Deretan Sanksi PSIM di Kompetisi 2019, Rp 250 Juta Hingga Larangan Penonton

YOGYA, KRJOGJA.com – Perjalanan PSIM di Liga 2 2019 memang sudah terhenti. Namun, dinamika klub berjuluk Laskar Mataram ini selalu menarik diperbincangkan. 

Selama satu musim, PSIM harus rela menerima sanksi dari Komite Disiplin (Komdis) PSSI. Pertama, dalam laga kontra Persewar Waropen di Stadion Sultan Agung (SSA) 29 Juli 2019, PSIM harus membayar Rp 25,5 juta akibat ulah oknum suporter yang terbukti melakukan pelemparan botol air mineral ke lapangan. 

Sanksi kedua, lagi-lagi PSIM harus membayar denda sebesar Rp 25 juta setelah oknum suporternya terbukti melakukan pelemparan botol air mineral ke dalam lapangan saat melakoni laga melawan Persatu Tuban di Stadion Bumi Wali Tuban 20 Juli 2019.

Tak berhenti di situ, PSIM lagi-lagi harus membayar Rp 100 juta untuk menghapus larangan bermain tanpa penonton akibat kericuhan suporter di Kediri pada 2 September 2019 lalu. 

Terakhir, di laga home kontra Persis Solo yang dibumbui predikat Derbi Mataram, PSIM kembali harus menerima kenyataan denda Rp 100 juta dari Komdis akibat suporternya melakukan pelemparan, masuk ke lapangan, hingga memukul wartawan (photografer). Tak hanya itu, PSIM harus rela dua bulan tanpa penonton di laga Liga 2 tahun 2020 nanti. 
Rentetan sanksi tersebut cukup memprihatinkan bagi PSIM yang sebenarnya sejak awal liga ingin lolos ke kasta tertinggi. Pun, CEO PSIM yang juga pemodal saat ini, Bambang Susanto terasa gamang hendak memulai lagi di kompetisi musim depan karena peristiwa tak mengenakkan di musim lalu. 
Bambang tampaknya menanti komitmen suporter PSIM untuk serius mendukung tim dengan akal sehat dan tak lagi malah menimbulkan kerugian karena kecintaan yang berlebihan.

“Bagi saya lebih penting ke arah kita mau duduk bersama dengan suporter dan semua stakeholder, karena dengan kejadian-kejadian di musim kompetisi 2019, dari Kediri, Tuban, dan Jogja, ya kalau begini terus, ya akan terjadi terus. Terus terang, saya tidak pernah takut gagal dan tidak akan membuat saya menyerah. Tapi kalau sudah terkait kekerasan, itu adalah hal yang paling membuat saya berpikir,” ungkap Bambang pada wartawan beberapa waktu lalu. (Fxh)
 

BERITA REKOMENDASI