Di Belakang Penulis yang Hebat Ada Editor yang Kuat

MINGGU-minggu ini para penulis dibanjiri doa, bahkan dari sesama penulis agar pemerintah tergerak hatinya untuk mengangkat hajat hidup penulis dengan meninjau kembali kebijakan pajak royalti buku. Untunglah kita memiliki Menkeu, Ibu Sri Mulyani, yang berempati setelah dua orang penulis pesohor negeri ini memberikan pernyataan dan komentar soal royalti buku.

Beliau langsung tanggap dan mengundang para penulis untuk bertatap muka, sekaligus berdiskusi. Doa para penulis dan pelaku perbukuan pun menggema bersamaan dengan harapan diperhatikannya keluhan Tere Liye dan paparan Dewi Dee soal pajak royalti.

Di balik doa para penulis, ada juga doa para editor yang sosoknya tidak pernah tersibak dalam gemerlap kesuksesan sebuah buku. Para editor itu mendoakan penulisnya sukses dan sejahtera. Tidak lupa juga mereka mendoakan agar Tuhan menggerakkan hati pemerintah, penulis, dan penerbit untuk juga memperhatikan nasib para editor.

Sang editor selalu ada di belakang layar dan di balik panggung menanti dengan harap-harap cemas penampilan sebuah buku yang mengangkat nama pengarang/penulisnya. Mengapa? Sebab di dalam sebuah buku ada campur tangan kreativitas seorang editor yang memastikan para pembaca nyaman dan senang membaca sebuah buku.

Hanya Tuhan, orang-orang penerbit, dan (mungkin) petugas perpustakaan yang tahu siapa editor di balik sebuah buku. Begitulah nasib seorang editor bahwa di tengah hiruk pikuk kehebatan sebuah buku, kehadirannya luput dari perhatian meskipun ia menjadi tulang punggung suksesnya sebuah buku di penerbit.

Tidak ada pembaca yang betul-betul memperhatikan namanya di halaman keterangan penerbitan (imprint). Bahkan, ada juga penerbit yang enggan mencantumkan nama editornya—mungkin takut kalau bukunya bagus, editornya bakal dibajak penerbit lain. 

Tangan dingin seorang editor kerap mampu melahirkan buku-buku hebat, sekaligus melejitkan penulisnya. Bahkan, editor pun berperan untuk menemukan talenta-talenta penulis andal. Tokoh seperti Sutan Takdir Alisjahbana dan H.B. Jassin adalah para editor andal pada zamannya.

Pada masa setelah itu tersebut beberapa nama editor andal, seperti Pamusuk Eneste, Frans M. Parera, Sofia Mansoor, Mula Harahap, dan Dadi Pakar. Beberapa editor andal juga ada yang telah menduduki posisi puncak di penerbit, sebagai GM ataupun direktur.

Editor dan penulis membentuk simbiosis mutualisma sehingga di antara editor dan penulis kerap terjadi ikatan batin. Ketika hadir dalam REX-Ikapi Editor Forum di Filipina beberapa tahun lalu, saya mengemukakan bahwa seorang editor mestinya membina hubungan khusus (special relationship) dengan penulis.

Sontak editor yang hadir tertawa karena mungkin pikiran mereka melayang pada hubungan spesial yang nyeleneh. Ya mungkin saja editor menjadi pacar atau calon suami/istri si pengarang/penulis—soal ini tidak dimungkiri terjadi juga dalam romantika dunia buku.

Sesungguhnya editor memang harus memiliki kemampuan diplomasi untuk berhadapan dengan penulis, terutama penulis-penulis pesohor dan penulis dari kalangan akademis dengan gelar berderet. Editor harus mampu membawakan dirinya lebih dari sekadar tukang edit kata-kata, tetapi juga sebagai konsultan untuk seorang penulis. Karena itu, ia harus bersiap diri dikontak oleh penulis kapan pun, termasuk bersiap diri menerima “semprotan” penulis karena tidak terima naskahnya diobrak-abrik.

Lalu, bagaimana nasib pendapatan editor? Tidak lebih baik daripada penulis. Editor karyawan mendapatkan gaji dari penerbit dan editor lepas mendapatkan honor dari penerbit/klien dalam hitungan editing per kata dan per halaman. Di Indonesia harga editing per halaman belasan ribu rupiah saja sudah dianggap mahal. Apalagi, jika klien tidak paham bahwa editing itu ada tiga tingkatan, yaitu editing ringan, editing sedang, dan editing berat.

Editing berat berarti editor akan melakukan perubahan struktur tulisan, bahkan menulis ulang. Sering terjadi sebuah naskah buku sudah tidak lagi persis dengan naskah awal karena tangan editor telah bekerja mengubahnya di sana sini menjadi lebih sempurna. Itu sebabnya karya editing adalah karya cipta baru yang juga dilindungi undang-undang. Siapa pemilik hak ciptanya? Tentu saja penerbit yang mempekerjakan editor.

Saya ambil contoh satu kasus sebuah buku yang diterbitkan oleh satu penerbit ditarik hak penerbitannya oleh penulisnya. Artinya, buku itu tidak akan diterbitkan lagi di penerbit tersebut, tetapi akan diterbitkan sendiri atau dipindahkan ke penerbit lain.

Dalam kasus ini, penulis sebagai pemegang hak cipta tidak berhak menggunakan naskah hasil editing penerbit sebelumnya. Ia harus memulai lagi dari naskah awalnya sebelum diedit. Banyak yang tidak mengetahui soal ini karena kerja editing memang seperti tidak terlihat.

Pendeknya, belum ada standar tentang honorarium seorang editor. Mengapa ini dapat terjadi? Jawabnya sederhana karena sebagai profesi, editor tidak memiliki standardisasi dan sertifikasi profesi yang dapat dijadikan acuan. Tidak ada yang dapat menetapkan siapa yang layak disebut sebagai editor.

Beberapa penerbit hanya mensyaratkan jenjang pendidikan tertentu untuk jabatan editor, berikut pengalaman dan pengetahuan tentang penerbitan. Namun, editor yang benar-benar menekuni pendidikan editing atau ilmu penerbitan di Indonesia ini sangatlah langka.

Tahun 1995 saat dilaksanakannya Kongres Perbukuan Nasional I, Frans M. Parera tampil menjadi penyaji makalah dalam kapasitasnya sebagai Ketua Ikatan Penyunting Indonesia (Ikapindo). Itulah asosiasi profesi pertama dan satu-satunya bagi editor Indonesia. Sayang, asosiasi tersebut kemudian surut kiprah dan riwayatnya.

Lalu, tahun 2006, saya menggagas terbentuknya Forum Editor Indonesia (FEI) di Bandung dan dihadiri 80 orang editor dari berbagai kota. Namun, napas saya juga pendek untuk melanjutkannya menjadi organisasi profesi yang legal dan diakui meskipun pada Seminar Editor Malaysia yang diselenggarakan Persatuan Editor Malaysia saya diundang sebagai penggagas FEI.

Saya menjadi pemakalah di Seminar Editor Malaysia tahun 2011. (Foto: Dok. Penulis)

Sejatinya “menyelamatkan” dunia literasi Indonesia bukan hanya menyelamatkan penulis (berikut penghasilannya), melainkan juga menyelamatkan para editor, ilustrator, dan desainer buku sebagai artisan-artisan di balik sukses sebuah buku. Hal ini karena penerbitan buku adalah kerja sebuah tim dan tim itu semestinya mendapatkan perhatian negara untuk dikembangkan dan dibina sehingga buku-buku di Indonesia menjadi bergairah ditingkahi mutu yang optimal.

Di balik pengarang/penulis yang hebat ada editor yang kuat, itu benar adanya, kecuali si pengarang/penulis begitu pe-de mengedit tulisannya sendiri. Editor yang kuat masihlah langka di negeri ini karena mungkin tidak ada orang yang tertarik menjadi sebenar-benar editor. Kerja editor sering dikecilkan hanya berkutat soal bahasa (ejaan dan tata bahasa), padahal ia semestinya lebih super dari itu.

Jadi, apakah Anda mengenal siapa editor novel Tere Liye? Mohon maaf, Bu Sri Mulyani pun pasti tidak tahu.

Baca Juga : 

Buat Apa Sertifikasi Penulis dan Editor?
Air Mata Penulis di Tengah Pesta Buku
“Dunia Terbalik” Tanpa Editing

BERITA REKOMENDASI