Hikmah Ramadhan: Menahan Diri di Tengah Pandemi

Editor: KRjogja/Gus

H. Jazilus Sakhok, M.A., Ph.D.
Wakil Katib Syuriyah PWNU DIY dan Wakil Rektor Bidang Kepesantrenan UNU Yogyakarta

KATA shaum dalam bahasa Arab yang diterjemahkan dengan puasa dalam bahasa Indonesia adalah bermakna “menahan diri”. Dari makna dasar shaum tersebut, bisa disimpulkan bahwa inti dari puasa sebenarnya adalah proses “latihan menahan diri” secara dhohir dan batin supaya tujuan disyariatkannya puasa untuk menjadi bertakwa itu bisa tercapai. Menahan diri, dengan begitu, menjadi nilai utama dari puasa.

Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitab Maraqil Ubudiyah, syarah dari kitab Bidayatul Hidayah karya Imam al-Ghazali, mengungkapkan bahwa kesempurnaan puasa bisa terwujud dengan menahan semua anggota tubuh mulai dari pendengaran, penglihatan, ucapan, tangan, kaki, dan anggota tubuh lainnya dari perbuatan dosa yang dibenci oleh Allah Swt.

Namun tidak hanya menahan diri dalam arti fisik, puasa juga adalah proses menahan diri secara kejiwaan dari sifat-sifat yang merusak hati seperti iri, hasud, dengki, dan sombong, serta sifat-sifat buruk lainnya, sebagaimana telah dikemukakan oleh Rasulullah Saw bahwa betapa banyak orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan balasan apapun kecuali lapar dan dahaga karena tidak bisa mengekang sifat-sifat buruk di dalam dirinya.

Di tengah pandemi Covid-19 dalam bulan Ramadhan tahun ini, menahan diri menjadi sikap dan nilai yang amat kontekstual untuk diterapkan. Anjuran pemerintah untuk melakukan physical distancing di tengah merebaknya virus corona harus difahami tidak hanya sebagai langkah untuk memutus rantai penyebaran virus, akan tetapi juga harus diniatkan sebagai latihan menahan diri kita dari kebutuhan untuk berkumpul dan berinteraksi sosial yang selama ini biasa dan boleh dilakukan.

Oleh karena secara fisik diwajibkan bagi orang yang berpuasa untuk menahan lapar, dahaga, dan anggota tubuh lainnya dari perbuatan yang dibenci oleh Allah, maka sepatutnya juga dalam konteks bulan Ramadhan kali ini, kita mewajibkan diri kita sendiri untuk menahan diri dari perkumpulan dan interaksi yang menyebabkan tersebarnya virus tersebut.

Menahan diri dari berkumpul atau ber-physical distancing di tengah pandemi dan dalam waktu bulan Ramadhan dengan begitu akan mendapatkan dasar argumentasi keagamaannya apabila diniatkan untuk menghindari madlarat (bahaya) yang lebih besar dan mencari keselamatan diri, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Anjuran untuk berinteraksi sosial secara fisik memang diajarkan oleh agama, terutama di bulan yang suci ini, akan tetapi dalam konteks ketika berinteraksi secara fisik justru menimbulkan madlarat dan mengancam jiwa, maka hukum melakukan interaksi sosial secara fisik berubah menjadi dilarang sesuai dengan kaedah “taghayyur al-ahkam bi taghayyur al-azminah wa al-amkinah wa al-ahwal” (perubahan hukum terjadi karena perubahan waktu, tempat, dan situasi).

Solidaritas sosial yang dulu biasa dilakukan dengan berinteraksi secara fisik, dalam waktu, tempat, dan situasi seperti sekarang ini justru harus dilakukan dengan menjauh secara fisik. Jika kita tetap bersikeras melakukan interaksi fisik, bukan solidaritas sosial yang akan kita capai di bulan penuh berkah ini, tetapi berkemungkinan membahayakan diri sendiri dan orang lain dengan menyebarkan virus yang mengancam jiwa. Dan, kewajiban berusaha menyelamatkan dan melindungi diri untuk tetap hidup (hifdz al-nafs) merupakan salah satu dari lima tujuan utama diberlakukannya Syariat Islam (maqashid al-syariah).

Menahan diri untuk mengurangi interaksi secara fisik pada situasi pandemi di bulan Ramadhan bukan berarti mengekang kita untuk melakukan ibadah-ibadah yang bersifat komunal seperti biasa kita lakukan, namun justru kita bisa mendapat pahala ikhtiyar menahan diri guna menyelamatkan diri sendiri dan orang lain, karena inti dan nilai utama puasa sesungguhnya adalah menahan diri itu sendiri. Wallahu alam bi al-shawab. (*)

BERITA REKOMENDASI