Net

Ketum PBSI DIY: Kenapa Baru Sekarang Dipersoalkan

YOGYA, KRJOGJA.com – Ketua umum Pengda Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) DIY Drs Suhartono  MM menjelaskan,  soal  audisi bulutangkis  yang diselenggarakan PB Djarum Kudus  sebenarnya sudah berlangsung bertahun-tahun, kenapa baru sekarang  dipersoalkan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). 

Baca Juga: Club Bulutangkis dan Orang Tua Datangi Panitia Audisi Bulutangkis

“Penyelenggaraan  audisi siswa PB Djarum  bukan digelar satu-dua hari ini saja. Tapi diadakan sudah bertahun- tahun. Saya kira apa yang dilakukan Djarum Foundation  lebih bersifat  penjaringan atlet  bukan  mengekploitasi  anak seperti yang dituduhkan KPAI. Saya  kira KPAI  harus berfikir bijak  dan memilah dampak negatifnya  dan mana yang tidak demi masa depan prestasi olahraga bulutangkis  Indonesia,” ujarnya.

Menurut Suhartono,  polemik yang terjadi antara PB Djarum dan pandangan KPAI tentang logo yang dikenakan  para siwa di kaos  yang mengikuti audisi.  “Saya kira polemik ini tidak akan terjadi , jika KPAI bisa memilah  mana sisi negatifnya mana yang tidak. Selama  ini logo Djarum Foundation  yang ada pada kaos peserta audisi tidak ada gambar rokoknya. Karena itu, solusinya  alangkah baiknya antara  KPAI dan PB Djarum duduk bersama untuk mencari jalan ke luarnya , sehingga dapat dipilah-pilah  dampak negatifnya dan mana yang tidak,” tegasnya.

Sementara  itu, dua pelatih klub bulutangkis terbesar di Pengkab PBSI Sleman  yaitu Dian Agung Pambudi  (klub Jaya Raya Satria) dan Herlambang (klub Pancing Sembada Sleman)  juga ikut angkat bicara. “Saya kira apa yang dilakukan PB Djarum  bukan mengkomersilkan  anak, tapi yang mereka cari itu adalah bakat  si anak,” ujar  Dian Agung, yang beberapa tahun lalu juga pernah ikut audisi beasiswa  bulutangkis yang digelar Djarum Foundation.

Dijelaskan, masalah logo djarum yang terdapat di kaos peserta audisi, tidak ada gambar atau lambang rokoknya.  Kalau logo yang terpampang di kaos peserta  Djarum beasiswa bulutangkis sejak 1969 lalu khusus logo djarum foundation dengan gambar cock. “Jadi saya kira KPAI salah sasaran, tidak bisa membedakan antara logo Djarum Foundation (gambar cock) dengan Logo rokok djarum yang ada  lambang tembakaunya,” jelasnya.

Baca Juga: Sekolah di Yogya, Palajar Asal Papua Ini Ceritakan Pengalamannya

Sedangkan Herlambang menambahkan, dengan adanya polemik ini sangat disayangkan jika tahun depan audisi beasiswa bulutangkis yang diselenggarakan PB Djarum dihentikan. 

“Audisi beasiswa bulutangkis yang digelar Djarum adalah wadah untuk mencari  bakat atlet usia dini sebelum mereka melangkah ke jenjang usia berikutnya. Saya tidak setuju kalau audisi dituduh mengeksploitasi anak, karena mereka datang dengan kemauan sendiri  untuk meraih cita-cita jadi pebulutangkis kelas dunia. Bisa-bisa  Djarum Multi cabang yang digelar di DIY kena imbas eksploitasi anak juga,” ungkap Herlambang.(Rar)

BERITA REKOMENDASI