BCS Boikot PSS, Rela Tak Nonton di Stadion

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Suporter PSS, Brigata Curva Sud (BCS) menggelar rapat di kawasan Sendangadi Mlati Sleman, Kamis (16/01/2020) malam. Mereka menentukan sikap atas polemik yang terjadi di tubuh PSS, mulai penentuan struktur manajerial dirasa amburadul hingga puncaknya tak dipakainya lagi jasa Seto Nurdiantoro sebagai pelatih.

Kekecewaan tak dipakainya lagi Seto dengan proses negosiasi yang dirasa belum selesai seolah menjadi puncak gunung es. Bagi suporter PSS, Seto layaknya sebuah representasi kekuatan lokal dan ikon yang sepantasnya ada di dalam tim.

Baca juga :

Hengkang dari PSS, Seto Pasikan Bukan soal Harga
Tak Lagi Bersama PSS, Seto Nurdiantoro Legowo

Seto mendapatkan hati mereka semua, bukan hanya pikiran. Seto membawa tim ini juara Liga 2 dan terakhir masuk delapan besar Liga 1 2020, dengan catatan menarik kualitas pemain dan finansial pas-pasan.

Narasi yang terbangun di kalangan suporter, bukan soal uang Seto akhirnya urung dipakai menambah kesal Sleman Fans. Mereka menilai PT PSS sebagai pemilik Super Elja hanya mengejar keuntungan semata dan tak memperhatikan aspirasi puluhan ribu suporter, tentang makna kebanggaan sebuah tim.

Kecintaan pada sosok Seto tampaknya begitu terasa di hati Sleman Fans. Dari unggahan video ungkapan hati Seto usai tak jadi pelatih PSS terlihat bagaimana rasa cinta terbangun.

Unggahan video 2 menit 20 detik mendapat perhatian lebih dari 113 ribu netizen dengan like mencapai 2.328 dan love 3.037 hingga Jumat (17/01/2020) pukul 13.13 WIB. Sebanyak 143 netizen berkomentar dengan hampir semuanya menyampaikan dukungan pada Seto, sisanya menghujat manajemen PSS.

Pertemuan yang menurut informasi dihadiri para senior suporter BCS dan berbagai elemen akhirnya muncullah tuntutan yang tertuang dalam tulisan berjudul ‘Pilih, Mereka Atau Kami yang Mundur’. Tulisan tersebut diunggal melalui akun sosial media BCS.

Dalam tulisan yang dilandasi hasil pertemuan di Sendangadi tersebut, BCS merinci berbagai hal tak baik sejak PSS mempersiapkan diri di awal kompetisi 2019 lalu. Delapan tuntutan turut kembali disampaikan dalam tulisan, seolah ingin diingat untuk dipenuhi.

Mereka juga merinci kegagalan PSS merangkul orang-orang berkompeten yang tertulis seperti Sismantoro (Manajer 2018 saat juara Liga 2), Dewanto (asisten manajer 2018), Retno Suparjiono (manajer awal 2019), Erianto Ableh (operasional tim di 2018), Sigit (Fisioterapis 2018), Viola Kurniawati (CEO sebelum Fatih Chabanto) dan terakhir Seto Nurdiantoro. Mereka kecewa PSS justru diawaki oleh orang-orang yang dirasa tak kompeten seperti Soekeno (Pemegang Saham Mayoritas PSS), Fatih Chabanto (CEO), Teguh (GM PSS), Yohanes Sugianto (Humas PT PSS dan Manajer Akademi 2019), Bejo Listianto Raharjo (pelatih kiper lantaran belum berlisensi) dan Alfonso de la Cruz (pemain belakang yang diperpanjang padahal tak dapat rekomendasi pelatih 2019).

Di akhir tulisan, BCS pun akhirnya menyampaikan ancaman akan memboikot seluruh pertandingan PSS. Langkah berani, lantaran bagi suporter merujuk pada hukuman terberat PSSI adalah paling berat tidak bisa masuk stadion menyaksikan timnya berlaga.

“Tuntutan kami jelas, delapan tuntutan dan deretan nama yang tidak berprestasi. Sekarang tinggal pilih, keluarkan semua yang tidak berkompeten atau kami yang keluar dari tribun selamanya/boikot semua pertandingan PS Sleman?” tulisan yang diunggah tertanggal 15 Januari 2020 ini.

Humas PT PSS, Yohanes Sugianto yang namanya ada di salah satu tuntutan BCS menyatakan pihak PT PSS masih belum berniat menyampaikan pernyataan sikap. “Belum ada perintah berkumpul untuk tentukan sikap, sudah kontak CEO (Fatih Chabanto) tapi belum direspon,” ungkap Yohanes. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI