Kisah Pejuang Soemardi, Amankan Presiden RIS Hingga Ledakkan Jembatan Kali Bedog

Editor: Ivan Aditya

SETIAP menjelang peringatan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 76 tahun silam, ingatan R Soemardi (95) selalu melayang pada peristiwa 72 tahun lalu saat merebut kemerdekaan dari Belanda dalam Serangan Oemoem 1 Maret 1949 di Yogyakarta. Kala itu Soemardi bergabung dalam Satuan Polisi Tentara (PT) yang sekarang dikenal sebagai Polisi Militer.

Perjuangannya diawali organisasi kepemudaan yang berjuang untuk kemerdekaan di era penjajahan Jepang. Baru setelah Proklamasi Kemerdekaan dan Belanda mulai menguasai kembali Indonesia, Soemardi bergabung dalam BKR dan pada pembentukan Tentara Republik Indonesia masuk dalam kesatuan Polisi Tentara.

Pria kelahiran Kampung Jlagran Yogyakarta, 17 Mei 1926 (di data administrasi 1929) ini dibesarkan dalam Benteng. Awal keterlibatannya ikut memanggul senjata karena tertarik dengan penampilan saudara sepupunya bernama Sumaryadi tinggal di Desa Mejing Gamping, Sleman.

“Saat itu saya yang masih usia belasan melihatnya gagah. Berpakaian tentara dengan peci dan baret serta membawa senjata. Akhirnya saya bisa bergabung BKR dan masuk satuan Polisi Tentara di Kompi 26. Di Yogya saat itu ada Denpom dan Kompi 26 Polisi Tentara. Kompi ini terlibat dalam operasi-operasi pendukung pertempuran termasuk Serangan Oemoem 1 Maret 1949. Saat itu Serangan Oemoem berhasil menurunkan moril pasukan Belanda. Pertempuran ada di mana-mana untuk merebut Yogyakarta. Banyak korban di kita karena persenjataan tidak berimbang,” kisah Soemardi di rumahnya Jalan Tamtama Raya No 166 Jangli Tembalang Semarang, Sabtu (14/08/2021).

BERITA REKOMENDASI