HIKMAH RAMADAN: Ramadan Berkah di Saat Wabah

Editor: Agus Sigit

Ramadan Berkah di Saat Wabah
Oleh: Dr Tulus Musthofa Lc MA
Ketua MUI DIY Bidang Dakwah, SDM, Budaya dan Seni/Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

KATA berkah aslinya dari bahasa Arab barakah

yang secara terminology berarti bertambah dan berkembang. Sedang dalam istilah syariat berarti bertambah keutamaan dan pahala. Pertambahan bisa dalam bentuk materi dan bisa dalam bentuk maknawiyah, yaitu ketika lebih berkembang dan bermanfaat dari yang lain. Dengan demikian, apapun baru bisa dikatakan berkah jika hal itu bertambah kebaikan. Jika sesuatu tidak ada nilai pertambahan kebaikan, maka hal itu berarti tidak barakah

, berkah bisa terjadi pada waktu, tempat, harta maupun perorangan.

Ramadan sebagai bulan barakah

hampir semua orang mengetahuinya, bahkan merasakannya. Rasulullah SAW secara explisit

menyebutkan Ramadan sebagai bulan yang penuh perkah sebagaimana dalam hadits yang artinya : “Telah datang kepada kalian Ramadan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1.000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.” (HR. Ahmad, shahih)

Ramadan kali ini sedikit berbeda dengan sebelumnya, karena umat islam sedang berada pada pandemi covid-19. Ramadan kali ini bisa menjadikan seseorang merasa tidak seindah Ramadan sebelumnya. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar, bahkan bisa jadi justru sebaliknya, karena perasaan orang beribadah sangat tergantung pada suasana keimanan dan suasana hatinya. Bisa jadi justru Ramadan kali ini lebih berkah karena banyak tambahan kebaikan dari berbagai aspek antara lain:

Pertama dari aspek keimanan, Pandemi Covid-19 menyadarkan kita betapa lemahnya umat manusia di hadapan kemahabesaran Allah SWT. Virus Korona merupakan salah satu makhluk Allah yang sangat kecil berdiameter 400-500 mikrometer yang hanya bisa dilihat dengan menggunakan mikroskop berteknologi dan bercahaya tinggi, yakni mikroskop elekron. Namun demikian telah menggoncangkan dunia, semakin seseorang merasa lemah di hadapan Allah SWT akan menjadi energi kuatnya beribadah. Kesombonganlah yang biasanya menjadikan orang enggan tunduk kepadaNYA.

Kedua dari aspek kwalitas puasa, ibadah puasa yang baik diikuti dengan puasa seluruh anggota badan. Hal ini tidaklah mudah, karena puasa harus tetap menjalankan berbagai kegiatan sosial yang mengharuskan berinteraksi dengan semua lapisan masyarakat. Untuk puasa kali ini kita menjalankan physical distancing

yang menuntut kita banyak di rumah sehingga lebih mudah menjaga puasa kita dari kemaksiatan.

Ketiga aspek peribadatan, physical distancing

memberi peluang lebih besar menjalankan berbagai ibadah, baik ibadah ritual seperti menghatamkan Alquran maupun ibadah sosial dengan banyak sedekah, karena physical distancing

juga menghemat anggaran Ramadan yang biasanya digunakan untuk urusan konsumsi maupun hal lain yang merupakan tradisi seperti menyiapkan kue hari raya, termasuk mudik yang sering memakan biaya besar.

Bahkan terhalangnya beribadah di masjid, baik salat berjemaah maupun salat tarawih, telah memberikan peluang besar untuk menjadikan suasana keluarga lebih religius, karena sejatinya cita-cita keluarga Rumahku Surgaku hanya akan terealisir ketika seluruh anggota keluarga taat beribadah. Sekaligus umat Islam membuktikan semangat beribadah di rumah saat pandemi sama dengan semangat ibadah di masjid ketika dalam keadaan normal.
Ada berkah di saat Korona dikatakan sebagai wabah. Kita tetap harus bersyukur, apalagi di saat Idul Fitri, hanya diri kita yang bisa menjawab apakah kita pandai bersyukur atau tidak.

“Ingatlah tatkala ‘Rabb’ kalian menetapkan: jika kalian bersyukur niscaya akan Ku tambah (nikmatku) pada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat pedih”. QS. Ibrahim : 7.

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. QS An-Nahl:18. (*)

 

BERITA REKOMENDASI