Selain Sepakbola, Ada 10 Insiden Tragis dalam Dunia Olahraga

user
Tomi Sujatmiko 02 Oktober 2022, 12:08 WIB
untitled

Krjogja.com - MALANG - Tragedi Kanjuruhan menjadi trending topik di Twitter. Dalam utasnya, netizen banyak menyampaikan belasungkawa terhadap para korban. Tak sedikit pula yang menyuarakan bahwa peristiwa itu tak seharusnya terjadi.

"Tak ada sepak bola seharga nyawa," demikian utas sejumlah netizen dalam gambar pada Minggu (2/10/2022).

Selain tragedi Kanjuruhan Malang, tercatat ada sejumlah insiden tragis lainnya. Dikutip dari laman sportsbrowser, berikut 10 insiden tersebut;

10. Kerusuhan Nika (532 M)

Di urutan 10 dari 10 kerusuhan olahraga paling tragis dalam sejarah adalah Nika. Ini adalah kerusuhan olahraga tertua yang tercatat. Ketika Kaisar Justinian I memerintah Roma kuno saat itu, tidak ada saluran yang tepat untuk keluhan warga.

Jadi, selama acara olahraga kompetitif tertentu, keadaan sering menjadi sangat tegang. Kerusuhan Nika mulai terbentuk selama balap kereta di Konstantinopel. Hari itu orang-orang mulai meneriakkan tuntutan politik selama perlombaan.

Pada tanggal 13 Januari 532, massa yang marah datang ke Hipodrom Konstantinopel untuk menghadiri acara balap lainnya. Tensi meningkat dengan cepat. Awalnya, Justinian ingin melarikan diri, tetapi segera dia berhasil mengendalikan massa. Secara keseluruhan 30.000 orang tewas, bangunan dibakar dan dihancurkan, dan semua ini terjadi selama seminggu.

9. Kerusuhan Akibat Richard (1955)

Maurice Richard adalah pemain hoki yang dianggap tampan. Dia bermain untuk Montreal Canadians dari National Hockey League.

Selama musim NHL 1954-55, ia memukul hakim garis dan diskors. Hal ini menyebabkan orang kehilangan akal yang merasa hukumannya terlalu keras dan durasinya terlalu lama.

Pada 17 Maret 1955, pertandingan pertama Kanada setelah penangguhan Richard ditetapkan di Forum Montreal. Kehadiran Richard di pertandingan itu sangat mengejutkan, dan kemudian terjadi kerusuhan. Ketegangan mereda hanya setelah Richard memohon dan meyakinkan para perusuh untuk kembali. Diperkirakan kerusakan properti senilai US$ 100.000.

8. Bencana di Estadio (1964)
Dikenal sebagai kerusuhan sepak bola Lima, insiden ini terjadi selama pertandingan antara Peru dan Argentina.

Momen itu adalah babak kualifikasi yang sangat signifikan untuk turnamen sepak bola. Insiden ini juga menarik sekitar 53.000 orang. Argentina memimpin, dan enam menit sebelum peluit, Peru gagal menyamakan kedudukan. Hal ini memicu penggemar Peru melakukan kerusuhan dan kekerasan. Kala itu mereka dianggap sebagai penggemar olahraga paling kejam.

Penggemar yang marah menyerbu lapangan dan mulai merusak fasilitas. Polisi menggunakan gas air mata, dan orang-orang mulai panik. Semua orang bergegas menuju gerbang, dan sejumlah orang tergencet di tangga hingga ke permukaan jalan. Secara resmi 328 orang tewas dalam kerusuhan tersebut.

7. Tim Rugbi Afrika Selatan di Australia (1971)
Ketika Springboks, tim persatuan rugby nasional Afrika Selatan, pergi ke Australia dalam tur persatuan rugby enam minggu, hal ini lantas memicu protes anti-apartheid massal di seluruh negeri. Salah satu kerusuhan terbesar yang pernah ada.

Pertandingan pertama diganggu oleh banyak pengunjuk rasa. Dan pada saat pertandingan ketiga akan berlangsung, 5.000 pengunjuk rasa berkumpul di jalan-jalan Melbourne.

Mereka kebanyakan adalah mahasiswa universitas. Sebelum pertandingan dimulai, para perusuh berusaha melihat ke bawah tiang gawang. 650 polisi, beberapa di atas kuda bersenjatakan pentungan, tiba di tempat kejadian. Kemudian keadaan darurat selama sebulan diumumkan di Queensland. Sekitar 700 orang ditangkap.

HALAMAN

Kredit

Bagikan