Ibu di Sleman Ini Cantelkan Bahan Makanan untuk yang Membutuhkan

ANEKA sayuran, telur, minyak, mie instan tergantung di bambu yang melintang di jalan kampung. Di situ tertulis, “Sumonggo bagi yang membutuhkan”. Di tempat yang sama juga ada tulisan yang berisi ajakan, “Dengan senang hati dipersilahkan juga yang mau ikut menambah / memberi di sini.” Ada juga sebuah gunting kecil yang ditali menjuntai. Digunakan bagi siapa saja yang mau mengambil bahan makanan yang adaada disitu. Aksi itu dilakukan oleh Ardiati Bima, warga, Rajek Lor, Tirtoadi, Mlati Sleman, Yogyakarta. Aneka kebutuhan dapur itu sengaja diletakan di tempat itu olehnya untuk diambil oleh orang yang membutuhkan, terutama yang terdampak covid-19.

“Saya terinsipirasi oleh foto warga Surabaya yang mencantelkan mie instan, kok jadi ingin ikut-ikutan. Apalagi pagi itu saya dengar sudah ada tetangga yang dirumahkan dari tempat kerja,” kata Ardiati saat dihubungi KRjogja.com, Sabtu (25/04/2020). Ardiati kemudian berpikir untuk melakukan hal serupa.

Ardiati yang mengaku hanya warga biasa ini mengatakan, dalam kondisi seperti ini menurutnya semua terdampak. Orang-orang, yang tergolong tidak mampu di masyarakat biasanya sudah disantuni oleh tetangga yang lain. Selain itu biasanya sudah mendapatkan program pemerintah seperti Program Keluarga Harapan, kartu sehat, bahkan listrik gratis.

“Saya kepikiran justru golongan menengah bawah yang punya kewajiban BPJS mandiri yang harus tetep bayar penuh, listrik bayar penuh dan lain-lain. Karena dia gak kerja, otomatis kewajiban tetap ada, tapi penghasilan gak ada,” katanya. Awalnya maksud dari Ardiati nyanthelin ditujukan untuk orang-orang seperti itu.

Ardiati kemudian berpikir, selain mie instan apa yang bisa ia bagi. Hari pertama ia cantelkan  telur, mie instan, gula jawa. Hanya 4 kresek atau tas plastik. Ia berpikir yang penting mulai dulu saja.

Ardiati Bima mengemasi bahan makanan untuk ‘cantelan’ yang akan diletakan di jalan kampung

Ardiati juga sempat gamang, jangan-jangan yang mengambil bukan orang yang butuh. Namun, pikiran itu kemudian ia kesampingkan. Ia percaya orang-orang yang mengambil adalah orang yang memang butuh atau merasa butuh. Ardiati berpikir kalau ragu-ragu malah tidak akan melakukan sesuatu.

Apa yang dilakukan oleh Ardiati ternyata diketahui oleh tetangganya. Hari kedua, tetangganya itu datang ke rumahnya dengan membawa seikat besar kangkung dan selada. “Titip buat dicantelin,” kata tetangganya.

Berbagi Hasil Panenan Kebun

Menurut Ardiati, apa yang dilakukan olehnya sebenarnya sudah banyak dilakukan oleh orang lain, seperti bagi-bagi di hari Jumat. Ajang berbagi juga bukan hal baru, hanya variasi yang dibagikannya mungkin kali ini berbeda. Sebagai warga biasa..

BERITA REKOMENDASI