15 Musim Setia Kawal Gawang PSIM, Oni Kurniawan Teringat Teror di Maros

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Bagi pecinta PSIM, nama Oni Kurniawan tentu tidak lagi asing. Oni memegang rekor pemain di era sepakbola profesional yang meneken kontrak terlama bersama PSIM, yakni 15 musim berturut-turut.

Oni pertama kali meneken kontrak profesional bersama PSIM di tahun 2002, menyandang gelar pemain termuda. Kala itu ia dikontrak dengan gaji pertama sebesar Rp 200 ribu.

“Saya main pertama tahun itu, saat pertandingan lawan Persitara di Stadion Tugu. Saya menggantikan Fayid Rayhani di pertengahan pertandingan. Dari situ terus dapat posisi inti, itu pas pelatih kipernya Pak Siswadi Gancis,” ungkap Oni ketika berbincang dengan KRjogja.com, Selasa (16/03/2021).

Setahun berikutnya, yakni pada musim 2003, Oni menjadi pilihan utama di bawah mistar gawang PSIM. Ia pun mengingat kenangan pengalaman luar biasa saat melawat ke markas Persim Maros di Sulawesi Selatan.

“Itu luar biasa teror suporter sejak kami turun pesawat di bandara sudah diteror banyak konvoi dengan motor dibleyer. Sampai di hotel saat duduk di lobi ada segerombolan orang masuk ke hotel. Saat ujicoba lapangan juga kita hanya perwakilan saja, termasuk saya dan Marjono ikut. Saat mau masuk stadion itu kami sudah dilempari telur busuk,” kenang Oni.

Tak berhenti di situ saja, saat pertandingan tim PSIM benar-benar diteror tanpa henti. Kepala Oni pun sudah bocor terkena lemparan batu penonton di awal-awal pertandingan.

“Itu situasinya sudah ngeri sekali, menit awal ada tendangan bebas saat saya mengatur pagar sudah kena lemparan sampai kepala saya bocor, disusul Abda Ali yang juga dilempar. Pasti kalau ada insiden pemain di lapangan, suporter masuk mukuli pemain. Itu sampai Joe Nagbe dan Roberto Kwateh nangis tak mau main. Kami kalah tapi baru bisa keluar stadion jam 9 malam, padahal main sore,” sambung mantan pemain yang lekat dengan nomor punggung 21 ini.

Namun begitu, dua tahun berselang, Oni menjadi saksi hidup PSIM berhasil menjuarai Divisi I setelah di final mengalahkan Persiwa Wamena. Oni pun menjadi salah satu pemain penting dalam pertandingan-pertandingan PSIM musim itu.

“Luar biasa kalau tahun 2005 itu, perjuangan panjang yang akhirnya berakhir bahagia. Mungkin salah satu masa paling membahagiakan bagi saya di PSIM, membawa juara,” sambung ayah dua anak ini.

Oni begitu setia dengan PSIM dengan total 15 musim bersama. Ia sempat hendak pergi ke Persema Malang dan Persiba Bantul, namun akhirnya memutuskan tetap bersama PSIM hingga penghujung karier.

Penjaga gawang asal klub HW Yogyakarta itu sempat ingin memutuskan pensiun pada tahun 2016 lalu. Namun, pelatih kiper saat itu yang juga kompatriot selama bermain, Didik Wisnu memintanya untuk kembali bertahan dan membagi pengalaman bagi junior-juniornya.

“Itu usia saya 36 tahun, pemain paling senior di tim dan ternyata masih bisa ketika diberi kepercayaan main. Saya gabung itu H minus 1 minggu. Lalu musim 2017 juga masih bertahan semusim lagi sampai akhirnya pensiun,” ungkapnya lagi.

Di akhir musim 2017, saat PSIM masih berkandang di Stadion Sultan Agung (SSA), Oni mendapat apresiasi tepat di laga terakhirnya sebagai pemain profesional. Seisi stadion saat itu memberikan ovation pada Oni yang resmi pensiun pada usia 37 tahun di PSIM, tim yang selama 15 musim dibelanya.

“Perpisahan saya akhir musim 2017 sangat luar biasa sekali. Di SSA, saat itu. Penghargaan dari suporter dari manajeman PSIM sangat luar biasa. Menutup 15 tahun karier saya di PSIM dengan sempurna. Saya merasa PSIM itu segalanya, saya bisa kerja sekarang di PDAM juga karena PSIM,” pungkas Oni yang kini juga memiliki akademi privat penjaga gawang ini. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI