Ramadan Membentuk Insan Kamil

user
danar 21 Mei 2018, 16:20 WIB
untitled

KITA, manusia pada hekekatnya diciptakan oleh Allah SWT sebagai makhluk yang paling sempurna di antara makhluk lainnya. Namun pada kenyataannya kehidupan manusia tidak sempurna, banyak kasus yang kurang beruntung, baik secara ekonomik, sosial, kultural, maupun mental. Hal ini tak bisa dilepaskan dari kondisi manusia sendiri sebagai makhuk yang tempat berbuat salah dan lupa, ingat hadits Rasulullah SAW, yaitu "Innal insaana makhalul khaththa' wan nis-yaan.

Apapun kondisi individu itu harus menuju akhir yang sempurna. Sebagaimana yang selalu disampaikan oleh khathib pada setiap khutbah Jumah, "Yaa ayyulladziina aamanu, ittaqullaaha haqqa tuqaatih, walaa tamuutunna illaa wantum muslimuun. Demikian pula Allah SWT setiap tahun sengaja menghadirkan shiyam Ramadan sebagai salah satu ibadah khas. Dengan shiyam Ramadan yang penuh amal-amal sholeh diharapkan sekali mampu berkontribusi dalam pembentukan insan kaamil, manusia dengan kondisi diri yang baik seutuhnya, baik fisik, emosi, sosial maupun mentalnya.

Berkenaan dengan aspek fisik, Ramadan sangat bermanfaat terhadap kesehatan individu. Rasulullah SAW menegaskan, shumuu tasihuu. Dalam berbagai riset, bahwa puasa dapat menjadikan kualitas tidur lebih baik, semangat bekerja meningkat walau lapar, membersihkan segala racun dalam tubuh (kolesterol jahat, lemak jahat, kalori berlebih, dan lain sebagainya), menurunkan risiko penyakit yang berhubungan dengan pembuluh darah, seperti jantung dan lain sebagainya. Singkatnya bahwa puasa bisa memiliki nilai kesehatan baik secara preventif maupun kuratif.

Berkenaan dengan aspek emosi, Ramadan mendidik kita untuk bisa mengendalikan nafsu dan emosi. Rasulullah bersabda "Jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa, maka janganlah berkata-kata kotor, dan jangan pula bertindak bodoh. Jika ada seseorang yang mencelanya atau mengganggunya, hendaklah mengucapkan "sesungguhnya aku sedang berpuasa". (HR. Bukhori). Puasa memang sangat ampuh untuk mengendalikan emosi.

Berkenaan dengan aspek sosial, Ramadan mendorong umat Islam lebih aktif kegiatan berjamaah terutama salat fardhu dan tarawih dan fardlu, mendorong empati terhadap orang berkesulitan dengan memperbanyak shodaqah, infaq dan zakat. Dengan begitu perilaku menjadi lebih terpuji, karena kita akan terjauhkan dari sifat meng-underestimate orang lain dan cenderung bersifat toleran, peduli dan rekonsiliatif yang lebih mengutamakan hidup dalam kebersamaan. Rasulullah SAW bersabda, "Al-jama'atu rahmatun walfurqatu 'adzabun", yang artinya bersatu adalah rahmat dan bercerai berai adalah siksa".

Berkenaan dengan aspek mental, Ramadan memotivasi untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah, dan membersihkan dosa dan kesalahan, sehingga menghasilkan kualitas mental dan diri yang lebih baik. Dengan pelipatan pahala terhadap ibadah sunnah dan wajib dan terbukanya ampunan dari Allah SWT, membuat ummat Islam semakin lebih giat daripada amaliah yang sama di luar Ramadan. Harapannya adalah meningkat taqwanya dan terus terjaga ketaqwaannya dengan kualitas yang lebih baik di masa-masa mendatang. La'allakum tattaquun, di sini sengaja menggunakan kata fiil mudzari, yang menunjukkan sifat yang aktif dalam bertaqwa.

Dengan memperhatikan nilai-nilai Ramadan, semakin jelas bahwa kehadiran Ramadan menjadi kebutuhan kita untuk meng-upgrade iman dan taqwa sehingga kita benar-benar menjadi khaira ummah, menjadi semakin kuat dan tebal iman, semakin meningkat taqwanya yang akhirnya kita dapat mendekati bangunan yang ideal, yaitu menjadi insan kamil. (Prof Dr Rochmat Wahab MPd MA, Anggota Mustasyar PWNU DIY dan Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan UNY)

Kredit

Bagikan