Saat PSS Ingin Contoh Bali United

Editor: Ivan Aditya

BALI, KRJOGJA.com – Bali United dianugerahi penghargaan Most Developing Club Award 2018 dari PSSI tepat saat musim berakhir. Bukan tanpa alasan klub yang bermarkas di Stadion I Wayan Dipta Gianyar Bali tersebut mendapatkan predikat prestisius tersebut dari federasi.

Kemajuan tim yang awalnya mengakuisisi Persisam Putra Samarinda ini tak bisa dianggap enteng. Atmosfer tim dibuat sekondusif mungkin dengan pembinaan usia dini yang baik hingga fasilitas pendukung kehidupan tim lainnya.

Branding tim, pengelolaan stadion, manajemen marketing dan bisnis, hingga pembinaan usia muda terbilang dikerjakan dengan serius salama ini oleh tim berjuluk Serdadu Tridatu ini. Untuk pembinaan usia dini misalnya, Bali United menggandeng Paris Saint Germain (PSG) untuk menata pembibitan pemain muda.

Merchandising pun terbilang sukses di mana tim ini punya store-store resmi yang tersebar du seluruh Bali. Setiap match pun saat ini jadi salah satu tujuan wisatawan untuk menjajal datang merasakan atmosfer pertandingan Irfan Bachdim dan kawan-kawan.

“Untuk store ini kita rintis sejak 2017, dan sekarang sudah semakin berkembang. Berbagai merchandise kita jual di situ, mulai dari jersey original, kaos, topi, mug, hingga botol minuman. Sekarang bahkan jadi daya tarik wisatawan, kalau saat match, pemasukan dari store bisa sampai Rp 50 juta dalam satu hari,” ungkap Sales and Brand Activation Bali United, Raymond Diaz, Sabtu (26/01/2019).

Keberhasilan inilah yang diharapkan bisa menular ke tim promosi baru wakil DIY PSS. Super Elang Jawa terbilang punya potensi untuk mencapai atau bahkan melebihi apa yang diraih Bali United saat ini. PSS punya stadion yang representatif, suporter loyal dan atraktif juga ekosistem Sumber Daya Manusia (SDM) mumpuni.

Sejak dua tahun lalu, PSS sudah melakukan streaming pribadi yang terbilang profesional melalui Elja TV yang menjadi satu-satunya di kasta kedua. Hal tersebut diamini Humas PT PSS Yohanes Sugianto yang menilai plan-plan tersebut telah dipikirkan beberapa waktu terakhir.

Adanya gambaran pengelolaan brand dengan profesional, sewa stadion Maguwoharjo dalam jangka panjang hingga detail membuat kafe di stadion yang juga sebagai lokasi menonton pertandingan akan coba diterapkan di Liga 1. Tujuan akhirnya, tidak lain menjadikan PSS sebagai klub mandiri yang survive secara finansial.

“Karena stadion harus bisa menjadi identitas sebuah klub dan ini sudah direncanakan, lalu diperhitungkan biaya yang dibutuhkan. Ini kan jangka panjang, bisa 10, atau 20 tahun. Bali United salah satu yang sukses jadi ini kemudian modal masukan bagi kami bagaimana pemgambilan kebijakan terkait arah industri yang harus dikelola dengan baik,” tandasnya. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI