HIKMAH RAMADAN: Dan Dunia pun Berwukuf

Editor: KRjogja/Gus

Dr H Waryono Abdul Ghafur
Wakil Katib Syuriah PWNU DIY & Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Universitas Islam Negeri Sunan Kaligaja (UIN Suka) Yogyakarta.

AMBYAR meminjam istilah Didi Kempot itulah kata pertama yang pertama kali muncul ketika mengikuti pemberitaan bahwa virus Korona atau Covid-19 telah melanda hampir seluruh permukaan bumi. Tentu saja ambyar, karena pandemi ini menyebabkan banyak rencana penduduk bumi berubah cepat dan sebagiannya, bahkan terhenti.

Korona telah menahbiskan ungkapan yang sudah umum bahwa “kita hanya bisa berencana, namun Tuhan yang menentukan”. Kata-kata ini sepenuhnya benar, apalagi bagi kita yang beragama, karena negara besar dengan teknologi canggih dan kaya sumber daya, nyatanya dipaksa mengikuti protokol kesehatan yang berlaku universal. Karena korona menyasar semua manusia, tanpa pilih agama dan negara.

Yang menarik dari beberapa hal terkait protokol kesehatan WHO adalah agar manusia kembali dan berdiam di rumah (‘stay at home’). Kerja di rumah, belajar di rumah, dan ibadah di rumah. Dari tiga aktivitas di rumah tersebut, yang dirasakan paling sulit adalah kerja di rumah. Karena tidak semua jenis pekerjaan dapat dikerjakan di rumah, apalagi pekerjaan yang memerlukan alat bantu yang tidak semua ada di rumah. Dan tentu saja, karena ada pekerjaan yang memang tempat dan lokasinya di luar rumah, misalnya objek wisata, pabrik, bandara, terminal, sawah, kebun, peternakan, dan lain-lain. Atas alasan itulah manusia sulit diam dan bekerja di rumah.

Sejak ditemukannya alat transportasi modern, seperti kapal laut, pesawat terbang yang super canggih, kereta api, mobil, motor, dan lain-lain, sejalan dengan hasrat manusia akan pengetahuan, pekerjaan, dan kepuasan, gerak manusia di muka bumi tidak terbendung. Manusia “tawaf” dan “sa’i” sepanjang hari mengelilingi bumi; di darat, di laut, dan di udara, sehingga tidak ada sejengkal dunia ini yang tidak dijamah oleh manusia.

Ternyata gerakan massif manusia di dunia tanpa henti itu menimbulkan malapetaka bagi manusia sendiri; alam rusak tercemar, air laut kotor, udara tidak sehat, bumi tidak subur dan juga bagi ekosistem lain; ikan tidak merdeka berenang, burung tidak nyaman terbang, singa tidak nyaman istirahat dan lain-lain. Mungkin itulah yang diingatkan Allah dalam firman-Nya:”[Karena mereka akhirnya melalaikan Allah,] telah muncul kerusakan di darat dan di laut sebagai akibat dari perbuatan tangan-tangan manusia: dan demikianlah Dia akan membiarkan mereka merasakan [akibat buruk] dari sebagian perbuatan mereka agar mereka dapat kembali [ke jalan yang benar].” (QS. ar-Rum [30]: 41)

Protokol kesehatan WHO yang mengharuskan manusia ‘stay at home’ dan menghentikan semua alat mobilitas manusia, mengingatkan kita pada salah satu rukun haji, yaitu wukuf di Arafah. Wukuf artinya berhenti dan berkumpul dalam tenda besar; bumi Arafah, dalam rangka mengenali jati diri (‘arafa nafsihi) dengan ‘taqarrub ilallah’ agar menjadi manusia yang otentik. Covid-19 telah memaksa manusia di seluruh muka bumi untuk berhenti “sa’i” (beraktivitas terus-menerus) dan “tawaf” (berputar dan bergerak tanpa henti) dan berkumpul bersama keluarga di “bumi Arafah” masing-masing.

Hikmahnya, secara internal manusia mendapatkan kembali keintimannya bersama keluarga yang boleh jadi sudah hilang direnggut berbagai kesibukan dan mencari kepuasan di luar rumah dan secara eksternal memberi kesempatan kepada alam mereformasi diri. Korona telah membuat dunia berwukuf.

Dalam konteks itulah -dengan pemaknaan lebih luas dan kontekstual- sangat tepat Allah mengingatkan: “Dan, tinggallah dengan tenang di rumah-rumah kalian…., Dan, ingatlah semua pesan-pesan Allah dan hikmah[-Nya] yang dibacakan di rumah-rumah kalian: sebab, Allah Maha Tak Terduga [hikmah-Nya], Maha Mengetahui.” (QS. al-Ahzab [33]: 33-34). Wukuf dalam skala besar, dengan demikian, diharapkan memberikan ketenangan batin dan memberikan kemampuan menangkap pesan-pesan Allah kembali yang boleh jadi sudah lama dilupakan. (*)

BERITA REKOMENDASI