Mengenal Risma, Mengenal Ketulusan Pemimpin Melayani

SIANG hujan deras. Suasana di Puncak Menara At-Tauhid Universitas Muhammadiyah Surabaya agak meredup. Adalah biasa, usai istirahat dan makan siang, suasana Sidang Tanwir Aisyiyah tidaklah ‘selantang’ pagi harinya. Apalagi sidang tersebut sekadar mengganti narasumber yang ditunggu, Walikota Surabaya Tri Rismaharini.

“Ibu Risma sudah dalam perjalanan kemari dan segera akan memasuki ruangan,” suara MC terdengar tiba-tiba, di tengah sidang.

Pengumuman yang menggoda. Peserta pun sudah siap. Ditunggu 10 menit, 15 menit tak kunjung masuk ruangan. Dan tiba-tiba, 30 menit kemudian masuk seorang perempuan tanpa kawalan dengan menyapa Assalamualaikum……. Pimpinan sidang kaget dan kemudian mengucapkan selamat datang kepada Walikota Surabaya Tri Rismaharini.

Sidang terhenti. Pimpinan siding pun langsung meminta Walikota Surabaya yang sudah dinanti-nanti itu untuk tampil ke mimbar dengan didampingi Ketua PP Aisyiyah Siti Noordjanah. Dengan sejumput pengantar dari Noordjanah, Risma langsung bicara.

“Sebelumnya saya memohon maaf karena terlambat. Saya sudah berangkat awal namun di jalan hujan dan banyak daerah tergenang banjir. Saya tidak mungkin diam melewati kawasan dimana warga saya kebanjiran. Karena itu saya harus memberikan pengertian, pemahaman dan berkoordinasi dengan jajaran saya sehingga terlambat sampai di sini. Saya juga minta maaf, meski bicara di sini HT akan tetap hidup karena ini untuk monitoring meski suasana sudah lebih baik. Dan saya meminta maaf datang kesini menghadiri Sidang Tanwir Aisiyyah dengan mengenakan sepatu boots plastik. Dari lapangan dan siap segera ke lapangan lagi.”

Kalimat yang diucapkan Januari 2018 itu mengundang senyum dan membuat banyak mata terbelalak. Mereka pun kemudian melihat bagian kaki Tri Rismaharini yang siang itu mengenakan blus panjang bermotif daun berwarna coklat tanah muda, senada dengan kerudung dan celana panjangnya.

***

TRI RISMAHARINI, dalam catatan sejarah memang bukan perempuan walikota pertama di Indonesia. Sebelumnya ada Salawati Daud (Makassar, 1949), Agustine Magdalene Waworuntu (Mandado, 1949). Namun Risma adalah perempuan pertama yang terpilih sebagai walikota dengan pemilihan langsung di era reformasi.

Kehadirannya selalu terasa fenomenal. Di awal memimpin Surabaya tahun 2010, ia bahkan ‘lebih sering mempertontonkan tangisan’ ketika memimpin Surabaya. Seolah Risma ingin meneguhkan stigma, perempuan itu identik dengan airmata, termasuk ketika berada di zona publik sebagai pemimpin rakyat.

Realita yang waktu itu menghadirkan kritik dan membuat lelaki dengan mudah menuduh bila sejatinya perempuan kelahiran Kediri 20 November 1961 ini tidak mampu menjadi pemimpin, menjadi walikota. Apalagi Walikota Surabaya. “Stigma bila perempuan itu lemah, cengeng memang kuat mencengkeram. Dan jangan lupa, Risma adalah produk dari konstruksi jender yang menjadikan perempuan itu cengeng. Jadi, sejatinya tidak masalah, wajar saja. Semua itu berproses,” ungkap Komisioner Komnas Perempuan 2014-2019 Dr Budi Wahyuni.

Proses pun berlangsung cepat. Agaknya Risma juga mendengarkan suara-suara miring tersebut. Yang muncul kemudian adalah gaya kepemimpinan dan terkesan strong. Risma pun diidentikkan sebagai pemimpin yang keras, emosional dan suka marah-marah. Sebagaimana video yang viral ketika Rismaharini marah-marah soal pengurusan KTP, marah-marah soal taman Bungkul dan lainnya. Seakan ada citra buruk yang hendak disampaikan pada masyarakat

***

Tidak mudah menyibak diskriminasi perempuan laki-laki, sekalipun ia seorang pemimpin. Namun budaya yang sudah mandarah mendaging justru membuat alumnus Aristektur ITS seakan matak aji, untuk menegakkan langkah. Ketika akan menutup kawasan prostitusi terbesar Asia Tenggara, Dolly yang dipaparkan sore itu kepada para Pimpinan Wilayah Aisyiyah se-Indonesia mengundang air mata. Bagaimana tidak?

Sebelum berangkat telah berpamitan pada keluarga, apakah akan pulang atau tidak. Pasalnya, tidak sekadar perputaran uang di kawasan ini tidak sedikit dan banyak oknum memanfaatkan kawasan ini. Namun juga banyak kepentingan di situ.

“Saya seorang perempuan. Dan saya tahu di sini ada perdagangan perempuan untuk pemuas syahwat. Ini mengerikan sekali, terutama dampaknya bagi anak. Ada panggilan untuk menyelamatkan masa depan, apalagi melihat ada seorang bocah berusia 8 tahun yang sudah kecanduan seks karena melihat lingkungan yang sangat tidak biasa dengan perbuatan itu,” ungkap istri Ir Djoko Saptoadji dengan sedih.

Risma tidak hanya membebaskan satu persatu. Puncaknya selain menutup Dolly juga membuat proyek pemberdayaan perempuan dan masyarakat dengan secara terencana. Pelatihan membatik, sablon, Sehingga mucikari, pekerja seks dan lainnya kini semua mandiri secara ekonomi dengan hasil ketrampilan yang diajarkan : membatik, membuat makanan, sablon, salon dan lainnya.

***

TRI RISMAHARINI memang fenomenal. Ibu sepasang anak : Fuad Bernardi dan Tantri Gunarni Saptoadji ini adalah perempuan gesit dan tegas dengan prinsip. Dan pemimpin komentar Budi Wahyuni memang harus tegas, konsisten dengan komitmen. Jangan salah, lanjutnya, jangan diidentikkan dia kemudian menjadi laki-laki dalam memimpin. Karena tegas itu milik lelaki dan perempuan.

“Ibu Risma itu memahami bila management adalah art, seni. Dan dia mampu melaksanakan itu,” ungkap Budi.

Mengenal Risma adalah mengenal teori memimpin itu melayani. Pakar manajemen kepemimpinan Robert K Greenleaf menyebutnya kepemimpinan yang melayani, servant leadership. Dalam teori ini disebutkan, kepemimpinan yang melayani adalah suatu kepemimpinan yang berawal dari perasaan tulus yang timbul dari dalam hati yang berkehendak untuk melayani, yaitu untuk menjadi pihak pertama yang melayani. Perasaan tulus yang muncul dari suara hati itulah yang menghadirkan hasrat untuk menjadi pemimpin yang berbasis pada melayani

Dan Risma yang alumnus S2 Manajemen Pembangunan ini sadar betul akan peran yang harus dijalani, melayani warga Kota Surabaya. Anak pasangan Mochammad Chuzaini dan Siti Mudjiatun yang 2018 silam terpilih sebagai Presiden UCLG-ASPAC (Asosiasi Pemerintah Kota dan Daerah se Asia Paisifk mengenal betul pekerjaannya, memahami kemampuannya dan tantangan yang dihadapi. Sehingga ia memiliki cara khas dalam memimpin Kota Surabaya.

Mengenal Walikota Surabaya Tri Rismaharini adalah mengenal ketulusan melayani dengan tegas. Tanpa meninggalkan kelembutan dan kecermatan untuk sebuah komitmen memajukan Kota Surabaya. (Fadmi Sustiwi)

 

BERITA REKOMENDASI