Antony Putro Nugroho, Pesepakbola Profesional DIY Pegang Rekor Main di Klub Liga 1 Terbanyak

Editor: Ivan Aditya

BANTUL, KRJOGJA.com – Nama Antony Putro Nugroho bagi pecinta sepakbola tanah air meski tidak lagi asing. Gelandang serang energik dan cepat tersebut sudah melanglang buana ke banyak tim kontestan Liga 1 sejak beberapa tahun terakhir.

Namun, mungkin belum banyak orang di DIY mengenal dekat sosok Antony, yang ternyata adalah pemuda asli Segoroyoso Bantul. Selama berkarier di sepakbola profesional, Antony baru sekali membela tim asal DIY yakni PSS pada musim 2019 lalu.

Sisanya, ia berkarier di tanah rantau, di tim-tim yang terbilang cukup besar dan punya nama. Tercatat tidak kurang tujuh tim sudah ia bela, mulai dari Barito Putra, Arema, PSMS, Kalteng Putra, Bhayangkara FC, PSS dan terakhir Persik Kediri.

Antony hampir selalu menjadi pilihan utama di tim yang dibela. Tak pelak hal tersebut membuatnya mulus berkarier, berpindah dari satu klub ke klub lain setiap musim.

Rekor Antony sendiri paling mungkin dikejar Bagas Adi Nugroho, pemain muda asal DIY yang juga bermain di Liga 1. Bagas tercatat pernah bermain bersama Sriwijaya FC, Bhayangkara FC, Arema dan PSS (saat di Liga 2). Kedua pemain ini baik Antony dan Bagas masih sangat berpeluang menambah perbendaharaan klub profesional yang dibela karena usia yang masih muda.

Beberapa pemain di awal 2000-an seperti M Ansori (Bagong) juga tercatat bermain di beberapa klub profesional yakni PSS, PSIM, Persiba dan Persih Tembilahan. Seto Nurdiyantoro juga demikian yakni PSS, PSIM, Persiba dan Pelita Solo. Pemain-pemain lain asli DIY di era tersebut juga banyak berkutat di antara tiga tim yakni PSS, PSIM dan Persiba.

Antony menceritakan memulai kiprah di dunia sepakbola sejak memperkuat timnas U-13 asuhan pelatih Kas Hartadi. Dari situ, Antony langsung merantau menjalani latihan intensif di akademi Musi Banyuasin.

Antony menjadi langganan timnas kelompok usia hingga menjadi bagian dari tim SAD yang melaksanakan training camp di Uruguay selama tiga tahun (2010-2013). “Jadi memang sudah sejak kecil saya merantau, padahal saya asli orang Segoroyoso Bantul,” ungkapnya tersenyum.

Dari Uruguay, Antony kembali ke Indonesia di tahun ketiga karena cidera. Ia berlabuh ke Samarinda dan bermain untuk Putra Samarinda (sekarang Bali United) di tim U-21 dan senior.

Karier profesional sebenarnya dimulai setahun berselang, saat Barito Putra meminangnya untuk menjadi bagian tim di liga. Dari situ, kariernya terus merangkak naik, mendapatkan menit demi menit bermain.

“Kemarin sempat di PSS, maunya sih menetap karena lama merantau. Tapi ada sesuatu yang tidak cocok, akhirnya harus merantau lagi. Ya di mana rejekinya. Ini baru selesai kontrak dengan Persik karena liga tahun ini batal, pandemi, ya belum tahu musim depan,” sambung pemain 27 tahun ini.

Prestasi Antony di level timnas juga tak bisa dikesampingkan begitu saja. Ia tercatat menjadi bagian dari timnas U-23 pada tahun 2015 lalu yang berlaga di Pra Piala Asia.

“Mau ikut main di Seagames ketika itu tapi batal karena cidera. Tapi dari kelompok usia saya sejak U-13 terus sampai SAD dan terus sampai U-23,” sambung dia.

Perjalanan karier sepakbola Antony sendiri begitu berbeda dari pemain lain asli DIY. Mayoritas pemain asli DIY bisa dibilang sesukses dia saat menjalani karier sepakbola di tanah rantau.

“Menurutku mungkin keberanian mental untuk keluar. Kalau menurutku Jogja punya banyak bakat yang bisa besar tapi ya rata-rata mereka hanya di Jogja saja. Ya itu mental harus berani main di luar, merantau tidak harus di zona nyaman. Harapanku kedepan banyak anak Jogja yang berani keluar,” lanjut penyuka nomor punggung 88 ini.

Antony sendiri selain sebagai pemain sepakbola profesional juga tercatat sebagai anggota kepolisian. Ia diterima masuk sebagai polisi sejak tahun 2017 lalu, tepat sebelum menjadi bagian dari tim juara Liga 1 bersama Bhayangkara FC.

“Almadulillah saya juga diterima di Polri, sejak bersama Bhayangkara FC tahun 2017. Itu saya dari Arema pindah ke Bhayangkara. Sampai sekarang kalau liga off ya saya bertugas juga,” lanjut Antony.

Kini, di tengah ketidakjelasan kapan kompetisi 2021 dimulai, Antony pun mulai menyampaikan harapan agar federasi segera memutuskan kapan liga akan dimulai. Pasalnya, saat ini seluruh pemain di Indonesia merasakan kebingungan menatap masa depan setelah liga 2020 dihentikan dan tim-tim dibubarkan.

“Kalau untuk kedepan sih masih ingin dipanggil timnas senior, mudah-mudahan masih bisa. Namun saat ini harapannya liga bisa jelas kapan dimulai, karena jujur sekarang ini pemain sangat bingung. Mudah-mudahan lekas ada kejelasan,” pungkas dia. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI