Tricahyo, Dari Bulutangkis ke Kuliner

Saat disinggung menu yang disediakan di Warung Makan Gentong, Tricahyo berujar diupayakan sesuai dengan selera pelanggan dan harganya pun terjangkau. Agar memiliki rasa khas, untuk urusan racikan bumbu masakan dibuat sendiri, tidak dipasrahkan pada orang lain. Setidak-tidaknya istrinya-lah yang secara khusus membuat racikan bumbu berbagai olahan, mulai dari sate sapi, tongseng ayam, telur gulung, hingga tongseng cakar ayam. “Ini usaha halal, jadi saya jalani dengan penuh kesungguhan,” ujar Tricahyo yang namanya mulai melejit di Turnamen Bulutangkis ‘Moenadi Cup’ Semarang pada tahun 70-an, di kelas pemula final melawan Joko Supriyanto dan di kelas remaja melawan Hermawan Susanto. Tricahyo mengaku dirinya spesialis masuk final, tetapi selalu gagal menjadi juara.

Tricahyo berujar saat ini yang dilakukan adalah memberi pemahaman kepada kedua anaknya, bahwa untuk bisa mencapai hasil maksimal harus melalui perjuangan dan proses panjang. Tidak bisa kita mencapai sesuatu dengan mudah, layaknya mendapatkan batu jatuh dari langit. Sebagaimana dirinya telah melakukan, baik sebagai seorang pebulutangkis maupun pelaku bisnis. Dirinya memegang prinsip, orang hebat lahir dari tempaan kerasnya kehidupan, bukan lantaran berbagai kemudahan dan keberuntungan saja. Prinsip itu sejak dini ditanamkan pada kedua anaknya, agar kelak mampu hidup secara mandiri.(Haryadi)

BERITA REKOMENDASI