Sepakbola Usia Dini Tak Boleh Berhenti di Masa Pandemi

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Sepakbola profesional di Indonesia masih terus terhenti hingga bulan pertama tahun 2021 ini. Pandemi Covid-19, membuat ijin keamanan pertandingan tak dikeluarkan sehingga agenda yang disusun operator liga menjadi buyar.

Namun begitu, muncul pandangan agar pembinaan sepakbola usia dini terus dilakukan dan boleh terhenti di tengah situasi sulit di masa pandemi Covid-19 saat ini. Para pelaku sepakbola di Sekolah Sepakbola (SSB) diminta tidak menyerah, tetap bersemangat melakukan pembinaan dengan berbagai penyesuaian.

“Di masa sebelum pandemi ini terjadi, kita tetap melakukan pembinaan bagi anak-anak yang mempunyai hobi bermain sepakbola. Bermimpi menjadi pemain yang baik. Semangat itu hendaknya tetap terjaga,” terang pengamat sepakbola usia dini Sleman, Ariono pada wartawan, Selasa (12/01/2021).

Ariono yang juga pemilik SSB Bintang Putra Mlati (BPM) Sleman, menyampaikan bawasanya prestasi suatu tim sepakbola sangat tergantung dari kualitas pemain di dalam tim tersebut. Sedangkan pemain yang berkualitas membutuhkan keterampilan atau teknik bermain, kondisi fisik, kemampuan taktik dan mental yang baik.

“Berbagai kemampuan tersebut akan dapat dimulai dari usia muda 7-17 tahun hingga usia senior. Di sinilah peran SSB menjadi krusial, sangat strategis dalam menentukan kemajuan prestasi sepakbola Indonesia, memberikan basic tepat untuk para pemain usia muda,” sambung dia.

Mengelola SSB, menurut Ariono, memang tidaklah ringan terlebih iklim pembinaan usia muda di Indonesia berbeda jauh dengan di Eropa. Di Eropa, klub professional punya kepedulian tinggai terhadap pengembangan sepakbola usia dini dibantu dengan kebijakan pemerintah yang mendukung.

“Tidak heran, jika beberapa pemain sudah mendapatkan kontrak profesional agar bakat istimewanya dapat dikembangkan secara optimal. Sayangnya di Indonesia pembinaan pemain dini masih banyak dilakukan oleh pihak swasta dan swadaya masyarakat yang peduli pada pengembangan sepakbola usia dini. Perhatian PSSI baik di tingkat pusat, provinsi atau kabupaten masih dapat dikatakan belum optimal. Bisa dikatakan induk organisasi sepakbola Indonesia itu masih minim perhatiannya pada kompetisi usia dini,” ungkapnya lagi.

Pekerjaan rumah pembinaan sepakbola usia dini menurut pandangan Ariono, juga terlihat dari kurikulum, kualitas pelatih juga sarana prasarana latihan. Saat ini belum ada standarisasi atau syarat-syarat yang harus dipenuhi secara khusus untuk membuat SSB.

“Jadi, SSB ini mudah didirikan, tapi juga mudah bubar di tengah jalan. Di Sleman sendiri, ada 20 SSB yang masih aktif dan terus melakukan pembinaan usia dini. Meski sempat terhenti, kini para pemain usia dini sudah berlatih kembali sejak Oktober 2020 lalu,” ungkapnya lagi.

Menjaga semangat para pemain usia dini untuk tertap berlatih kini menjadi tantangan tersendiri bagi manajemen SSB. Sepakbola menjadi sarana untuk tetap menjaga imun anak-anak dan ternyata mendapatkan dukungan dari orangtua siswa, yang dengan setia tetap mendampingi para siswa berlatih. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI