Cerita Nawa Rie Eda, Sosok dibalik Suksesnya JTOKU Populerkan Superhero Lokal

DI SUDUT  keramaian acara MID-JAVA Toys and Comic Fair 2019 di Sleman City Hall Sabtu, (14/12/2019) mencolok sebuah patung superhero berwujud Pocong. Setelah dihampiri nampak semakin jelas bahwa patung tersebut dibuat dengan perawakan tinggi dan kekar.

Di baliknya ternyata terdapat campur tangan sosok seniman kreatif asal Yogyakarta. Nawa Rie Eda pria kelahiran 1980 merupakan Owner JTOKU, perusahaan kreatif asal Yogya yang beralamatkan di  Jl Batikan No.669, Tahunan, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta. Nawa Rie Eda merupanan seorang desainer, pembuat karakter, sekaligus filmmaker.

JTOKU Awalnya Coba-Coba dari Cosplay

Pria lulusan desain tersebut merasa di Indonesia saat ini desain selalu mengarah kepada advertising atau reklame. “Di Indonesia sosok creator character masih sangat minim,” katanya pada talkshow di arena Mid Java Toys and Comic Fair 2019.

Nawa Rie Eda merintis karyanya mulai dari tahun 2004, ia coba-coba menginisiasi untuk membuat kostum. “Tahun 2004 saat itu lagi rame-ramenya cosplay naruto, sehingga saat melihatnya sebagai peluang,” ujar Nawa.

Saat itu ia membuat kostum jaket naruto dengan modal Rp75.000. “Sambil jalan kita juga nabung, ya sekalian buat-buat karakter tokoh,”tutur Nawa. Saat ini Nawa Rie Eda telah memiliki total 30 karyawan untuk membantunya berkarya di JTOKU. Padahal pada awal mula merintis usaha Nawa Rie Eda hanya memiliki 4 karyawan saja.

Tantangan Sebagai seorang Owner dan Seniman

“Tahun 2004 itu karya saya belum dihargai, sehingga ya hanya kumpul-kumpul komunitas dulu,” tutur Nawa. Akhirnya saya tentukan jadi rumah industri pada 1 April 2005 yang berjalan hingga saat ini. 

Nawa mengatakan yang paling susah saat memberi pelajaran dan pengetahuan kepada teman-teman karena memang tidak ada sekolah khusus sebagai creator seperti ini. Saat itu di Indonesia tidak ada kreator tokoh-tokoh superhero, kostum, maupun filmmaker. “Selain itu kita kan sudah terlanjur memulai, ya harus dilanjutkan juga, sayang aja kalua harus berhenti,” tambahnya.

Nawa Rie Eda dalam proses pembuatan karya harus mengorbankan salah satu antara pemikiran produksi dan pemikiran ide. Kalau tidak dikorbankan membutuhkan waktu lama. “Apapun ide yang muncul harus segera kita catat dan diback up,” ujarnya.

Diakui Nawa, ia harus menyeimbangkan antara idelaisme dan realitas yang ada. Jika memang sumber daya tidak memungkinkan, maka ia tidak akan memaksakan diri.

Dari tahun 2007 sampai saat ini Nawa masih menyimpan coretan ide-ide sebagai suatu arsip. “Ide-ide tersebut akan saya sortir untuk benar-benar dieksekusi menjadi  sebuah karya,” katanya.

Hingga saat ini target pemasaran produk 90% selalu menyasar pasar luar negeri karena budaya popculture seperti toys, komik, dan tokoh karakter seperti ini di luar sudah sangat  diminati.

Sedangkan di Indonesia menurut Nawa sendiri baru mulai terasa ada nafasnya itu sekitar 2014 lalu. “Sekaligus sebagai momentum mengangkat eksistensi superhero lokal salah satunya ya Pocong-Man ini,” ujar Nawa.

Berangkat dari tantangan yang dihadapi Nawa seperti kemampuan sumber daya yang terbatas, Ia membuka sekolah komik dan ilustrasi bernama  Sangilus Academy.

“Di dalam kelas Sangilus Academy kita belajar bagaimana itu ilustrasi, skepting toys, dan teknik-teknik membuat karakter tokoh,”, ujar Nawa.

Rencana di Tahun 2020 JTOKU akan semakin mengembangkan di Toys-nya,kita ingin menyatukan antara komik,games, dan toys jadi satu,” tutur Nawa. (Fatony Royhan Darmawan/KRAcademy)

BERITA REKOMENDASI