Hilangkan Stigma Kekerasan, PSIM Potensial Jadi Klub yang Disegani

MASUKNYA investor di PSIM sempat menimbulkan pertanyaan masyarakat, terutama keberanian menanamkan dananya di PT PSIM Jaya Yogyakarta. Pertanyaan itu muncul, karena selama ini stigma kekerasan yang sering melekat di pendukung PSIM. Belum lagi konflik yang muncul di antar pendukung sendiri. Ter kadang, akibat kekerasan yang muncul menimbulkan sanksi yang pada akhirnya kerugikan klub.

Baca Juga: Penuhi Nazar, Suporter PSIM Ini Pakai Baju Peranakan di Mandala Krida

Bambang Susanto yang namanya meroket di kalangan suporter memberi alasan, keberanian dirinya melakukan investasi di PSIM. Sebetulnya jika di dalami klub kebanggaan warga Yogyakarta dan sekitarnya tersebut memiliki potensial yang luar biasa. Dari sejarah saja, termasuk klub tertua (dulu perserikatan) di Indonesia dan menjadi salah satu pendiri PSSI. Selain itu, menjadi pertama kalinya juara kompetisi yang diputar oleh PSSI di tahun 1932, yakni kompetisi antar perserikatan. Dengan usia yang cukup lama dan menjadi bagian dari sejarah persepakbolaan nasional, maka wajar jika pendukungnya sangat banyak. Tidak hanya berada di Kota Yogyakarta, tetapi menyebar di beberapa tempat bahkan pelosok di  4 kabupaten di DIY. Itu bisa terlihat dari berkibarnya bendera PSIM di beberapa tempat tersebut.

Bambang Susanto. (PSIM Official)

Meski demikian, prestasi PSIM tidak tegak lurus dengan sejarahnya. Sudah  10 tahun lebih berada di kasta kedua kompetisi liga dan belum mampu kembali ke kasta tertinggi. Agar potensi yang ada di PSIM terangkat, salah satunya adalah menghilangkan stigma kekerasan  kekerasan yang melekat pada suporter. Langkah yang telah dilakukan adalah merangkul para suporter dan memberikan penyadaran pentingnya kedamaian, persaudaraan dan kerjasama  untuk membangun sebuah industri sepakbola. Karena sebuah industri bisa terbangun, jika ada rasa kedamaian dan kenyamanan ketika menikmati produk yang dihasilkan, yakni tontotan sepakbola yang menarik. “Ketika menonton sepakbola, bisa membawa keluarga bersama-sama, menikmati pertandingan,” ujar Bambang.

Baca Juga: Aji Santoso Bakal Rekrut Pemain 'Kejutan' di Paruh Musim

Menurut Bambang,  pihaknya tidak hanya melakukan pertemuan dengan para suporter, tetapi juga pendekatan. Sejauh ini,  bisa dilihat  terus membaiknya karakter suporter PSIM dengan lebih damai. Termasuk juga sudah tidak terdengar lagi konflik antara  Brajamusti dan Mataram Independent.

Dirinya tertarik berinvestasi di sepakbola, setelah menyadari sepakbola di Indonesia sudah berubah menjadi industri.  Seperti yang sudah terjadi di Jepang, Korea dan sebelumnya di Inggris dan negara maju dibidang sepakbola. Sekarang klub tidak lagi mengandalkan Pemda atau APBD karena dilarang oleh regulasi.

Sukses yang diperoleh rekannya, Pieter Tanuri yang membangun Bali United menambah yakin keputusannya berinvestasi di PSIM. Tanuri  4 tahun lalu sangat yakin bahwa sepakbola di Indonesia akan menjadi industri, sehingga dia membangun Bali United. Tidak segan, Tanuri mempelajari sepakbola sampai ke Inggris untuk kemudian diterapkan dalam membangun Bali United. Dan saat ini klub tersebut memiliki pendukung yang banyak dan tidak pernah sepi.

Dalam industri sepakbola, dukungan suporter yang kemudian berdampak pada jumlah penonton menjadi salah satu bagian dalam pemasukan di industri sepakbola. Klub masih membutuhkan pemasukan yang lain, yakni dari sponsor dan merchandise.

Baca Juga: Tidak Rata, Lapangan Stadion Mandala Krida Dapat Kritikan

“Investasi di sepakbola membutuhkan waktu cukup panjang. Investasi terbesar saat ini adalah membentuk skuad, yakni para pemain yang mendukung untuk meraih prestasi tertinggi,” ujar Bambang yang yakin bahwa PSIM akan berkembang menjadi klub profesional yang disegani. (Jon)

BERITA REKOMENDASI