Rezha Arzhan Padukan Teknik dan Intelegensi

user
Danar W 03 November 2022, 16:10 WIB
untitled

Krjogja.com - SELEPAS menjadi pemain, kemudian beralih sebagai pelatih merupakan hal yang lumrah dalam dunia olahraga. Selaim untuk menghindari keterputusan hobi, peralihan dari pemain menjadi pelatih juga bertujuan untuk menularkan ilmu yang dimiliki. Hal itulah yang dilakukan Rezha Arzhan Hidayat (27), mantan pebulutangkis nasional yang saat ini menggeluti dunia kepelatihan. Berbekal pengalaman di sejumlah pertandingan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, Rezha tak mengalami kesulitan ketika menularkan ilmu tepok bulu.

Semasa menjadi pemain, Rezha pernah mengikuti Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (Pomnas), Kejuaraan AntarMahasiwa Asean, dan sejumlah kejuaraan internasional. Capaian sebagai pelatih, mengantar anak didiknya menjadi juara di Qatar Open 2020 dan juara 1 di ajang Indonesia International Chalange 2022. Di tengah kesibukannya sebagai pelatih bulutangkis, Rezha juga aktif mengajar di sekolah dan tahun 2022 berkesempatan menjadi Pengajar Praktisi Ahli (Paruh Waktu) di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

"Saat ini saya juga tercatatsebagai salah satu mahasiswa S3 yang sedang menyelesaikan disertasi di Prodi Ilmu Keolahragaan Fakultas Ilmu Keolahragaan UNY," jelas Rezha, Rabu (02/11/2022).

Rezha menyampaikan kesibukan bukan alasan bagi seseorang untuk tidak menuntut ilmu. Baginya, menuntut ilmu setinggi-tingginya wajib hukumnya. Bahkan berkenal ilmu yang didapatkan di bangku kuliah, seorang pemain bulutangkis akan bisa mengembangkan kepiawaiannya saat bermain.

"Pebulutangkis yang dibekali dengan kecerdasaran akan mampu mengembangkan permainan ketika berada di tengan lapangan," ujarnya. Rezha menambahkan, teknik bermain yang dimiliki seorang pebulutangkis akan berkembang manakala intelegensi yang dimiliki tergolong tinggi. "Hal itu bisa kita lihat pada sebagian besar pebulutangkis asal Eropa," jelasnya.

Rezha menyayangkan banyak atlet yang saat ini menomorduakan jenjang pendidikan formal di sekolah, lantaran berkeyakinan olehraga akan bisa sepenuhnya menanggung kehidupan. Padahal, sudah banyak contoh tidak sedikit olahragawan yang kehidupan di masa tuanya (selepas tidak aktif lagi sebagai atlet) sangat memprihatinkan. Karena itulah. Rezha mewanti-wanti pada atlet muda, terutama di cabang olahraga bulutangkis agar tidak meninggalkan jalur pendidikan formal. Agar terjadi keseimbangan, idealnya seorang pebulutangkis juga harus berprestasi di bidang pendidikan formal.

Suami dari Monika Insany (mantan pebulutangkis yang sempat menghuni Pelatnas Cipayung) saat ini dikaruniai satu putra, Alkhalifi Zikri Hidayat, kini fokus melatih para penulitangkis yang bergabung di PB NPC DIY, KKO Dindikpora Kota Yogya, PB Musagta, dan PB Griya Bugar. Bersama pelatih Aji Basuki, Rezha juga membuka profesional coach untuk even-even tertentu. Selain fokus menangani pemain-pemain muda, Rezha juga berusaha menyelesaikan studi di UNY. Baginya, sibuk melatih tidak harus menjadikan pendidikan formalnya tertinggal.

Bagi Rezha apabila seorang pebulutangkis mampu memadukan teknik bermain dengan intelegensi maka yang bersangkutan akan mampu menyongsong kesuksesan. Karena pada hakikatnya, kesuksesan merupakan pertemuan antara persiapan dengan kesempatan. "Kesempatan hanya datang sekali, selebihnya akan sulit diraih kembali jika kesempatan itu sudah telanjur lepas," ujar Rezha. Terkaiy hal itu, Rezha selalu menenkankan kedisplinan pada pebulutangkis muda binaannya. Begitu latihan dimulai, tidak ada yang boleh guyon, semua harus serius.

Satu hal lagi yang selalu ditanamkan Rezha kepada binaannya, yakni masalah sportivitas. Menurut Rezha, sportivitas merupakan ruh dalam dunia olahraga. Apapun hasil yang dicapai, tentu tidak boleh mengabaikan sportivitas. Kemenangan yang dicapai seorang atlet, jika didapatkan dengan mengabaikan sportivitas, maka kemenangan itu sesungguhnya tidak ada artinya. "Kemenangan dalam olahraga merupakan hasil, bukan target!" tandas pelatih yang saat ini tinggal di Jatimulyo, Yogya. (Haryadi)

Kredit

Bagikan