Kompol Etty Haryanti: Dulu Saya Ingin Jadi Dokter

NASIB seseorang tidak ada yang tahu. Begitu juga karier. Kendati sudah menata hidup mencari peruntungan di bidang yang diinginkan, akhirnya berujung dengan profesi yang dijalani saat ini. Sebagaimana yang dialami Kompol Etty Haryanti (48).

Polisi wanita (polwan) yang bertugas di Polresta Yogyakarta dan menjabat sebagai Kapolsek Kraton ini, mengaku polwan bukanlah cita-citanya. 

"Dulu saya ingin menjadi dokter. Tapi begitu saya daftar di salah satu universitas ternama yang ada di Yogya, saya tidak lolos," kata Etty saat ditemui kepada KRJOGJA.com di Mapolsek Kraton. 

Setelah tidak mendapat peruntungan itu, perempuan kelahiran Sleman, ini lalu melanjutkan pendidikannya dikampus lain dan berhasil memperoleh gelar Sarjana di jurusan Ilmu Komunikasi. Lalu bagaimana takdir membawanya menjadi polwan?

"Saat itu ada pendaftaran polwan dan saya cukup tertarik. Saya mencoba daftar di Polwil Yogyakarta pada tahun 1989. Saya daftar satu kali daftar langsung lolos," ungkap Etty menceritakan pengalamannya.

Anak ke tiga dari tiga bersaudara ini keinginan menjadi polisi wedok (wanita) adalah sebuah tantangan bagi dirinya. Mengingat, rata-rata kebanyak polisi laki-laki. 

Polisi dengan seragam khas mereka merupakan sosok yang tegas untuk mencerminkan citra polisi, sehingga, tidak sedikit masyarakat yang merasa canggung bertemu polisi. Etty menyebut, padahal itu adalah casing (bentuk dari luar) polisi ketika bertugas.

"Dulu itu banyak sekali yang membenci polisi. Kenapa kok banyak polisi yang dibenci. Berangkat dari sana, saya kepengen polisi itu tidak dibenci masyarakat gimana caranya. Dan ingin mengubah image bahwa saya ingin menjadi polwan itu biar tidak dipandang serem, galak, ben (supaya) dicintai warga bagaimana," jelasnya. 

Selama 29 tahun sudah Etty mengabdi kepada negara sebagai polwan. Waktu tersebut tentu tak mudah bagi Etty. Apalagi harus membagi pekerjaan dengan urusan keluarga. Beruntungnya anak dan suaminya mengerti dengan profesi yang sudah diperjuangkanya selama bertahun-tahun.

"Alhamdulilah anak saya sudah besar-besar. Kebetulan saya punya dua anak dan tidak ada yang menjadi polisi. Karena anak tidak ada masalah, suami juga memahami, rumah juga dekat kantor jadi saya tidak merasa berat untuk membagi pekerjaan dan keluarga," jelasnya.

Sebagai polisi, Etty tak mau tanggung-tanggung melayani serta mengayomi masyarakat. Etty menyebut memiliki kunci kesuksesan dalam menjalani tugasnya yaitu dengan empat As.

"Kerja keras menggunakan tenaga, kerja cerdas menggunakan akal pikiran, kerja tuntas dengan tanggung jawab, kerja iklas dengan hati. Saya terapkan itu. Juga empat As tersebut yang selalu atasan dengung-dengungkan kepada kami," ceritanya.

Sebagai panglima komando dalam kamar (Pangkodamar), tidak hanya memerintahkan anggota. Namun juga ikut turun langsung misalnya seperti patroli.

Pun Kepada anggotanya, selalu mengingatkan bahwa polisi jaman dahulu dengan sekarang harus berubah. Sebagi pelayan masyarakat jangan memposisikan diri lebih tinggi dari pada masyarakat yang baik bisa dapat sejajar. Tidak boleh arogan.

Jangan sampai kehadiran polisi ditengah-tengah masyarakat menjadi beban. Namun dengan adanya polisi akan menjadi masyarakat senang, terbantu, terayomi, terlindungi dan terlayani.

Menjadi polisi bagi Etty adalah suatu hal yang membanggakan. Selain bisa mengabdikan diri kepada masyarakat, pekerjaan tersebut adalah ibadah. Etty yang mengaku gemar bernyanyi, dapat mengekspor kesenangannya itu melalui pengabdian kepada masyarakat. 

"Polisi kalau memiliki jiwa seni menurut saya lebih humanis kepada masyarakat tidak kaku. Bisa kumpul dengan mereka sembari mencari informasi apasih yang mereka keluhkan. Selain itu, saya kerja bukan hanya untuk menggugurkan kewajiban saya. Tapi kerja dengan hati ketika mengayomi masyarakat," katanya.

Baca Juga :

Punya Banyak Pengikuti di Medsos, Nama Kompol Etty Pernah Disalahgunakan

Etty dikenal sebagai polisi wanita yang aktif diberbagai kegiatan. Termasuk aktif menggunakan media sosialnya. 

"Karena media sosial juga saya butuhkan untuk memberikan informasi yang edukatif kepada masyakarakat, misalnya ada gangguan dilapangan atau peristiwa penting yang masyarakat harus tahu. Dengan membagikan kegiatan saya di media sosial. Orang orang yang mau melakukan tindak kejahatan di wilayah Kraton dimana saya sedang patroli di medsos pada tidak berani," terangnya.

"Menjadi perempuan juga bisa menjadi seorang pemimpin. Jadi sebagai polisi perempuan, saya bangga mengabdikan diri kepada masyarakat. Masyarakat merasa tidak aman, tolong segera lapor saya. Kalau mau tahu media sosial instagram saya di @haryanti si.kom," imbuhnya.  (Ive)

BERITA REKOMENDASI