Kisah Hoji Hojiev, Bule Tajikistan yang Mendapat Beasiswa di UGM

SEBUAH pepatah lama mengatakan, “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina.” Pepatah bukan tanpa alasan. Ini dimaksudkan untuk memotivasi orang-orang agar mencari dan menuntut ilmu walau sejauh apapun. Hal ini pula yang mengilhami seorang Hoji Hojiev (20), untuk menuntut ilmu hingga ke luar negeri.
 
Namun bedanya, bagi pria berkebangsaan Tajikistan ini pepatah tersebut harus diganti menjadi “Tuntutlah ilmu sampai ke Indonesia.”
Mahasiswa Linguistik yang Mendapatkan Beasiswa Pemerintah Indonesia
 
Dari jauh, wajah pria ini sangat mudah dikenali. Hidung mancung ditambah kulit putih bersih khas Asia Tengah membuatnya menjadi pusat perhatian. Dia adalah Hoji Hojiev atau akrab disapa Hoji, mahasiswa asing asal Tajikistan yang kini tengah menempuh pendidikan di Universitas Gadjah Mada. 
Awalnya, Hoji merupakan seorang mahasiswa yang sedang menempuh studi Linguistik di Tajik Institute of Languages, Tajikistan.
 
Pada saat mengikuti perkuliahan di kampus, ia mengikuti program beasiswa dari pemerintah Indonesia. “Beasiswa tersebut bernama Darmasiswa. Program ini khusus untuk mahasiswa internasional yang ingin exchange setahun untuk berkuliah di sini (Indonesia).” ujarnya dalam bahasa yang bercampur antara Indonesia dan Inggris kala diwawancarai KRJogja.com pada pertengahan Desember 2019.
 
Beasiswa Darmasiswa merupakan beasiswa tahunan  yang dikelola oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang ditawarkan kepada semua siswa asing dari negara-negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan Indonesia untuk belajar Bahasa Indonesia. Program ini sudah berjalan sejak tahun 1974 dan kini telah diikuti oleh 111 negara dari seluruh dunia, termasuk negara asal Hoji, Tajikistan.
 
Hoji mengungkapkan, saat itu ia tertarik untuk mengikuti beasiswa Darmasiswa ini sebab beasiswa ini bersifat fully funded atau sepenuhnya dibiayai sehingga calon penerima beasiswa tidak membayar sepeserpun. “Mereka (Kemendikbud) yang membiayai semuanya. Mereka membiayai studi dan memberi biaya hidup. Jadi kami (penerima beasiswa) tinggal datang dan belajar” ungkapnya.
 
Perjuangannya Meraih Beasiswa
 
Hoji menuturkan bahwa perjuangannya dalam meraih beasiswa ini tidak mudah. Pertama-tama ia harus mengirimkan application letter ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di negaranya. Jika lolos, kemudian ia akan melalui tahapan tes tulis, wawancara, serta seleksi dari universitas. Berbagai proses seleksi ini pun memakan waktu yang cukup lama, yakni sekitar setahun.
 
“Semua seleksi waktunya yang cukup lama. 4-5 bulan untuk menunggu surat permohonan, 2 bulan untuk tes dan wawancara, setelah itu ada seleksi universitas sekitar 3 bulan, dan sisanya untuk persiapan berangkat,” ujarnya.
 
Ia menambahkan bahwa dari ratusan peserta yang ikut seleksi, hanya diambil 10 orang terbaik se-negaranya. Sepuluh penerima beasiswa ini kemudian ditempatkan di universitas-universitas di seluruh Indonesia. “Tidak hanya Jogja. Ada juga yang ditempatkan di Jakarta, ada juga yang di Malang. “ ungkap pria yang mengambil prodi Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya UGM ini.
 
Sudah Mulai Lancar Berbahasa Indonesia dalam 2,5 Bulan
 
Selama berada di Indonesia, Hoji sudah mulai mahir dalam berbicara Bahasa Indonesia. Bahkan, hanya dalam tempo 2,5 bulan, ia kini telah dapat melakukan komunikasi secara dasar dengan lancar. Menurutnya, belajar Bahasa Indonesia tidak berbeda jauh layaknya belajar bahasa lain. “Sama-sama belajar struktur kata, grammar, kosakata, dan lain-lain. Persis seperti belajar Bahasa Inggris.” ungkap pria kelahiran 1 Januari 1999 ini.
 
Menurut Hoji, belajar bahasa itu sangat menarik. Dengan mempelajari bahasa suatu negara, maka secara tidak langsung akan belajar kultur serta karakter warga suatu negara tersebut. Hal ini berlaku pula dalam belajar Bahasa Indonesia. 
 
“Ada perbedaan yang sangat mencolok antara orang Indonesia dan Tajikistan. Disini, budayanya jauh lebih beragam dan orangnya ramah-ramah.” tambahnya.
 
Kini, Hoji tengah menghadapi Ujian Akhir Semester (UAS) di UGM. Meskipun berstatus sebagai mahasiswa exchange, ia pun juga harus menjalani ujian selayaknya mahasiswa lain. Bentuk soalnya beragam, ada tes lisan dan juga tes tertulis.”Kira-kira ada 5 ujian. Ada berbicara dalam bahasa Indonesia. Ada juga ujian tata bahasa seperti kalimat aktif dan kalimat pasif.” jelasnya.
 
Dalam program beasiswa Darmasiswa, Hoji hanya berada di Indonesia selama setahun, yakni hingga Juni 2020. Setelah itu ia kembali lagi ke negaranya untuk melanjutkan studi di universitas asalnya. “Saya hanya berada setahun disini, kemudian saya pulang ke Tajikistan untuk melanjutkan studi untuk beberapa tahun, kemudian saya akan lulus.” pungkasnya. (Nico Faishal/KR Academy).
 
Baca Juga : 
 

BERITA TERKAIT