonomi. Terkadang perempuan itu yang harus menyelesaikan masalah-masalah itu, dengan cara menjadi TKW,” tuturnya dengan suara yang lebih pelan. 

Sudah barang umum, kata Alim, orang Ngawi itu jadi TKW. Bahkan hingga hari ini, jumlahnya selalu banyak. Data dari Dinas Perdagangan, Perindustrian, dan Tenaga Kerja (DPPTK) menyebut, per Januari 2019, jumlah TKW/TKI yang berasal dari Ngawi mencapai angka 1.275.

Kembali pada kisah kakaknya, Alimatul mengisahkan bagaimana kakaknya telah berusaha meminjam uang di Bank dan mengurus segala persiapan keberangkatan. Naasnya, sebelum keberangkatan, kakaknya positif hamil dan gagal terbang. Kejadian itu memicu stress, bahkan kadungan kakaknya keguguran tak lama setelah itu.

“Tidak tahu kenapa, dia saat itu dibawa ke bidan biasa gitu. Kemudian tidak bersih dan menjadi kompleks (penyakitnya), dan merembet sampai ke ginjal,” tuturnya.

Kakaknya meninggal dunia beberapa waktu setelahnya. Menurut Alim, meninggalnya beliau itu karena ketidakadilan gender. Di samping karena sistem kerja di Indonesia juga semakin sulit untuk dicapai oleh kaum perempuan kala itu.

Kisah itu hanya satu dari sederet cerita tentang perempuan, yang menurut Alim perlu diperjuangkan hak dan kesetaraannya. Untuk itu perlu ada orang-orang yang berkiprah dan berjuang demi mengatasi persamalahan perempuan Indonesia. *(Ika Nur Khasanah/ KRAkademi)

BERITA REKOMENDASI