Corona dan Perang Intelijen Berbasis Bioteknologi

Dari dua contoh di atas Suhendra memprediksi perang masa depan bukan lagi mengandalkan senjata berat artileri atau bom, melainkan lebih cenderung perang intelijen dengan berbagai cara, salah satunya menggunakan senjata biologis atau bioteknologi.

“Perang intelijen dengan bioteknologi ini membutuhkan riset yang panjang, namun ada keunggulannya yaitu sulit terdeteksi dan bisa berdampak destruktif yang lebih masif dan sistemik,” jelasnya.

Apa yang diprediksi Koontz dalam novel TEOD dan film “Mission Impossible”, menurut Suhendra, sangat mungkin terjadi saat ini dan di masa yang akan datang. Sebab perkembangan teknologi saat ini sudah begitu pesat dan tak terkendali. “Tidak ada batasan lagi dalam menghancurkan pertahanan sebuah negara dengan menggunakan segala cara,” cetusnya.

Jadi kalau saat ini ada orang yang mengaitkan pandemik Covid-19 dengan operasi intelijen bioteknologi dinilai Suhendra juga tidak terlalu salah. Apalagi kejadian pandemik Covid-19 ini berbarengan dengan memanasnya perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Bisa juga dikaitkan dengan momentum keluarnya Inggris dari Uni Eropa.  “Semua analisis intelijen bisa saja dilakukan, asal bisa dibuktikan dengan data dan informasi akurat, bukan sekadar analisis yang memancing polemik dan kegaduhan,” paparnya.

BERITA TERKAIT