Net

PB Ancuku 10 Tahun, Dari Olahraga Rekreasi Menuju ke Prestasi

YOGYA (KRJogja.Com) – Ulang tahun ke-10 Persatuan Bulutangkis (PB) Ancuku Yogya, digelar Minggu (11/10) di GOR Ancuku. Ulang tahu ke-10 sebenarnya tepat pada Sabtu (10/10), tetapi syukuran dilakukan sehari sesudahnya dengan pertimbangan bertepatan digelarnya pertandingan eksebisi antaranggota.
Syukuran dipimpin Irjen Pol (Purn) Drs Haka Astana Mantika Widya SH, dihadiri pengurus dan anggota PB Ancuku. Syukuran sederhana 10 tahun PB Ancuku terasa istimewa, lantaran pada Sabtu (10/10) lahir cucu ke-10 keluarga Haka Astana. Sebelum dilakukan syukuran berupa tumpengan, dilakukan pertandingan eksebisi antarpemain, dengan kategori umum dan khusus anggota polisi. Hal tersebut tidak lepas, bahwa anggota PB Ancuku terdiri purnawirawan polisi, polisi aktif, dan masyarakat umum.

Pada pertandingan antara pasangan Ipda Yoyok Rachmanto/Ipda Nanang melawan Iptu Kusnaryanto/Iptu Annas MZ, berakhir dengan kemenangan pasangan Ipda Yoyok Rachmanto/Ipda Nanang, skore 30-27.

Haka Astana menyampaikan memasuki usia 10 tahun, bisa dikatakan sebenarnya PB Ancuku tergolong masih ‘muda’ dalam kancah perbulutangkisan daerah maupun nasional. Didirikan dengan tujuan untuk ngumpulke balung pisah

, pada akhirnya PB Ancuku harus juga memikirkan masalah prestasi. Karenanya, selain bermaterikan pemain-pemain yang masih aktif dinas di kepolisian, PB Ancuku juga memberi kesempatan kepada masyarakat luas untuk turut bergabung.
“Bermain bulutangkis yang semula sebatas sebagai olahraga rekreasi, kini mulai bergeser menjadi olahraga prestasi,” tandas Haka Astana.

Haka Astana menyebut nama Ferdiansyah, Andi, Iwan, dan Hengky sebagai pemain muda potensial yang siap berlaga di evet daerah maupun nasional. Sementara itu, nama-nama Iptu Kusnaryanto, Iptu Deny Ismail, Iptu Ryan Handono, Iptu Annas MZ, Ipda Yoyak Rachmanto, Ipda Nanag, dan Ipda Agung Untoro, merupakan pemain-pemain yang selama ini menjadi langganan juara di kalangan bulutangkis kepolisian, baik di jajaran Polda DIY maupun nasional.

Satu hal lagi yang menjadi kebanggaan PB Ancuku, salah satu pemainnya, Handa kini menjadi pelatih di salah satu klub di India. Tentu hal tersebut menjadi motivasi pemain yang lain untuk menyusul berprestasi. Selain itu, ada nama Aribowo yang membina pemain-pemain muda (kategori usia kelas SD dan SMP) sebagai wadah penggalian bibit-bibit potensial. Bagi PB Ancukui, regenerasi pemain harus dilakukan demi terjaganya kesinambungun prestasi. “PB Ancuku masih membuka kesempatan untuk para pemain bulutangkis bergabung,” tandas Haka Astana.

Haka Astana menyampaikan untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dari negara lain di kancah bukutangkis dunia, masalah regenerasi pemain harus diperhatikan serius. Semua pihak yang berkompeten, mulai dari pengurus PBSI tingkat pusat hingga daerah tidak boleh mengabaikan masalah regenerasi. Bibit-bibit muda yang cukup potensial harus diperhatikan dan diberi kesempatan berlaga di tingkat nasional dan internasional. (Hrd)

BERITA REKOMENDASI