Ikuti Program RISE 2.0, Jumari Pertahankan Usaha di Tengah Keterbatasan

BANTUL, KRJOGJA.com – Membangun dan mempertahankan sebuah usaha bukan perkara mudah,  apalagi hal ini dilakukan oleh para penyandang disabilitas. Jumari contohnya,  salah satu peserta Program Reach Independence And Sustainability Empowerment (RISE) 2.0 yang dilaksanakan Rabu-Kamis (15-16/1) di Balai Rehabilitasi Terpadu Penyandang Disabilitas (BRTPD) Pundong,  Bantul. 

Pria dengan kursi roda ini serius mengikuti pelatihan tersebut demi memajukan usaha jahit yang dirintisnya beberapa tahun silam. 
 Sejak 2010 silam, Jumari memutuskan untuk belajar menjahit. Melalui sebuah kursus, dia mempelajari teknik demi teknik pekerjaan yang lebih banyak diminati oleh kaum perempuan tersebut. 

Meski lulus dari kelas kursus,  pria 45 tahun itu mengaku kemampuannya belum mumpuni untuk membuka usaha jasa jahit sendiri. Beruntung ada sebuah perusahaan konveksi yang mau menerima penyandang disabilitas sebagai karyawan. "Saya kerja konveksi untuk menambah keterampilan,  nglanyahke istilahnya," sebut warga Sewon tersebut. 

Barulah beberapa tahun kemudian Jumari membuka usaha jahit di sebuah rumah kontrakan. Kali ini bukan lagi soal keahlian menjahit yang menjadi kendala,  namun lebih pada modal dan manajemen usahanya. Berbagai upaya sudah dilakukan Jumari termasuk bekerjasama dengan seseorang untuk mengembangkan usahanya tersebut. Namun, bukannya keberhasilan yang didapat, pria yang mengalami kelumpuhan pada kakinya itu justru gulung tikar lantaran ditipu oleh rekan kerjanya sendiri. "Jatuh bangun usaha saya itu, makanya saya niat belajar betul ini," ungkapnya. 

102 difabel mendapatkan materi pengembangan usaha dari Tentor People system Consultansi. (RIZA MARZUKI)

 

Dalam program RISE 2.0 ini dikatakan Jumari,  dia akan fokus belajar soal pengelolaan keuangan. Menurutnya hal itu menjadi salah satu kunci keberhasilan usaha. Sebelumnya usaha jahitnya sulit berkembang karena beberapa kesalahan pengelolaan keuangannya. Salah satunya adalah tidak memisahkan antara keuangan usaha dan keuangan pribadinya. "Di pelatihan ini saya tahu caranya bagaimana memisahkan keuangan untuk bisnis dan mengelolanya supaya efektif," terangnya. 

Project Manager RISE 2.0,  George Suwarno menyebut programnya ini lebih menekankan pada bagaimana mengembangkan usaha yang dimiliki oleh penyandang disabilitas seperti Jumari. Sehingga materi pelatihan pun banyak berkutat pada manajemen usaha, packaging,  dan marketing. Baginya, para penyandang disabilitas itu selama ini sebagian sudah banyak mendapat bantuan, akan tetapi sangat terkendala pada minimnya kapasitas pengembangan usaha. "Ya itu di luar kendala soal aksesibilitas teman-teman, seperti transportasi," terangnya. 

George menambahkan RISE 2.0 merupakan bagian dari program corporate social responsibility (CSR) Maybank. Sementara People System Consultansi (PSC) bertugas sebagai pelaksana teknisnya.  Pelatihan dua hari itu diikuti sebanyak 102 peserta disabilitas. Meski berlokasi di Bantul,  namun menurut catatannya peserta juga berasal dari luar daerah seperti Temanggung dan Purbalingga. 

Pria berkacamata itu menyebut hingga 2023 mendatang ditargetkan pelatihan ini sudah diberikan kepada 7.350 difabel di seluruh Indonesia. "Kita sudah mulai sejak 2016 lalu dan pada tahap pertama kemarin jumlah pesertanya sudah lebih dari 2.200 orang," sebutnya. 

Di Bantul sendiri pelatihan serupa sudah tiga kali ini diselenggarakan dengan bekerjasama dengan pihak lain yang memiliki komitmen pemberdayaan disabilitas. Pelatihan itu disebutkan George, akan dilaksanakan tiga fase. Fase awal seperti yang dilaksanakannya kemarin merupakan fase dasar. Kemudian peserta yang memiliki komitmen usaha yang baik akan diikutsertakan pada fase kedua dengan pendampingan selama enam bulan. Sedangkan fase akhir disebutkan bahwa pelatihan khusus diberikan pada peserta yang dicetak sebagai pioneer dengan pendampingan selama satu tahun. 

"Semua peserta yang ikut pelatihan ini sudah atau sedang berencana merintis usaha, kita akan membentuk pola pikir peserta ini dalam fase-fase pelatihan itu," pungkasnya. (C1)

BERITA TERKAIT