Cerita Santoso, Cetak Dua Gol Menangkan PSIM di Kandang Persis Tahun 2008

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Selasa, 7 Oktober 2008, PSIM mencatat sejarah menang di Stadion Sriwedari kala melawan tuan rumah Persis Solo. Pertandingan berlangsung seru di lapangan, PSIM menang 2-1 lewat dua gol penyerang, Santoso.

Saat itu, PSIM dan Persis sama-sama berada di Divisi Utama (setara Liga 2 saat ini). Keduanya tak naik ke Indonesia Super League (ISL) edisi pertama karena finish di papan bawah pada kompetisi Divisi Utama tahun 2007.

Santoso, yang kini berkarya di Sukoharjo, menceritakan situasi yang terjadi pada hari Selasa bersejarah itu. Kala itu, PSIM berangkat kompetisi dengan kondisi finansial tak terlalu baik. Transisi dari pengelolaan menggunakan dana APBD menjadi murni swasta membawa pengaruh besar pada klub-klub di Indonesia.

“Saat itu kondisi PSIM memang prihatin karena transisi setelah APBD. Tapi timnya kompak, bareng dengan kondisi yang memang terbatas. Itu pas mau main lawan Persis, kita berangkat hari H pertandingan. Pagi naik bus dari wisma PSIM ke Sriwedari,” kenangnya ketika berbincang dengan KRJOGJA.com.

Kala itu, PSIM yang seluruhnya berisi nama lokal bertolak menjelang siang menggunakan bus dari Wisma PSIM, Baciro menuju Solo. Tim berhenti di restoran rest area di luar Kota Solo untuk mempersiapkan diri, makan, sholat dan langsung menuju Stadion Sriwedari.

“Kita cuma transit saja, makan, sholat dan siap-siap di tempat itu. Memang situasinya prihatin, kita berangkat dari Jogja, langsung main di Sriwedari. Tim pelatih punya pertimbangan sendiri saat itu, ya kita pemain oke,” lanjut Santoso.

Namun, bukan menjadi kekurangan, situasi yang terjadi saat itu ternyata justru menjadi semangat tersendiri bagi skuad PSIM. Di luar dugaan menurut Santoso, skuad PSIM bermain lepas tanpa tekanan dan memenangkan pertandingan.

Pelatih PSIM saat itu, Daniel Roekito diingat Santoso memberikan kepercayaan diri pada seluruh pemain. Meski dalam kondisi pas-pasan namun pelatih memberikan kenyamanan psikologis dan taktik yang membuat pemain tenang meladeni permainan tuan rumah.

Dalam laga itu, tidak main-main karena Santoso berhasil mencetak dua gol kemenangan PSIM pada pertengahan babak pertama dan akhir babak kedua. Ia pun menceritakan bagaimana senyapnya Sriwedari ketika dua golnya bersarang ke gawang kiper Persis saat itu, Wahyu Tri Nugroho.

“Gol pertama, saya rebound bola sundulan M Eksan yang terkena mistar. 1-0 PSIM unggul. Terus Persis membalas gol menit 58, pemain asing yang cetak (Macia Malock). Nah, akhir babak kedua menit 88 kalau tidak keliru, saya lepaskan tendangan voli kaki kanan, umpan dari samping, seingat saya mas Eksan yang kasih. Kita menang 2-1, dan saya dibully suporter se-Solo Raya karena saya cetak dua gol,” kenang Santoso tersenyum.

Usai pertandingan, PSIM langsung bertolak dari Solo ke Yogyakarta menggunakan bus. Beberapa pemain yang notabene asli Solo seperti Bayu Andra, Masyhadi dan Santoso langsung bertolak ke kediaman masing-masing saat itu.

Kenangan pertandingan melawan Persis masih terus diingat sebagai pengalaman bersejarah bagi Santoso. Bagaimana di tengah keprihatinan, PSIM justru memiliki semangat tinggi dan bisa menang di kandang lawan.

“Memang prihatin seingat saya tapi kekeluargaannya terasa. Di awal-awal kita dapat hasil cukup baik, draw lawan Persema yang bertabur bintang lalu menang lawan Persekabpas, dapat poin di Persibo Bojonegoro, menang di Solo. Lumayan meski akhirnya finish tidak di atas juga karena kondisi,” pungkas dia mengenang.

Santoso memang menjadi penyerang andalan PSIM di musim kompetisi 2008 itu. Ia dua musim berseragam PSIM yakni pada 2008 dan 2009 sebelum akhirnya hijrah ke klub lain dan pensiun dari sepakbola profesional. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI