Menilik Akademi Sepakbola Gratis di Kulonprogo, Ingin Wujudkan Mimpi Anak Muda Bertalenta dari Desa

Menarik, saat akademi lain harus membebankan biaya berlatih sebagai investasi pribadi pemain, Frans justru menggratiskan seluruh biaya. Tidak ada biaya pendaftaran, tidak ada biaya bulanan seperti akademi lain.

 

Sebagai perbandingan, PSS misalnya, membuka registrasi pendaftar akademi dengan mahar pendaftaran Rp 3 juta dan uang bulanan Rp 1 juta. Jumlah yang terhitung cukup besar bagi Kabupaten Sleman, yang Upah Minimum Kabupaten (UMK) tahun 2021 hanya Rp 1.903.500.

 

Kembali ke Jogja Football Academy, Frans rela menggunakan uang pensiunnya dari PLN untuk menggaji tiga pelatih yang seluruhnya juga mantan pemain berpengalaman pada masanya. I Nyoman Arba Wibawa (mantan kiper PSIM), Muammar dan Slamet Sumantri disertakan sebagai pelatih, menggembleng bakat-bakat muda Kulonprogo dengan karakter dan pola pikir sepakbola modern.

 

“Saya benar-benar melihat anak-anak muda Kulonprogo ini luar biasa, tapi mengapa tidak pernah sampai pada masa emasnya. Mereka hilang bahkan setelah selesai Sekolah Sepakbola (usia 15 tahun). Saya coba masuk, ternyata mereka ada kemauan hanya tidak punya sumber daya. Yasudah, saya punya uang pensiun lalu bikin Jogja Football Camp ini,” ungkap Frans ketika berbincang dengan KRjogja.com, Minggu (17/1/2021).

 

Saat ini ada 32 pemain usia muda yang ikut berlatih di Lapangan Sidorejo, Lendah Kulonprogo. Mereka sebelumnya lolos dari tahapan seleksi. Antusiasme perangkat desa Sidorejo dan para pemain yang kemudian membuat Frans bersemangat menjunjung komitmen tidak akan memungut biaya sepeserpun dari mereka.

 

Lapangan desa dirawat oleh warga, kualitasnya cukup baik dan bisa digunakan sebagai sarana latihan rutin para pemain. Jejaring Frans di dunia sepakbola pun memungkinkan adanya jembatan penghubung para pemain dengan klub-klub profesional Indonesia.

 

“Komitmen saya, siapapun yang punya kemauan dan bakat bisa bergabung. Tidak usah pikirkan uang, nanti kami yang usahakan. Kami percaya ada filantropi yang tergerak menyumbang, atau perusahaan yang punya CSR ingin ikut membangun sepakbola bersama kami. Anak-anak biar fokus mengembangkan talentanya. Ya, cuma ini yang bisa saya lakukan. Kemarin sudah ada klub minta pemain, harapannya bakat-bakat ini bisa tersalurkan lebih baik,” tandas Frans.

 

Menarik menantikan keberlanjutan akademi dari Desa Sidorejo Lendah Kulonprogo ini. Apakah hanya seumur jagung, atau berhasil mencetak generasi M Eksan (legenda PSS) baru dari Kabupaten Kulonprogo. (Fxh)

 

 

 

 

BERITA REKOMENDASI