Bawa Bayern Juara Liga Champions, Juventus Salah Lepas Coman

LISBON, KRJOGJA.com – Kingsley Coman menjadi pahlawan kemenangan Bayern Munich di pertandingan final Liga Champions 2019-2020 melawan Paris Saint-Germain (PSG). Sebab, gol tunggalnya di menit ke-59 membuat Die Roten menang dengan skor 1-0.

Tidak hanya sekadar mencetak gol, namun dalam pertandingan tersebut Coman juga menampilkan performa yang brilian. Tak ayal, winger berpaspor Prancis itu kini menjadi perbincangan hangat dan digadang-gadang bakal berada di level top dunia.

Sebelum berseragam Bayern, Coman sejatinya adalah pemain kepunyaan Juventus. Pada musim panas 2014, Coman diboyong Juve dari Paris Saint-Germain (PSG) dengan status bebas transfer.

Kendati demikian,Coman hanya bertahan selama semusim di Juve. Dari 22 pertandingan yang dilakoninya bersama La Vecchia Signora, Coman hanya bisa mencetak satu gol dan menyumbang dua assist.

Maka dari itu, pada musim panas 2015, Coman pun dipinjamkan Juve ke Bayern. Kala itu Bayern meminjam Coman selama dua musim langsung dengan harga 7 juta euro. Setelahnya, pada musim panas 2017, Die Roten pun menebus Coman dengan mahar 21 juta euro.

Bersama Bayern, performa Coman pun terus berkembang hingga akhirnya mereka berhasil menjuarai Liga Champions 2019-2020 dan menyabet treble winner. Menanggapi hal ini, mantan pelatih Juve, Fabio Capello, menilai bahwa La Vecchia Signora terlalu terburu-buru dalam melepas Coman.

Menurut Capello, Juve harusnya lebih bersabar. Karena pada saat bergabung dengan Juve, Coman masih berusia 18 tahun. Capello pun menganggap kasus Coman ini sama halnya dengan Juve yang terlalu terburu-buru saat melepas Thierry Henry.

“Coman dianggap cukup baik untuk menjadi starter di final Liga Champions bersama Bayern Munich. Terbukti, Juventus terus mengulangi kesalahan yang sama,” ujar Capello, seperti dilansir dari Football Italia, Senin (24/8/2020).

“Henry tiba sangat muda di Juventus, mereka melepaskannya dan kemudian dia berkembang di Arsenal. Coman mengikuti jalan yang sama sekarang di Munich,” lanjut pelatih berpaspor Italia tersebut.

“Ketika Anda melihat kualitas, Anda harus memiliki kesabaran untuk menunggu. Anda tidak bisa mengharapkan pemain muda untuk segera menjadi protagonis di level tertinggi,” tandasnya.

BERITA REKOMENDASI