Kenangan Jatmiko “Class of 92 PSIM”, Dari Gelandang Jadi Libero hingga Promosi ke Divisi Utama

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA, KRJOGJA.com – Tahun ini PSIM akan menginjak usia 92 tahun. Ternyata ada yang menarik dengan angka 92 bagi tubuh Laskar Mataram yang begitu terkait dengan sejarah menggembirakan di masa lampau.

Tepat pada tahun 1992, PSIM berhasil meraih tiket promosi ke Divisi Utama (kompetisi tertinggi saat itu) sebagai runnerup. Di laga final, PSIM memang kalah dari PS Bengkulu namun tetap berhak atas tiket promosi Divisi Utama yang nantinya ternyata dilebur antara Perserikatan dan Galatama.

Senada memang ketika tahun ini, manajemen di bawah Bambang Susanto berupaya agar PSIM bisa meraih tiket ke Liga 1 musim depan. Jika terjadi, maka sejarah berulang di momentum menarik dengan angka 92.

KRjogja.com berbincang dengan Jatmiko, salah satu member Class of 92, skuad yang berhasil mengantarkan PSIM promosi ke Divisi Utama. Jatmiko menjadi debutan saat itu, diseleksi dari tim anggota PSIM, Sinar Oetara (SO).

Kedatangan pelatih top kala itu, Bertje Matulapelwa membawa angin segar bagi pemain-pemain perkumpulan. Bertje mendobrak kebiasaan lama, di mana sebelumnya skuad PSIM hanya diisi pemain-pemain dari segelintir klub, seperti Gama, HW dan Indonesia Muda.

“Musim 92 itu Om Bertje menyeleksi pemain dari seluruh perkumpulan dan saya jadi salah satu yang masuk tim. Saya dari SO dan bermain sebagai gelandang bertahan,” ungkap Jatmiko.

Menjadi debutan nyatanya tak membuat nyali Jatmiko ciut untuk bermain maksimal, menunjukkan kualitas terbaiknya. Apalagi, musim sebelumnya, Jatmiko tak terpilih masuk PSIM karena gagal lolos seleksi.

Tempaan disiplin pelatih Bertje di lapangan membuat Jatmiko mampu mengembangkan kemampuan terbaiknya kala itu. “Saat itu semua pemain semangat karena Om Bertje melihat pemain dari latihan. Siapa yang bagus di latihan, pasti diberikan kesempatan main,” kenang dia.

Benar saja, melihat data tahun tersebut, pemain-pemain muda bermunculan seperti Widadi Karyadi, Jefri Janes dan Jatmiko. Mereka membaur bersama beberapa pemain senior macam Maryono, Mudiyanto, Sutrisno, Susilo Harso dan Siswadi Gancis.

“Semua memang dari kompetisi lokal, tambahan beberapa senior berpengalaman membuat timnya komplit. Pelatih begitu disiplin di lapangan tapi di luar memberikan kebebasan. Hanya jam 21.00 harus sudah ada di kamar, tetap terpantau,” lanjut Jatmiko tersenyum.

BERITA REKOMENDASI