Momentum Tinggalkan Hoax

user
danar 25 Mei 2018, 20:50 WIB
untitled

BANYAK isu dalam kehidupan masyarakat kita saat ini, di antaranya adalah hoax atau kabar bohong. Dalam Oxford English dictionary, hoax didefinisikan sebagai malcious deception (kebohongan yang dibuat dengan tujuan jahat). Hoax akan merugikan pihak yang menjadi objek kebohongan atau korban fitnah, yang itu bisa terjadi pada individu, komunitas, bahkan pemerintah.

Fakta saat ini hoax masih terus membanjiri kehidupan kita sehari-hari, dan bersifat masif melalui media sosial. Jika hal ini terus berlanjut maka pada ujungnya akan dapat menimbulkan mutualdistrust atau saling tidak percaya, saling curiga, dan kebencian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Akibat lebih lanjut dapat meretakkan kolektivitas masyarakat dan kesatuan bangsa.

Karena itu kita harus menjadi bagian dari penyelesaian masalah (part of the problem solving) bukan bagian dari masalah (part of the problem) hoax ini. Kita harus ikut mencegah, melawan, dan mengajak masyarakat untuk meninggalkan hoax, bukan mengkonsumsi apalagi memproduksi, mereproduksi, dan ikut menyebarkannya.

Dalam Alquran surat al-Isra': 36 Allah berfirman: "Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya."

Pada surat al-Hujurat: 6 Allah juga berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman, jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecorobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu."

Kedua ayat tersebut mengajak kita untuk berhati-hati dalam mengkonsumsi berita (di era banjir hoax atau fitnah ini). Kita harus teliti atau jangan mudah percaya, apalagi menyebar berita yang kita belum tahu kebenarannya dan pahami dengan baik. Terlebih jika berita itu bersumber dari orang fasik.

Saat ini kita berada dalam bulan Ramadan, momen yang bagus untuk digunakan meninggalkan hoax. Dalam bulan Ramadan ini kita diperintahkan untuk menunaikan ibadah puasa (sebulan penuh) sebagaimana firman Allah dalam  surat Al-Baqarah ayat 185 ".....Maka barangsiapa di antara kamu yang menyaksikan bulan Ramadan itu, berpuasalah......"

Puasa dalam Alquran dan Alhadis disebut dengan kata ash-shiyam atau ash-shaum, yang secara harfiah berarti menahan diri dari sesuatu;  menahan diri dari makan, minum, hubungan seksual dan segala yang membatalkan sejak dari terbit fajar hingga terbenam matahari dengan niat karena Allah. Puasa menumbuhkan kemampuan menahan atau mengendalikan diri dan memperkuat kepribadian. Dengan puasa orang dapat mengendalikan diri dari sikap suka berdusta dan mendorong untuk berkata jujur.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a.: Rasulullah saw. bersabda: "Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak memandang perlu orang itu meninggalkan makan dan minumnya". (HR al-Bukhari).

Maksudnya adalah bahwa seseorang yang melakukan puasa, tetapi masih saja suka berdusta, maka puasa (meninggalkan makanan dan minuman) yang dilakukannya tidaklah ada arti apa-apa di sisi Allah...... (Tuntunan Ramadlan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah).

Semoga puasa bulan Ramadan ini dapat kita jadikan sebagai momen meninggalkan hoax.  Aamiin yra.

(Drs M Safar Nasir M Si, Wakil Rektor 2 Universitas Ahmad Dahlan)

Kredit

Bagikan