Cerita Althaf, Mahasiswa UGM Penyandang Tuna Rungu Raih Predikat Cumlaude

Editor: KRjogja/Gus

SLEMAN, KRJOGJA.com – Muhammad Erwin Althaf (24) sekilas tampak normal seperti mahasiswa kebanyakan. Perawakannya tinggi, wajahnya lumayan tampan dengan kacamata bulat yang hampir selalu melekat.

Namun siapa sangka, ia merupakan mahasiswa berkebutuhan khusus penyandang tuna rungu yang berhasil meraih prestasi luar biasa. Ia berhasil lulus dari Fakultas Peternakan UGM dengan predikat cumlaude dalam wisuda yang digelar di Grha Sabha Pramana UGM, Rabu (19/2/2020).

Perjalanan Althaf ternyata tak mudah, sang ayah Dr Edi Sumarwanto membantu bercerita pengalaman jatuh bangun anaknya selama menempuh pendidikan. Althaf mengalami tuli sejak lahir, karena sang ibu drg Eny Rusdaningsih sempat mengalami permasalahan ketika usia kehamilan muda.

Kedua orangtua sempat berusaha memberikan pengobatan maksimal bagi Althaf, namun sayang takdir Tuhan tak bisa dibendung. Pendengaran Althaf tak bisa difungsikan, hanya sedikit di telinga sebelah kiri pun dalam desibel tinggi saja.

Perjuangan Althaf pun terbilang luar biasa, karena ia bersekolah di sekolah umum. Bahkan ia rela berjauhan dengan orangtua untuk menempuh SMA di Yogyakarta, hidup mandiri ditengah keterbatasan pendengaran.

“Setelah lulus SMA ternyata dia bisa masuk UGM melalui jalur SNMPTN undangan. Kami yakinkan untuk terus mengejar pendidikan sesuai yang dia inginkan. Awalnya saya khawatir dia akan kesulitan, tapi ternyata tidak seperti itu,” ungkap Edi Sumarwanto usai sesi wisuda, Rabu (19/2/2020).

Di bangku perkuliahan, Althaf sempat kesulitan menyerap materi dari dosen karena ia merupakan difabel tuna rungu yang mengandalkan gerak bibir untuk menangkap pemahaman, bukan dengan bahasa isyarat. Tapi, bantuan rekan-rekan dari UKM Peduli Difabel UGM membuatnya bisa bertahan hingga akhirnya berhasil menyelesaikan ujian pendadaran pada bulan September 2019 lalu.

“Saya sempat kesulitan, pernah dapat nilai satu mata kuliah D padahal teman-teman lain tidak ada yang dapat D. Tapi kemudian berusaha lagi dan bantuan teman-teman ternyata luar biasa pada saya,” imbuh Althaf dibantu rekannya dari UKM Peduli Difabel, Bima Indra Permana.

Akhirnya, melewati empat tahun penuh perjuangan, skripsi berjudul Pengaruh Penambahan Bungkil Jintan Hitam Terhadap Konsumsi dan Kecernaan Pada Domba Merino mendapat pengakuan dari dosen-dosen penguji. Predikat Cumlaude berhasil didapatkan karena nilai-nilai seluruh mata kuliah yang didapatkan pemuda kelahiran 30 Januari 1995 ini nyaris sempurna.

Kini, selepas lulus dari jenjang Strata 1, Althaf berniat melanjutkan pendidikan ke jenjang lanjutan. Althaf maupun kedua orangtuanya pun berniat untuk menujukkan fakta bahwa anak dengan kebutuhan khusus bisa meraih cita yang diinginkan jika mau membuka diri.

“Semua itu bisa kalau kita mau. Kami berharap orangtua yang memiliki anak dengan kebutuhan khusus mau membuka diri, jangan justru ditutup akses bagi anaknya. Tidak ada yang tidak baik yang diciptakan Tuhan, kita harus percaya itu,” pungkas Edi Sumarwanto, ayahanda Althaf. (Fxh)

 

BERITA REKOMENDASI