Timnas U-19 Libas Singapura 4-0

Editor: Ivan Aditya

SIDOARJO, KRJOGJA.comTimnas Indonesia U-19 berhasil menang telak atas Singapura dalam penyisihan Grup A Piala AFF yang digelar di Stadion Delta Sidoarjo, Selasa (03/07/2018) malam. Empat gol disarangkan tim besutan Indra Sjafri tanpa balas ke gawang Singapura. Dengan hasil ini Timnas memuncaki klasemen Grup A dengan skor 6, menggeser Filipina yang dalam pertandingan sebelumnya dikalahkan Vietnam 5-0.

Dominasi permainan Indonesia sudah terlihat sejak peluit dibunyikan. Terbukti banyaknya serangan yang dilancarkan Indonesia hingga membuat Singapura bermain defensif.

Baca juga :

Piala AFF U-19, Vietnam Hancurkan Filipina

Timnas U-19 Beri Pelajaran Persiba

Terbang ke Sidoarjo, Timnas U-19 Tunggu Egy 'Messi'

Pada 10 menit pertama, penyerangan Indonesia monton berasal dari sisi kanan yang dikomandoi oleh Saddil Ramdani. Salah satu peluang emas Saddil menit ke 6 coba beri ancaman ke gawang Singapura. Namun sayang tendangannya belum menemui target.

Baru di menit 21, M Rafli menjadi aktor yang rubah kedudukan. Sundulannya berhasil merobek jala Nurshafiq Zaini, skor sementara menjadi 1-0.

Syarahil coba berikan ancaman lewat tendangannya di menit 25, tapi bola masih tipis diluar tiang kanan Nurshafiq. Tak mau terus ditekan Singapura coba lancarkan serangan, beruntung Riyadin masih bisa amankan sarangnya dari tekanan lawan.

Samuel Christianson berupaya gandakan keunggulan Indonesia pada menit 33. Kali ini, Nurshafiq lebih sigap amankan gawangnya.

Singapura memiliki kans untuk samakan kedudukan lewat Timothy David, tapi laju bola masih melebar dari gawang Indonesia. Skor 1-0 untuk Timnas menutup paruh pertama babak sebelum  wasit meniup peluitnya.

Baru semenit berjalan pada babak kedua Garuda Nusantara langsung tancap gas, tapi sepakannya masih terkena badan Nurshafiq dan gagal menjadi gol. Indonesia sama sekali tak kendurkan serangan, membombardir pertahanan Singapura tanpa ampun.

Rafli menjadi pahlawan Indonesia setelah kembali catatkan namanya di papan skor pada menit 63. Garuda Nusantara unggul 2-0 atas Singapura.

Sang juru taktik asal Persela Lamongan, Saddil berikan gol ketiga Indonesia lewat tendangan kerasnya di menit 71 sehingga papan skor berubah 3-0. Lagi-lagi Nurshafiq harus pungut bola dari gawangnya setelah Todd Rivaldo jebol jala Singapura untuk keempat kalinya  tepatnya di menit 82.

Timnas tak mampu menambah gol pada siswa waktu, sehingga skor berakhir 4-0 untuk kemenangan Tim Garuda Muda. Pelatih Indra Sjafri mengaku puas dengan penampilan anak asuhnya, dan optimis akan mendulang kemenangan berikutnya. (Mutiara Kurnia)

 

Pada pertandingan itu Spanyol tampil sangat dominan (penguasaan bola 75 persen berbanding 25 persen milik Rusia) dengan aliran bola dari kaki ke kaki antarpemain, dari sisi kiri ke kanan, depan-belakang, dan sebaliknya, mengurung pertahanan Rusia mencari celah untuk menyerang; sebuah gambaran umum soal gaya Tiki-taka.

Lihat juga: Generasi Emas Belgia Ditantang Samurai Jepang
Dengan gaya itu Spanyol menjadi juara pada Piala Dunia 2010, serta juara Euro 2008 dan 2012. Dengan gaya yang sama, La Furia Roja hancur di Piala Dunia 2014, Euro 2016, dan Piala Dunia 2018.

"Semua hal berubah," ujar Hierro, dikutip dari ESPN. "Tren berubah," imbuhnya.

Dalam laga itu, berdasarkan situs FIFA, Spanyol membukukan catatan 1.137 operan dengan 1.031 di antaranya merupakan umpan tepat sasaran. Jumlah itu merupakan yang terbanyak sejak 1966.

Sementara, Rusia membuat 1.029 operan dalam empat pertandingan. Pada laga melawan Spanyol, tim berjuluk Sbornaya itu hanya mencatatkan 285 operan dan 202 umpan akurat.

Pelatih timnas Rusia Stanislav Cherchesov menggunakan lima bek dengan formasi 5-3-2. Penggunaan formasi lima bek ini merupakan yang pertama di Piala Dunia 2018. Dia belajar dari dua kekalahan atas Spanyol Euro 2008, 4-1 dan 3-0.

"Mereka lebih baik dari kami dalam banyak hal," aku dia. "Kami pun tak percaya harus mengambil risiko dengan menyerang," tambah dia.

Dengan formasi itu, Rusia berhasil membuat Spanyol hanya berputar-putar memainkan bola di sekeliling pertahanannya tanpa mampu benar-benar menembus pertahanan dengan kreativitas tiki taka.

Formasi lima bek dan pertahanan rapat berbasis area ini mengingatkan kepada pilihan yang diambil manajer Chelsea Roberto Di Matteo saat mematikan Barcelona-nya Pep Guardiola di Liga Champions 2011/2012.

Ya, Tiki-taka tak bisa dilepaskan dari Barcelona yang setia memainkan gaya yang disebut sebagai evolusi dari total football Belanda itu. Blaugrana pun menjadi pemasok dominan skuat timnas Spanyol di era jayanya.

View image on TwitterView image on Twitter

FIFA World Cup 🏆
✔
@FIFAWorldCup
 #ESPRUS // FORMATIONS

How would you have lined them up for this game?

8:24 PM – Jul 1, 2018
2,413
1,485 people are talking about this
Twitter Ads info and privacy

Stok Pemain

Persoalan ketersediaan pemain yang mendukung Tiki-taka berjalan lancar pun masalah pertama Spanyol untuk kembali berjaya. Sebab, gaya ini menuntut pemain yang kreatif dan memiliki akurasi umpan tinggi serta penyelesaian akhir yang mematikan.

"Sekarang 2018, dan banyak hal berubah. Saat ini kita melihat mereka memainkan lima pemain bertahan sejajar yang kami pikir sudah dilupakan," lanjutnya.

 

 

Mentalitas Pemain

Persoalan kedua adalah soal mentalitas. Menurut Xabi Alonso, kegagalan pada 2014 disebabkan oleh hilangnya rasa haus gelar juara karena sudah meraih segalanya.

Eks pemain timnas Spanyol dan Barcelona  Xavi Hernandez.Eks pemain timnas Spanyol dan Barcelona Xavi Hernandez. (REUTERS/Gustau Nacarino)
Sementara, pada 2018 ada masalah pemecatan pelatih timnas Julen Lopetegui dua hari menjelang Piala Dunia. Meski Hierro menyebut tak ada massalah, skuat menampilkan sebaliknya. Terutama, kiper terbaik Liga Primer Inggris David De Gea yang tampil jauh di bawah standarnya.

Dengan komposisi pemain, terutama gelandang, yang belum punya pemain atau duet setara Iniesta-Xavi, serta mentalitas masihkan Spanyol bertekad memainkan gayanya yang kerap dinilai membosankan itu?

"Yang penting adalah mencari jalan untuk sukses, dan ini tak mudah," ujar Hierro. "Ini lebih sulit dari kelihatannya. Timnas akan terus maju karena masih memiliki pemain-pemain berkualitas dan itulah yang harus mereka coba," imbuhnya.

"Kami memiliki identitas sendiri. Identitas Spanyol bisa dikenali. Kami punya kepribadian, dan ini hal yang baik," tandas eks pemain belakang Real Madrid itu.

(bac)

 

BERITA REKOMENDASI