HIKMAH RAMADAN: Pendidikan Karakter Melalui Ibadah Ramadan

Editor: KRjogja/Gus

PENDIDIKAN karakter merupakan pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati.

Pendidikan karakter tidak hanya sekAdar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah, lebih dari itu, pendidikan karakter menanamkan kebiasaan (habituation) tentang hal yang baik sehingga peserta didik menjadi paham (domain kognitif), tentang mana yang baik dan salah, mampu merasakan (domain afektif), dan nilai yang baik dan biasa melakukannya (domain psikomotor). Pendidikan karakter yang baik menurut Thomas Lickona, harus melibatkan bukan saja aspek pengetahuan yang baik (moral knowing), tetapi juga merasakan dengan baik atau loving good (moral feeling), dan perilaku yang baik (moral action).

Hal tersebut sesuai dengan ajaran hidup Ki Hadjar Dewantara, “Tringa” yang meliputi ngerti (mengerti atau mengetahui), ngrasa (merasakan), dan nglakoni (melaksanakan), bahwa dalam segala ajaran, cita-cita hidup yang kita anut diperlukan pengertian, kesadaran dan kesungguhan dalam pelaksanaannya. Tahu dan mengerti saja tidak cukup, kalau tidak merasakan, menyadari, dan tidak ada artinya kalau tidak melaksanakan dan tidak memperjuangkan.

Semua ibadah dalam bulan Ramadan, baik ibadah puasa wajib maupun ibadah sunnah, bernilai pendidikan karakter, baik bagi Umat Islam sebagai pengemban kewajiban untuk melaksanakan ibadah puasa, sebagaimana diperintahkan dalam Surah Al-Baqarah ayat (183), “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”, maupun bagi umat selain Islam. Betapa dalam ibadah puasa Ramadan beserta ibadah sunnah seperti salat tarawih, dzikir, sodaqoh, kajian-kajian, dan lainnya mengandung nilai-nilai karakter yang selama ini menjadi acuan dalam pendidikan karakter, seperti religius, jujur, toleransi, disiplin, kreatif, mandiri, rasa ingin tahu, saling menghargai, bersahabat/komunikatif, cinta damai, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab, dan sebagainya. Umat selain Islam pun, secara tidak langsung telah melaksanakan pendidikan karakter dengan mengimplementasikan nilai-nilai karakter, seperti saling menghargai atau toleransi dengan umat Islam, persahabatan, cinta damai, dan peduli lingkungan.

Karena itu, momen bulan Ramadan adalah waktu yang tepat dijadikan sarana untuk menyiapkan pembinaan karakter anak-anak kita dan masyarakat sekitar. Orangtua dan tokoh masyarakat sedapat mungkin menjadi model, model sekaligus mentor dari anak-anak kita dan masyarakat sekitar dalam mewujudkan perilaku yang berkarakter, karena pendidikan karakter tidak saja menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi menjadi tanggung jawab bersama antara sekolah, masyarakat, dan keluarga. Kita harus berusaha melaksanakan dengan baik unsur-unsur dalam pendidikan karakter yang disebutkan dalam pengantar tulisan ini, bahwa dalam melakukan ibadah dalam bulan Ramadan, kita harus secara total melaksanakan perilaku dalam pendidikan karakter, yaitu menyampaikan pengetahuan yang baik (moral knowing) sehingga dapat mengetahui atau ngerti, merasakan dengan baik (moral feeling) atau ‘ngrasa’, dan melakukan dengan baik (moral action) atau ‘nglakoni’.

Semua nilai-nilai karakter yang dapat kita terapkan selama melaksanakan ibadah dalam bulan Ramadan (puasa wajib dan ibadah sunnah), bermuara pada target akhir untuk mencapai derajad ketaqwaan kepada Allah SWT, “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqoroh: 21). Apalagi dalam suasana melawan pandemi Covid 19 ini, di mana siswa-siswa belajar di rumah melalui teknologi online atau dalam jaringan, maka pendidikan karakter dapat lebih diintensifkan dalam keluarga melalui ibadah Ramadan, baik untuk mengembangkan nilai-nilai yang sifatnya individu (kesalihan individual) maupun nilai-nilai sosial (kesalihan sosial). Bukankah keluarga merupakan tempat pertama dan utama dalam pendidikan karakter? Semoga. (*)

Prof Dr Sutrisna Wibawa MPd

Rektor dan guru besar filsafat Jawa Universitas Negeri Yogyakarta UNY

BERITA REKOMENDASI